Chapter-- 27

130 17 12
                                        

Happy Reading, readers-nim... ❤
Vomment juseyo 👉👈

***

Rutinitas pagi senin sampai jumat seorang Park Jisung adalah jogging berlari-lari dari rumahnya hingga ke taman dan jalanan yang masih lumayan sepi. Sebelum ia memanaskan otaknya dengan segala hal yang bernama pekerjaan, pria itu lebih dulu mendinginkannya dengan olahraga. Tidak pernah terpikirkan bahwa ia akan melihat sosok lain di pagi ini. Ia menyangkal akan mengabaikannya, apapun yang terjadi. Faktanya, mengabaikan jauh lebih sulit daripada harus diam-diam mengendap dari arah belakang dan memperhatikannya. Persis seperti yang dilakukannya.

Tidak ada niatan baginya untuk mengikuti gadis itu dari radius beberapa meter. Namun, masih banyak alasan dan kebencian kenapa pria itu belum bisa berlari menghampirinya, lalu menyapa layaknya seorang sahabat yang tidak sengaja bertemu di jalan. Oh ayolah, itu sudah lewat dari sepuluh tahun. Sekarang ini Jisung hanya mengenalnya sebatas nama.

Tetapi pernyataan itu tidak selaras dengan langkah kakinya yang terus melangkah mengikuti ke mana gadis itu pergi.

Tanpa mengetahui ada seseorang yang tengah mengikutinya, gadis itu malah sibuk memperhatikan seorang penjual gulali yang tengah duduk di sebuah bangku taman. Agaknya pria paruh baya itu baru saja mengedarkan jualannya. Sungkyung sudah tergiur hanya dengan sekali lihat, maka dari itu ia tidak memperhatikan jalan, hingga harus menabrak sebuah pohon. Keningnya menjadi bagian paling menyakitkan karena bersentuhan dengan batang pohon cukup keras.

"Aduh... Aw!!"

"Yakh, kau tidak apa-apa?"

Sungkyung membalikkan tubuh saat ada yang berseru dari arah belakang. Masih sibuk mengusap keningnya yang sakit, Sungkyung mengangguk kecil. "Ya, tidak apa-apa--"

Matanya terbuka lebar. Ada Jisung di depannya, apa ini mimpi? tapi Sungkyung baru saja menabrakkan diri pada pohon hingga keningnya memerah, berarti ini bukan mimpi.

"Tapi ini sangat sakit, Jisung." Adunya memelas.

"Kau... kau harus mengompresnya dengan es batu. Tunggu di sini, aku akan mencari es batu, ya."

"Ya, baiklah."

"Tunggu, jangan ke mana-mana." Teriak Jisung berlari meninggalkan Sungkyung, dengan sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

Senyum Sungkyung mengembang dengan sempurna. Apa ini yang dinamakan luka untuk kebahagiaan? sepertinya benar, Sungkyung tidak lagi merasakan sakit saat Jisung berlari padanya, menanyakan keadaannya, lalu pria itu dengan cekatan mencarikan es batu.

"Eh, tunggu--" tiba-tiba lampu di kepalanya menyala terang. "Bagaimana dia menemukanku? apa jangan-jangan, dia--"

"Dia mengikutimu dari sana, Nona." Seseorang berseru dari sisi kirinya.

Sungkyung menoleh, ia terkejut saat penjual gulali sudah ada di dekatnya. Pun, pernyataan mengejutkan tentang Park Jisung yang mengikutinya.

"Apa anda melihatnya?"

Pria paruh baya itu mengangguk. "Saya melihatnya sendiri, kalau tidak, mana mungkin saya memberitahukannya pada nona."

Dasar Park Jisung bodoh, pikir Sungkyung dalam hati.

"Oh iya, buatkan saya satu gulali, Ahjussi--eh tidak, tolong buatkan dua." Katanya dengan cengiran lebar.

Sungkyung memutuskan duduk di bangku panjang yang mengarah langsung ke pemandangan sebuah sungai. Kedua tangannya sibuk memegangi gulali, berikut mulutnya yang sibuk menyesap makanan manis itu. Sesekali ia menoleh ke segala arah, barangkali saja Jisung sudah kembali.

Couple Exchange [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang