Sudah satu bulan berlalu semenjak kematian Gongmoo yang cukup membuat heboh banyak orang karena kecelakaannya yang sangat mencurigakan.
Posisi Gongmoo sebagai ketua yayasan di gantikan oleh Victoria. Sedangkan Veronika memilih untuk pergi ke Paris bersama dengan Yoojin untuk menenangkan diri.
Jaemin semakin sibuk dengan kuliahnya. Sementara itu, Ryujin masih sangat terpukul dengan kematian Gongmoo.
Dia jadi lebih sering minum-minum untuk menghilangkan stressnya.
Perempuan itu tetap akan menggantikan posisi Yoojin. Tidak ada keputusan yang berubah. Bahkan hal itu sementara di proses oleh Yoojin walaupun pria itu sedang berada di Paris.
Sedangkan Beomgyu sudah memulai harinya sebagai CEO.
Semenjak kejadian di rumah sakit itu mereka berdua sudah tidak lagi berhubungan sesuai dengan kemauan Ryujin waktu itu, mereka harus jaga jarak untuk beberapa saat.
Dan ini sudah satu bulan, mereka berdua sama sekali tidak ada niatan untuk menghubungi satu sama lain. Keduanya terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing. Beomgyu yang sibuk dengan perusahaan papanya dan Ryujin yang sibuk dengan dunianya sendiri.
Beomgyu tidak bisa menolak setiap perintah papanya. Dan ketika papanya menyuruhnya untuk fokus pada perusahaan dia menurutinya dan mungkin lupa dengan ryujin.
"Gue kira udah cukup minumnya. Mending sekarang lo gue antar pulang." Yeji berdiri dan memegang bahu Ryujin, tapi dengan cepat ryujin menghempaskan tangan sahabatnya itu.
"Gue mau cerita."
Yeji menyandarkan punggungnya, selalu mereka yang jadi saksi ketika Ryujin mabuk dan curhat seperti ini.
"Biarin dia cerita ji. Habis itu kita antar dia pulang" ucap chaeryeong dengan tenang, itu karena dia gak minum.
"Gue pengen pisah sama Beomgyu." setelah berkata demikian dia tersenyum.
Senyum paksa.
Chaeryeong, Yeji dan Yuna sontak membulatkan matanya. Mereka saling melempar tatapan kaget, karena setahu mereka hubungan Ryujin dan Beomgyu sudah sangat baik.
"Gue gak bisa bayangin gimana ekspresi dan perasaan Beomgyu ketika dia denger apa yang lo bilang itu." ucap Chaeryeong sambil menggelengkan kepalanya.
Ryujin menopang kepalanya yang sangat pusing menggunakan kedua tangannya. "Gue..." Ryujin menatap gelas bekasnya. "Gue gak bisa."
"Lo udah nerima dia ryu." sahut Yuna.
"Gue cuman..." Ryujin tidak bisa melanjutkan ucapannya dan malah meminum minumannya.
"Ryu, lo kenapa sih? Lo berubah lagi semenjak kakek lo meninggal."
"Gue gak berubah!" tegas Ryujin.
"Gue cuman gak bisa. Gue kira semuanya akan baik-baik saja kalau gue nerima perjodohan itu tapi nyatanya, hidup gue tambah menderita haha."
Yeji menghela nafas beratnya. Pusing menghadapi Ryujin yang terus berubah. Kemarin berkata lain dan sekarang berkata lain.
"Gue gak ngerti sama jalan pikiran lo, ryu."
Ryujin tertawa pelan dengan mata terpejam. Tangannya meremas kuat gelas yang masih berada di tangannya, menahan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
