30_Persimpangan Jalan

5.6K 484 334
                                        

Demi menjaga alur, saya belum menamatkan pada part ini. Lumayan panjang dengan mature konten, komen 300++ untuk akhir seperti yang kalian inginkan. Deal ya?! Abaikan typos, saya perbaiki besok pagi.

..

Alisa punya banyak tugas mengepak baju dan kebutuhan dirinya yang akan dibawa bersama Raka ke Jakarta. Dia akan menyusul setelah menyelesaikan urusan pekerjaan dan rumah kontrakan di Bogor. Satu minggu waktu yang cukup untuk mendelegasikan pekerjaan yang selama ini ia pegang, setelahnya, Alisa akan benar-benar mengikuti ke mana suaminya menetap.

Kini masih dalam rangka menikmati saat-saat bersama sebagai pengantin baru dalam tanda kutip, keduanya berada di radius tengah sebuah dataran tinggi tak jauh dari Bandung. Raka dan Alisa menghabiskan malam bulan madu sebelum besok siang kembali ke rumah setelah malam ini berpindah penginapan. Udara yang merambat-rambat di permukaan tanah telah mendingin, berkoloid, air terdispersi di dalamnya. Dalam sekelebat, kabut yang kian menebal mengikuti malam berubah menjadi berhomogen. Lampu-lampu penerang jalan memendar dalam partikel-partikel yang saling melempar sorot cahaya menyerupai efek Tyndall.

Alisa menggesekkan kedua telapak tangan mencari kehangatan saat membuka pintu yang terhubung pada balkon kamar. Suhu rendah yang menyentuh kulit membuat gigi Raka gemeletuk, seperti mengudarakan helaan nafas bak uap panas yang baru dikeluarkan dari atas tungku. Kenapa Raka memilih menginap semalam di tengah hutan pinus? Karena laki-laki itu kangen suhu dingin yang tidak pernah ia dapatkan selama menetap di Jakarta -selain efek pendingin ruangan tentu saja. Dan satu alasan lain yang tidak perlu dijelaskan, namanya juga bulan madu.

Alisa duduk merapatkan kedua kaki dengan telapak tangan mengapit satu mug berisi susu cokelat hangat. Tadinya istrinya Raka sempat menolak untuk menginap karena ia kira akan sangat sepi, tapi nyatanya masih ada yang menginap meski jaraknya tidak dekat. Sepertinya perusahaan-perusahaan yang mengadakan outbond atau pelatihan sengaja mengadakan di hari kerja.

"Seru banget kayaknya yah," Alisa memperhatikan beberapa bangunan di bawah yang menyerupai rumah hobit terlihat cukup ramai dengan lampu yang menyala. Mereka masih bisa mendengar hingga radius lima puluh meter.

"Lebih seru di sinilah," Raka membalas pesan dari Papa, tidak sadar kalau Alisa meliriknya tadi.

"Yang rame lebih seru kali, Mas." Alisa menyesap minumannya, lalu dibuangnya uap dari dalam mulut hendak melihat efeknya di udara. Supaya mirip di drama-drama Korea kalau sedang musim dingin.

"Seru di dalam sini, gak percaya?" Raka meletakkan ponsel, ditatapnya tubuh Alisa yang duduk memunggunginya, "kamu jadi stalker, Ta?"

"Enggak, aku jadi penonton," fokus Alisa masih tertuju pada rombongan yang masih bernyanyi dan bersenda gurau mengelilingi api unggun. "Udah jam sembilan gini, emang gak kedinginan?" Alisa bergumam pelan, tanpa sadar jika Raka berjalan ke arahnya.

"Ngomong apa, sayang?"

"Itu, mereka gak kedinginan?" tangan Alisa menunjuk satu arah, kepalanya mendongak karena posisi Raka berdiri di belakangnya.

"Kalau seru-seruan kayak gitu yang gak kerasa dingin banget," Raka ikut menatap. "Mau sampai kapan di sini?" kepala Raka kini menunduk, dielusnya pundak Alisa lalu jemarinya pindah merambat ke rahang, memaksa lembut sang istri mendongak hingga kedua mata mereka saling bertemu.

"Gak tau, tapi mau ngapain lagi? Sepi..," Alisa manyun. Tetapi itu tidak lama karena Raka kian menunduk menurunkan wajah. Kening Alisa dikenai kecupan hangat, perempuan itu tersenyum karena perlakuan lembut sang suami. Lalu bibir Raka berpindah pada bibirnya.

Cinta Untuk RakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang