25_Rasa Yang Tersimpan

5K 466 224
                                        

Part kemarin memang pendek jadi saya maklum kalau komen di bawah 100. Karena ini 3100+ kata, saya berharap apresiasi yang sepadan. Abaikan typo, Play Mulmed Hanya Untukku milik Chrisye.

..

Jakarta, November 2017

Senyum Alisa tidak juga surut ketika menyaksikan Savana hampir menyelesaikan souvenir pesanannya yang akan dibagikan kepada para tamu undangan untuk resepsi di Jakarta. Firman katanya sibuk sekali, makanya Alisa memutuskan untuk menginap di rumah sang sahabat.

"Kalau sama yang ini udah berapa yang jadi, Va?" tunjuk Alisa pada tumpukan dus yang berisi suvenir pesanannya.

"Tiga ratus tujuh puluh dua apa ya?" Savana tampak berpikir, dilihatnya sekeliling ruangan khusus ia bekerja, ada tiga dus besar yang berisi peralatan manikur pedikur mini disertai kertas dengan nama Alisa dan Firman.

"Kurang dua puluh delapan lagi ya?" Alisa ikut menengok isi dus, "gak dibonusin?"

"Ntar gampang," Savana menyentil ujung hidung Alisa. "Lo tuh ya kalau sama temen maunya bonusan mulu."

Alisa tertawa, dipeluknya bahu sang sahabat. "Iyaa, tapi kan gue ikut promosiin karya lo, Va."

"Iya deh, iya."

Alisa mengecup pipi Savana yang sedang dalam masa pencarian jodoh yang tepat. Katanya ada yang mau seriusin tapi belum ada kabar lagi. Alisa sampai kasih acungan jempol karena niat ta'aruf Savana yang sama sekali tidak pernah terbersit di dalam pikirannya.

"Mas yang kemarin gimana, Va?"

"Mas yang mana?" Savana melepas pelukan Alisa, mereka saling berpandang.

"Mas dokterlah, emang ada yang lain?"

"Oh itu," Savana membetulkan gamis yang dikenakan, ia menarik kursi untuk mengepak barang-barang calon seuvenir milik Alisa.

"Itu gimana?"

"Gak kenapa-kenapa," Savana menggeleng.

"Loh katanya udah oke?"

Savana mengedikkan bahu, wajahnya dialihkan pada tumpukan alat potong kuku, "dia belum datang lagi."

"Tapi orang tua udah setuju kan?" Alisa mengambil posisi di sisi Savana, "gue bakalan seneng banget kalau emang jadi, bayangin gue sama lo nanti hamil bareng, seru tuh."

Savana mengulum senyum, sungguh dia berada dalam taraf menunggu kali ini. Dokter Dio belum berkunjung lagi, katanya kalau memang jadi mungkin akan membicarakan khitbah. Tapi sekali lagi, Savana tidak berani terlalu berharap, kalau ternyata tidak sesuai nanti jatuhnya kecewa.

"Lo gak pengen pake cincin kayak gue, Va?"

Sekali lagi gadis berhijab besar itu hanya tersenyum, "penting ya pakai cincin kayak gini?" mata Savana tertuju pada benda yang melingkar di jari manis Alisa.

"Penting sih kalau buat gue," Alisa mengelus cincin pertunangan yang akan berpindah posisi sebentar lagi, "ini bukti kalau Mas Firman serius mau terikat komitmen."

Untuk sesaat yang Savana lakukan hanya menatap lekat Alisa, merangkum kebahagiaan yang selalu terpancar dari sahabatnya ketika masa kuliah tersebut. "Lo yakin Mas Firman yang akan menuntun lo sampai akhir masa?"

Alisa mengangguk tanpa ragu sedikitpun, "yakin banget."

"Serius yakin?"

"Seratus persen yakin," Alisa menjawab mantap. Kemudian Savana mengalihkan tatapan, membuat Alisa jadi bertanya-tanya, "tumben nanya gitu, Va?"

Cinta Untuk RakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang