Satu hal yang sekarang menjadi ketakutan terbesar dalam hidup Sungkyung adalah kalimat Pengacara Song yang mengatakan perihal sikap ibu tirinya. Demi Tuhan, hidup dari kecil bersama ibu tiri yang memang tidak menyayanginya memang berat. Tetapi setelah kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir Pengacara Song, orang terpercaya Sungkyung, seolah ada ribuan lebah yang siap menyengatnya. Hanya butuh waktu untuk menjawab apakah ia akan digigit atau tidak.
Sudah sejak ia mendaratkan pantatnya di kursi, gadis yang sekarang mengikat rambutnya menjadi satu itu menghela napas. Satu hal yang bisa ia lakukan untuk saat ini, hanya berdoa semoga kepercayaannya untuk sang ibu tidak hancur.
Diliriknya Dabin yang asik men-scroll ponsel dan sibuk mengunyah, membuat mata Sungkyung jadi tiba-tiba tertutup kabut tebal.
"Nyonya, ada teman Nona Kyung di depan." ujar Ahjumma pelan.
Spontan Sungkyung mendesah berat. Oh, jangan lagi... Huang Renj--
"Mereka adu mulut, Nyonya."
--un.
Sungkyung segera berdiri dan mendorong kursinya ke belakang dengan agak keras. Membuat acara sarapan tenang Dabin yang indah sembari memandangi wajah Jeno di ponsel terganggu seketika.
"Mereka? maksud Ahjumma--"
"Iya, Non. Ada laki-laki yang sudah satu minggu ini sering menjemput Non Sungkyung, ada juga laki-laki yang Ahjumma nggak kenal siapa tapi dia bilang katanya pacar Non. Terus ada Jisung juga, sama seorang laki-laki yang matanya minimalis--"
"Ck, ahjumma siapa saja yang datang?" decak Sumin geram.
Dabin yang sudah menghabiskan satu gelas air beranjak cepat dari tempat duduknya dan berlalu menuju pintu utama.
Menggeleng cepat, Sungkyung segera mengekori kakak tirinya melangkah.
Oh, astaga.
Pemandangan yang sekarang tersuguhkan sungguh sangat tidak biasa. Gadis itu bahkan mengira ini hanya mimpi. Bagaimana mungkin? sekelompok laki-laki yang mengenakan pakaian seragam sama dengannya sedang--ya, mereka benar-benar adu mulut, seperti para gadis saja.
"Lee Jeno?!" itu Dabin yang berteriak nyaring tanpa tahu disana ada Park Jisung yang melotot dengan mata kecilnya.
"Oy, Kyung."
"Kyung, morning."
Mark dan Renjun berebut tempat dihadapan Sungkyung. Seharusnya gadis itu berekspresi bahagia, ada dua laki-laki tampan memperebutkannya. Anehnya gadis itu malah kesal, meskipun ada Mark Lee di sana.
Renjun menyikut kasar perut seorang Mark. "Minggir sih ah--" lalu menatap Sungkyung dengan senyum manisnya. "Ayo Kyung, kita tidak akan terlambat kok."
"Kyung, aku membawa mobil--"
"Itu mobilku, Mark Lee." Sahut Jeno yang praktis menatap horor sepupunya.
Mark tentu saja tidak perduli, laki-laki itu segera menarik lengan Sungkyung dan membawa gadis itu ke sebelahnya.
"Sungkyung itu pacarku, jadi dia akan berangkat ke sekolah denganku. Kau--Huang Renjun--jangan berani-berani memaksanya."
"Ya nggak bisa gitu dong." Kata Renjun balas melotot.
"Renjun sudahlah, kau sudah sering mengantarku bukan?" Setelah berdiam diri memperhatikan tingkah kekanakan Renjun, Sungkyung mendongak dan menentang laki-laki itu.
"Ayolah Kyung, itu bahkan hanya satu minggu." Protes laki-laki itu.
"Renjun, lebih baik kau pergi sekarang selagi aku meminta dengan baik-baik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Couple Exchange [Completed]
Fiksi PenggemarKita dua kasih yang terpisah bukan karena usai, tapi karena sadar sudah menemukan kenyamanan yang sesungguhnya. Jika kita dua hal yang bersatu tapi harus berpisah namanya apa? Sulit itu ketika kita merindukan tempat berteduh orang lain... Jung Dabi...
![Couple Exchange [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/179397229-64-k376412.jpg)