09. ♚Debat

3.7K 612 4
                                        

RYUJIN POV.

Lagi-lagi gue bangun dengan wajah dan bantal yang basah dengan air mata.

Gue gak tahu ini penyakit atau apa tapi ini terus menerus terjadi sejak gue kecil, kata Jaemin gue selalu nangis ketika lagi tidur. Tapi gue berusaha bodoh amat, lagian yang tahu hal ini cuman gue dan Jaemin.

Keluar kamar gue ngeliat Minhee udah rapi dengan seragam sekolahnya dan lagi sarapan di meja makan sambil mainin hpnya. Btw gue sama Minhee beda sekolah.

"Ryu, mau gak?" tanya Minhee sambil memberikan roti.

Gue menggelengkan kepala. "Gak. Eh btw gue pulang ya min."

"Eh tunggu tunggu, biar gue anterin."

"Gue bawa mobil." jawab gue. "Gue duluan, bye."

"Hati-hati woy!" teriak Minhee.

Gue masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Minhee. Sebenarnya kepala gue masih pusing sih tapi masih bisa di tahan lah, lagian rumah gue sama rumahnya Minhee jaraknya lumayan deket.

Gue yakin 99% si Beomgyu udah ada di rumah gue.

Sampai di depan rumah dugaan gue benar, disana sudah ada mobil Beomgyu yang terparkir indah di depan rumah.

Gue masuk ke dalam rumah dan mendapati keluarga gue yang lagi asik sarapan di meja makan. Dan ya, disana ada Beomgyu juga.

"Cie yang punya anak angkat baru." gumam gue dengan senyum miring.

Mukanya pada ceria-ceria. Coba aja kalo mereka liat gue disini pasti auto hilang tuh senyuman.

Gue mah udah biasa gak dianggep makanya santai aja.

Gue pake tudung hoodie gue dan mulai naikin tangga. Sampai di kamar gue langsung mandi dan siap-siap pake seragam. Pas gue lagi sisir rambut Jaemin masuk ke kamar gue sambil bawa roti dan susu. Gue yakin pasti dia liat gue pas masuk rumah tadi makanya dia bawain gue sarapan.

"Ngapain?" tanya gue dan pura-pura sibuk ngaca.

Dia meletakkan roti dan susu itu ke atas meja yang ada di kamar gue.

"Dimakan rotinya." ucapnya.

"Malas, gue udah terlambat."

"Sejak kapan lo datang kesekolah tepat waktu? Buka mulut lo." Jaemin ngambil rotinya lalu nyuruh gue buat buka mulut tapi gue nolak.

"Makan ryu, nanti maag lo kambuh." dia masih maksa gue.

"Gue bisa makan sendiri!"

"Gak, lo gak akan makan kalo gak dipaksa kayak gini. Buka mulut." terpaksa gue ngebuka mulut dan biarin dia nyuapin gue roti.

"Pinter, susunya juga diminum."

"Gue bisa sendiri, mendingan lo keluar." usir gue. Tapi Jaemin malah duduk di tempat tidur gue.

"Lo mabuk-mabukkan di rumah Minhee?"

"Bukan urusan lo." jawab gue.

"Mulut lo bau alkohol, jangan bohong sama gue."

"Gak usah sok peduli. Mau gue mati di jalanan pun gue yakin kalian gak akan peduli sama gue." ucap gue pelan tapi ternyata berhasil buat Jaemin sakit hati.

"Gue peduli sama lo, dek."
Setelah berkata demikian Jaemin ninggalin gue.

Gue gak paham maksud Jaemin ngomong gitu dan gue berusaha gak peduli karena hati gue sudah terlanjur membeku buat tersentuh dengan kata-kata seperti itu.

TOMBOYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang