"Jeno bekalnya dibawa, Nak!"
"Tidak mau, eomma. Memangnya aku anak PAUD mesti bawa-bawa bekal?"
"Aw aw... iya iya, baiklah eomma aku akan membawanya."
"Nah anak baik, cepat masukan dalam tas."
Jeno berdecak malas kendati tangannya sibuk memasukkan bekal makanan yang disiapkan eomma Taeyeon untuknya ke dalam tas. Kalau saja tidak ada jeweran super dari ibunya, Jeno pasti akan terus menolak.
"Uh Jen, you aren't cool." Ejek Mark.
Jeno mendesis. "Yeah... you know, I can't do anything. Eomma is queen in my home."
"It's ok, dude."
Jeno dan Mark menegakkan badan ketika melihat Taeyeon mendekati mereka. Wanita paruh baya itu melempar senyum hangat saat Mark menyapanya dengan ceria.
"Hai, Bi. Kami pamit berangkat sekolah."
"Iya, hati-hati kalian. Belajar yang bener ya."
Jeno mencium pipi kanan Taeyeon dengan secepat kilat. "Bye eomma"
Kedua sepupu itu menuju halte bus dan menaikinya untuk bisa sampai di sekolah. Untungnya tidak perlu menunggu lama, bus yang mereka tunggu datang. Tetapi sayangnya bus tersebut cukup penuh. Tadinya Mark ingin menunggu bus yang lain, namun Jeno lebih dulu menariknya masuk ke dalam.
"Buru-buru banget sih, lagian hari ini cuma ada acara pekan olahraga doang, telat dikit boleh kali." Rutuk Mark yang sudah berdiri di tengah-tengah kursi bus dengan tangan yang menggamit pegangan di atas kepalanya.
Jeno menolehkan kepala. "Boleh kata siapa, meskipun kita sudah menyelesaikan ujian, kita masih tetap siswa. Dan tugas siswa adalah mematuhi peraturan di sekolah."
"Ah, Jeno! lupa kau kan anggota OSIS."
"Aku pasti akan jadi ketua osis di SMA nanti."
"Ya ya terserah."
"Jangan lupa kau nanti pilih aku ya, sepupu."
"Lulus saja belum, dasar!"
Tiba-tiba bus yang mereka tumpangi berhenti karena ada penumpang yang akan naik. Di antara penumpang tersebut didominasi oleh para pelajar. Jeno dan Mark harus rela mundur dan berdesakan untuk memberi ruang bagi penumpang lain.
Mark berdecak lagi, kesal dia karena memilih naik bus itu. Sedangkan Jeno, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Dengan bersungut-sungut Mark membuang wajah ke sisi kiri sambil menaikkan ransel hitamnya.
Dunia di sekitarnya seolah berhenti bergerak ketika kedua netranya menangkap sosok gadis yang berseragam sama seperti yang dipakainya tengah membaca sesuatu di bukunya.
"Mark, mundur dikit lagi."
"Mark buruan."
"Ini gue kedesek orang, bodoh! Woy."
Jeno telah sekuat tenaga menahan pijakannya, namun desakan dari arah depannya terus-menerus menerjang pertahanan Jeno. Jadi bukan salahnya jika saat ini ia menginjak kedua kaki Mark.
"ADUH--WOY JENO MAJU!"
"Udah mentok ini, Mark. Lo aja mundur buruan."
"Eh nggak bisa, babi! di belakang gue ibu hamil."
"Ya terus lo rela gue gini terus?" rengek Jeno. Kakinya menapaki kedua sepatu Mark dengan badan yang menempel di dada sepupunya itu. Badannya jadi melengkung ke belakang karena desakan pria besar di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Couple Exchange [Completed]
FanfictionKita dua kasih yang terpisah bukan karena usai, tapi karena sadar sudah menemukan kenyamanan yang sesungguhnya. Jika kita dua hal yang bersatu tapi harus berpisah namanya apa? Sulit itu ketika kita merindukan tempat berteduh orang lain... Jung Dabi...
![Couple Exchange [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/179397229-64-k376412.jpg)