"Siapa kamu?" tanya Vero pada sosok yang tengah mengambil alih kursi kebesarannya dengan posisi membelakangi. Selama ini yang berani masuk ke ruang kerjanya hanya Melanie, Vivian dan istrinya. Dan Vero berani bertaruh kalau yang duduk di kursi itu bukanlah Melanie atau Vivian. jadi satu-satunya kemungkinan itu hanyalah istrinya sendiri.
"Emii..?" seru Vero sambil berjalan mendekat ke arah meja. Kursi itu pun berputar dan pandangannya tertuju pada senyum yang muncul di wajah itu.
"Hallo sayang.. Udah meeting'nya?" tanya Emily dengan tangan mengusap perut buncitnya yang tertutup khimar bermotif floral membuat sosok cantik istrinya semakin menggemaskan.
"Aku seperti merasakan De Javu," ujar Emily dengan senyum seringai jahil yang membuat Vero gemas ingin memeluk istrinya itu.Tapi saat istrinya mengingatkannya pada kejadian yang nampak begitu familiar bagi Vero dimana pria itu pernah berada di ruangan kantor dengan Emily yang menjadi sosok yang tak lepas dari pandangannya membuat Vero mengulum senyum bahagianya.
"Hemm.. Sangat De Javu..jadi bagaimana berada di posisiku sayang?" Emily tergelak karena ternyata Vero masih mengingat saat pertama kali mereka bertemu.
"Menyenangkan, aku jadi pengen nyium orang." sahut Emily yang disusul oleh tawanya riangnya yang lepas. Vero memutari meja lalu merengkuh Emily dalam pelukannya.
"Kalau gitu cium aku sekarang, aku merindukanmu." Vero mengecup puncak kepala Emily dengan lembut, tanganya yang bebas membelai wajah Emily.
"Nggak ah, Kamu bau, mandi gih!" protes Emily yang membuat mata Vero melotot tak percaya. Tanpa sadar ia sudah mencium bau tubuhnya sendiri dan Vero berani bersumpah bahwa ia masih sama wanginya seperti ketika berangkat kerja pagi tadi.
"Bawaan bayi Sayang.. Kan kamu tahu sendiri mendadak semua yang ada didiri aku jadi aneh karena bawaan bayi kita," jelas Emily sebelum Vero sewot. Suaminya itu tersenyum masam lalu mendaratkan tangannya pada lekuk buncit perut Emily.
"De.. Jangan nakal-nakal ya.. Kasihan Bunda sama Ayah, kalian baik-baik ya disana." ujar Vero lalu diakhiri dengan bibirnya yang mencium perut Emily lama-lama.
Kalian?
Ya.. Vero dan Emily sangat bahagia saat Dokter keluarga yang memeriksa kondisi Emily menyatakan kalau selama Sembilan bulan Emily akan mengandung bayi kembar. dan setelah diusut demi usut bagaimana Vero dan Emily bisa mendapatkan calon bayi kembar jawabannya ada pada Emily yang ternyata memiliki Kakek dari Ayahnya yang kembar.
"Mereka baik-baik aja Yah.. cuma tadi mendadak ngidam duduk dikursi kerja Ayah dan ternyata sangat nyaman dan menyenangkan," sahut Emily dengan senyum senang yang tak bisa ditutupi. Wanita itu bahkan sudah menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata seolah tengah menikmati posisinya.
"Tapi... kamu ngapain di sini sayang?" pertanyaan Vero membuat kedua mata Emily terbuka. ia melirik suaminya dengan gugup lalu menampilkan cengiran yang membuat sebelah alis Vero naik.
"Kan aku udah bilang kalo anak-anak kita lagi ngidam untuk duduk di kursi Ayahnya, jadi.. nggak apa-apa kan Sayang kalo hari ini aku keluar rumah?" jawaban Emily membuat Vero menghela nafas. Pria itu melarang Emily keluar dari rumah sejak kandungan wanita itu menginjak Sembilan bulan. Dan baru tiga hari yang lalu kandungan Emily menginjak Sembilan dan wanita itu sudah tidak betah berada di rumah.
"Alasan... kamu sudah makan? kita makan yuk!"
Mata Emily berbinar saat mendengar ajakan makan dari suaminya. Ia mengangguk dengan antusias lalu bangkit dari kursi kerja dibantu oleh Vero yang bersiaga. Hampir empat bulan terakhir Vero selalu berada disisi istrinya karena kehamilan Emily yang istimewa membuat kandungan Emily terlihat lebih besar dari biasanya. Vero yakin para calon anaknya disana tumbuh sangat subur sampai membuat Ibunya bangun dari kursi saja kesusahan.

KAMU SEDANG MEMBACA
The True Desire ( Jibran Series )
RomanceNote : Open Private Alvero Syah Jibran adalah pria perfeksionis yang mendadak hidupnya terasa hambar. ia bosan dan jenuh dengan kehidupannya setelah di tinggal adik dan Ibunya yang memilih menetap di luar negeri. tapi Vero mendapatkan sedikit hibura...