06_Gak Mau!

3.7K 603 144
                                        

Ayo ramaikan kolom komentarnya! Kalau melebihi part kemarin, update lebih cepat. Oke ya?

((Play Mulmed))

_

Bandung, 2001

Pagi itu tidak seperti biasa, Alisa tidak menemukan Bunda di dapur. Jam lima lebih sedikit Alisa sudah dibangunkan Bik Onah. Ayah dan Bunda pergi antar adik ke dokter katanya. Yang Alisa lakukan hanya mengucek mata, memang sih ini hari Minggu dia tidak sekolah, tapi tidak melihat Ayah, Bunda dan adik ketika membuka mata rasanya tidak menyenangkan.

Alisa seperti dicuekin, apalagi sejak minggu kemarin adik laki-lakinya sakit terus. Bunda jadi tidak punya banyak waktu untuk Alisa. Yang diurusin adik terus-terusan. Ayah sebenarnya bisa menemani Alisa belajar, tapi anak perempuan itu ingin perhatian Bunda. Semenjak adik lahir sepuluh bulan yang lalu, Alisa seperti kehilangan perhatian Bunda.

Kata Ayah, Bunda sayang semua anak-anak, Alisa apalagi. Tapi adik kan masih sangat kecil, masih harus dijaga, diberi susu Bunda karena belum bisa minum susu sendiri. Sebagai anak perempuan yang berusia sembilan tahun, Alisa mengerti bagaimana harus bersikap sebagai seorang kakak. Apalagi orang rumah mulai membiasakan diri memanggilnya Kak Cinta. Namun ternyata punya adik tidak semenyenangkan ekspektasi Alisa.

"Neng Cinta mandi dulu, nanti mau dijemput Mama Tia."

"Gak mau." Alisa menggeleng, tubuhnya masih di atas sofa dengan kaki bersila.

"Loh kok gitu, Mama Tia nanti mau ajak jalan-jalan. Sama Aa' Raka juga."

Alisa menoleh sebentar pada Bik Onah. "Raka gak mau dipanggil Aa'."

"Eh?"

"Di rumah Raka gak ada yang manggil Aa', Bik."

"Lha terus manggilnya gimana?" Bik Onah merangsek mendekati Alisa. Tanpa gadis itu sadari, Bik Onah mulai melepas piyama Alisa.

"Manggilnya Mas, kayak Raka manggil Mas Barga."

"Oh iya, Mas Barga." Bik Onah manggut-manggut. "Mas Barga jarang di rumah kayaknya ya?"

Alisa mengangguk, ia menurut saja saat piyama keluar melewati leher. Menyisakan kaos dan celana dalam. "Mas Barga kuliahnya jauh, enggak di sini."

"Oh pantesan Bik Onah jarang banget liat."

Alisa lalu mendongak, "Bik Onah kenal gak sama Mas Barga?"

"Belum." Kini Bik Onah mengambil lengan Alisa yang sangat kecil digenggam jemarinya. "Mas Raka deket ya sama Eneng."

"Biasa aja." Alisa berjalan menuju kamar mandi. "Raka suka badung sih. Bikin kesel."

"Bikin kesel Eneng?"

"Eum.., kadang. Tapi banyakan usilin temen-temen." Kini semua baju Alisa sudah dilepas, anak perempuan itu sudah siap mandi.

"Ya bagus kalau gak ngusilin Eneng, atuh."

Alisa meraih gayung, lalu diguyurkan di rambutnya. "Shampo switsalnya mana?"

"Ini, Eneng mandi sendiri ya, Bik Onah bawain ke sini bajunya."

"Iya." Alisa lantas menutup pintu kamar mandi.

Ternyata mengambil hati Alisa mudah sekali, tinggal alihkan membahas Raka, maka semua beres. Alisa kecil selalu memiliki segudang cerita soal Raka Mahendra, entah apa yang membuat Alisa selalu hapal perangai Raka, Bunda saja dibuat heran ketika Alisa tahu detail tentang Raka. Mungkin bocah laki-laki itu memang sosok spesial bagi Alisa.

Cinta Untuk RakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang