Chapter-- 40

107 10 12
                                        


"Aku menyukaimu, Jung Dabin..."

Saat itu, hanya satu hal yang ada dalam hati Jung Dabin. Bahagia. Ia bahkan sampai ingin menitikkan air mata ketika mengetahui Mark berdiri di depan rumahnya dengan tubuh yang rela basah diterpa air hujan.

Pria itu mengusap wajahnya saat air hujan mulai membuat pandangannya buram. Mark tidak mengerti, kenapa ia berlari menerobos hujan hanya untuk mengatakan hal itu pada Jung Dabin.

Meskipun ia tahu, malam ini mungkin terakhir kalinya bagi dia bisa melihat wajah cantik gadis itu.

Karena sudah tidak ada hari esok. Besok Mark harus pergi ke LA, sesuai perintah ibunya.

"Aku menyukaimu sejak kita masih di KHS. Aku sering membuatmu kesal, itu semua karena aku menyukaimu."

"Aku datang ke sini, tiba-tiba mengatakannya bukan untuk kau balas. Aku hanya ingin kau tahu isi hatiku."

Pria itu lalu tersenyum. Ia menunjukkan bagaimana indahnya jatuh cinta. Bukan untuk dibalas dengan hal yang sama, Jung Dabin hanya cukup tahu saja.

Baginya itu sudah lebih dari cukup.

Mark menatap sendu gadis yang tengah terbaring di dalam ruang ICU itu melalui jendela kecil. Gadis itu terlihat sangat pucat, banyak alat yang terpasang di tubuhnya, Mark kesakitan melihat itu.

Air matanya kembali luruh, dan bayangan kecelakaan itu berputar sangat cepat di kepalanya. Pun bagaimana kalimat ibunya kala itu menambah rasa kalutnya, semua itu melebur menjadi satu.

"Bibi Tiffany, kan?"

Suara itu membuat Mark menoleh cepat. Di sebelahnya kini sudah ada Jeno dengan mata sembab yang sama seperti dirinya. Mark lupa sejenak, bukan hanya dia yang hancur hari ini, Jeno bahkan lebih hancur.

"Jen--"

"Mana mungkin ibu Dabin keluar dari rumah sakit jiwa dan sampai tepat di gedung pernikahanku jika itu tidak direncanakan?!"

Jeno marah. Tatapannya memancarkan banyak api yang bisa kapan saja membakar Mark.

"Lalu dari mana kau yakin itu perbuatan ibuku?"

"Bangsat!" seriangaian miring ditunjukkan oleh Jeno saat Mark bertanya itu. "Ibumu mengunjungi Ibu Dabin di rumah sakit jiwa, lalu dia memprovikasi dengan menyertakan undangan pernikahanku, semuanya tertangkap kamera CCTV."

Jeno menggeram setelah menceritakan alur cerita itu. Ia baru sampai di rumah sakit karena harus mengurus masalah di rumah sakit jiwa, lalu Jeno meminta izin untuk melihat CCTV. Setelah itu ia pergi ke kantor polisi untuk melihat sang penabrak mendapat hukuman yang layak.

"Kau benar, semuanya ulah ibuku. Tapi penyebabnya adalah aku. Jung Dabin menderita karena aku, aku yang sudah... a-aku... Akh!" Mark memukul-mukul dadanya, rasanya sesak sekali. Ia tidak sanggup untuk mengatakan semuanya pada Jeno.

"Tidak perlu menjelaskan apapun, Mark. Kalau kau memang ingin melindunginya sejak awal, kau hanya perlu menghilang, lalu kenapa kau kembali?"

"Kenapa kau tiba-tiba membuatnya goyah lagi?"

"KENAPA KAU MENGATAKAN PADANYA KALAU KAU MENCINTAINYA?"

"KENAPA?!"

Jeno murka. Semua kalimatnya keluar dengan kemarahan yang membungkusnya. Mark melihatnya dengan jelas bagaimana urat-urat di leher Lee Jeno terlihat.

"Maaf, Jen..." sekiranya hanya kata maaf yang mungkin bisa Mark utarakan.

"Untuk apa? maaf untuk apa? huh?!"

Couple Exchange [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang