"JISUUUUUUNG!"
Demi dewa-dewi, raja-ratu, Appa-eomma, dan seluruh elemen di muka bumi ini. Jisung terjungkal dengan sangat tidak elitnya dari bangkunya sendiri akibat ditarik ke belakang oleh seseorang.
"Akh... apa lagi sekarang?" gumaman ringis Jisung menjadi pertanda ketakutannya di jam makan siang ini.
"Apa yang kau katakan di ruang guru tadi, Park Jisung?!"
"A--aku.. a-ku hanya mengatakan kalau aku... terkunci di dalam gudang."
"Kau yakin?"
"I-iya, Renjun."
Renjun memicing curiga. Tetapi melihat ekspresi ketakutan dari lawan bicaranya, sepertinya Renjun harus percaya. Lagipula dia sudah pegal menggertak Jisung.
Kini Renjun dapat bernapas lega mendengar pernyataan dari Jisung. Takutnya saat Jisung dipanggil ke ruang guru tadi, pria itu akan mengadu telah dikerjai oleh Renjun. Bisa-bisa ia dapat hukuman skors dan tidak bisa melihat Sungkyung lagi. Huh, mengerikan!
"Awas kalau kau berani mencemarkan nama baikku!" Ujar Renjun sembari menoyor kepala Jisung ke kiri.
Lelaki Park itu mengangguk kuat-kuat.
"Ngomong-ngomong, ke mana Sungkyung?" tanya Renjun yang tidak melihat atensi gadis itu di kelas.
"Menemui Mark sunbae, kan dia pacarnya."
Bugh! karena kesal mendengar nama Mark disebut, Renjun memberikan pukulan pada lengan Jisung kembali.
Kuatkan aku ya Tuhan.. --Batin Jisung meringis.
"Dengar ini ya, Mark adalah orang kedua yang tidak aku suka setelah kau."
Dengan ekspresi ketakutannya yang tidak pernah luntur, Jisung menatap Renjun penasaran. "Kenapa aku yang menempati posisi pertama? bukankah seharusnya kau membenci Mark sunbae karena dia menjadi pacar Kyung?"
"Kau ini dasar bodoh, sudahlah kau tidak akan mengerti. Otakmu itu tidak bisa berfikir sampai jauh."
Setelahnya Renjun keluar dari dalam kelas diikuti Haechan di sebelahnya. Seisi kelas kembali bersikap biasa setelah kepergian Renjun yang bagaikan pangeran di kelas mereka itu. Iya pangeran, pangeran yang kejam.
Jisung membenarkan letak kursinya dan kembali menempelkan kepalanya dengan meja. Netranya kemudian menangkap Chenle yang sudah ada di sebelahnya. Dasar Chenle, tadi ke mana saja saat Jisung dikejar-kejar Renjun?
Hhh.. tarikan napas lelah Jisung menjadi yang pertama kali didengar oleh Chenle setelah mendekati sahabatnya tersebut. Raut wajah menyesal nampak pada laki-laki bermarga Zhong tersebut.
"Yakh, Zhong Chenle... kau merasa takut?" tanya Jisung. Ia tidak tega saja melihat mata Chenle berkaca-kaca.
"Kau mau kubelikan sesuatu?" tawar Chenle dengan bibir gemetar. Laki-laki itu bahkan sudah mengusap-usap punggung Jisung.
"Apa?"
"Apa saja, asal kau jangan marah padaku. Maafkan aku tidak bisa membantumu setiap kali kau dipukul Renjun dan Haechan. Aku kan kaya, aku bisa membelikanmu apa saja tapi kau jangan marah ya Jisung?"
"Chenle... aku tidak marah padamu. Justru aku senang kau tidak ikut berurusan dengan Renjun atau Haechan. Lain kali kalau aku dipukul lagi kau pergi saja ke kelas Jaemin."
Kening Chenle berkerut. "Memangnya kenapa?"
"Supaya kau tidak ketakutan seperti tadi. Bukankah melihatku menderita kau juga merasa sedih?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Couple Exchange [Completed]
FanfictionKita dua kasih yang terpisah bukan karena usai, tapi karena sadar sudah menemukan kenyamanan yang sesungguhnya. Jika kita dua hal yang bersatu tapi harus berpisah namanya apa? Sulit itu ketika kita merindukan tempat berteduh orang lain... Jung Dabi...
![Couple Exchange [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/179397229-64-k376412.jpg)