Kim Sung Kyung.
Nama yang tertera pada name tag yang kini berada di tangan seorang laki-laki berumur tujuh belas tahun. Dia tengah berjalan tergesa-gesa karena terus dikejar dua orang di belakangnya. Mulutnya terus mengeluarkan sumpah serapah untuk gadis sombong pemilik name tag itu.
"Ish... Aku selalu dalam bahaya karena gadis itu." Tapi tidak akan ada waktu cukup jika ia hanya menggerutu. Di saat sedang dalam suasana tegang bisa-bisanya seseorang menabraknya dari arah depan.
"Jisung..." gadis yang menabrak itu melebarkan mata begitu mengenali beberapa laki-laki yang bisa ia pastikan sedang mengincar Jisung. Dengan cekatan gadis itu menarik lengan Jisung dan membawanya bersembunyi di dalam toilet.
Mereka tidak perlu cemas karena saat ini sekolah sudah sepi, hanya beberapa siswa-siswi saja yang masih berada di sana karena mengikuti ekstrakurikuler. Seperti gadis yang sekarang di hadapan Jisung, membekap mulutnya.
Jisung tersenyum. Bukan lewat bibirnya yang tertutup telapak tangan gadis itu. Tapi lewat hatinya yang selalu menghangat karena wajah teduh gadis itu.
"Kurasa dia sudah berhasil keluar dari sekolah, Renjun."
"Arrgh... Cepat temukan dia. Aku harus mengatakan padanya untuk tidak terus-menerus mengganggu Sungkyung-ku!"
"Ayo cepat sebelum jauh!"
Samar-samar suara dari luar toilet tidak lagi terdengar. Bunyi derap langkah kaki itu membuktikan bahwa orang-orang yang tengah mengejar Jisung sudah pergi. Jisung dan gadis itu pun bernapas lega, mereka keluar dari toilet dengan Jisung yang terus memperhatikan lengannya dipegang oleh gadis yang setahun lebih tua darinya itu.
"Sudah aman Jisung, kalau Renjun dan Haechan mengejarmu lagi cepat beritahu aku ya?"
Jisung mengangguk dan membalas senyuman gadis itu karena mengacak rambutnya gemas. Meskipun diperlakukan seperti seorang adik, Jisung sudah sangat lama menyukai gadis itu.
"Dabin noona, aku menyukaimu."
"Kyaa!!!" Jisung menjerit kesakitan karena rambutnya ditarik keras dari belakang. Ia yakin saat ini si pemilik name tag di tangannya lah yang sudah merusak momen manisnya bersama Dabin.
Dengan kesal Jisung melempar name tag Sungkyung sembarangan setelah berhasil lolos dari jambakan gadis itu. Sontak saja gadis itu segera menjambak rambut Jisung lagi dengan keras dan tanpa ampun.
"Yakh! Siapa berani menyakiti pacarku?!!" pekik Dabin emosi.
Sungkyung dan Jisung saling pandang sesaat kemudian Jisung memegangi dadanya yang bergemuruh aneh.
"Siapa pacarmu? Jisung? Yakh! Jung Dabin, kalau kau merasa bosan merayu Jeno jangan lampiaskan pada Jisung!" Sungkyung memposisikan kedua tangannya terlipat di depan dada.
Seolah tidak terima mendengar Sungkyung mengejeknya, Dabin mendorong bahu Sungkyung hingga terjatuh ke lantai.
"Aku tidak seperti itu! sebelum kau datang dan membuatnya kesakitan dia menyatakan perasaannya padaku. Jadi, hari ini kami resmi pacaran. Diam saja kau, dasar anak tiri!"
"Kyaa!! Jung Dabin sialan!"
Jisung langsung memposisikan dirinya menjadi di tengah-tengah kedua gadis yang sedang bertengkar itu. "Sudah-sudah, berhenti bertengkar. Sungkyung, minta maaf pada eonni-mu."
"Eonni? Park Jisung sialan, setelah membuatku dikejar Renjun tadi kau masih memaksaku memanggilnya eonni? maaf tapi aku tidak segampang itu!"
Di belakang Jisung nampaknya Dabin sudah ingin memaki adik tirinya lagi, tapi Jisung dengan cekatan menarik lengannya. "Kita menjauh saja dari gadis kasar ini, Noona."
"Park Jisung! Awas kau... Akkh!"
Dengan penuh rasa emosi Sungkyung meraih name tag yang ia temukan terjatuh di lantai tidak jauh dari tempatnya kemudian berjalan sembari mengentakkan sepatunya menjauhi toilet.
Setelah selesai mengikuti pertemuan untuk ekskul dance-nya, Sungkyung akan segera pulang. Sebelumnya ia termenung sejenak mengingat ucapan Dabin, kakak tirinya yang tidak akan membiarkan dia berbagi mobil yang sama itu.
Gadis itu masih berdiri di pinggir lapangan basket karena netranya menemukan dua sosok manusia yang sudah masuk dalam daftar musuhnya. Hingga tanpa sadar kepalanya hampir saja menjadi hantaman bola basket jika seseorang tidak memeluknya dari belakang.
Deg. Sungkyung diam mematung menatap wajah laki-laki yang sudah menyelamatkannya itu. Sumpah demi apapun, Sungkyung rasa sekujur tubuhnya bergetar bersamaan.
"Kau baik-baik saja, Sungkyung?"
"Ah.. Hampir saja, terima kasih Mark Sunbae."
Mark tersenyum dan mengacak rambut gadis itu gemas. Lalu tanpa basa-basi laki-laki itu berlari mengejar bola dan menghampiri teman-temannya di lapangan basket.
Sungkyung masih memegangi dadanya dan memandangi Mark yang sedang mendribel bola dan memasukkannya pada ring, tepat sasaran.
"Uh.. Jantungku.." pekik gadis itu sambil melompat-lompat kegirangan. Rasanya ia tidak ingin pulang ke rumah dan memilih menonton Mark bermain basket hingga usai.
Tiba-tiba seseorang menarik lengannya hingga Sungkyung menubruk dada laki-laki itu.
"Jisung tidak menggigitmu, kan?"
Sungkyung mendesah perlahan sembari menepis lengannya yang dicengkeram kuat.
"Kau pikir Jisung itu apa?" balasnya acuh.
"Sungkyung... Ayo pulang."
"Tidak mau! Aku tidak mau pulang bersamamu, Renjun!"
"Bodoh! Seorang Renjun tidak akan menerima penolakan, haha..."
"Kyaa!!!"
❤❤❤
Gimana prolognya? Moga suka ya
Sampai ketemu di part selanjutnya🤗
Sebelum itu yuks Vote dan komentarnya jangan ragu-ragu 😍
Bye... Bye...👋
KAMU SEDANG MEMBACA
Couple Exchange [Completed]
Fiksi PenggemarKita dua kasih yang terpisah bukan karena usai, tapi karena sadar sudah menemukan kenyamanan yang sesungguhnya. Jika kita dua hal yang bersatu tapi harus berpisah namanya apa? Sulit itu ketika kita merindukan tempat berteduh orang lain... Jung Dabi...
![Couple Exchange [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/179397229-64-k376412.jpg)