Hulaaaaa!!
Apa kabar semuanya? masih kuat puasanya? hehehe
Saya mau minta maaf untuk semua yang sudah nungguin kelanjutan Pero-Emi ( berharap ada yang nungguin). maaf karena mood saya ilang-ilangan akhir-akhir ini. tapi semoga bab ini menebus kesalahan saya.Nggak berasa udah bulan puasa lagi .Saya ( Debby alias bebyZee ) mau minta maaf kalau ada komen saya yang kurang berkenan.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga rahmat Allah selalu mengiringi langkah kita semua. Amiin...
Love,
bebyZee
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Emily terkejut ketika pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka, membuatnya yang tengah berdiri memandang keluar jendela menoleh ke arah pintu. Budenya muncul dari balik pintu lalu menutup pintu kamar Emily lagi seperti semula. Bude pun duduk di atas ranjang Emily sambil memandang keponakannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Yuk sarapan dulu!" ajaknya. Emily menggelengkan kepalanya. Ia tidak berselera untuk menelan apapun saat ini. fikirannya masih dipenuhi oleh keputusan Vero yang kembali mengubah hidupnya.
"Apa dia..." tanya Emily menggantung.
"Apa kamu tahu kalau kondisi Ibunda Vero mendadak kritis?" pertanyaan Bude membuat bola mata Emily membulat sempurna. Ibunda Vero? Kritis?
"Bude sebenarnya ingin mengatakan padamu semalam, tapi sepertinya kamu sudah tidak ingin mendengar apapun setelah Bude memberitahu perihal lamaran Vero padamu," penjelasan Bude membuat Emily kalang kabut mencari tasnya. Ia harus menghubungi Vivian saat ini juga.
Ketika membuka ponselnya yang sudah hampir seminggu di non-aktifkan Emily benar-benar terkejut ketika membaca semua pesan yang masuk ke ponselnya. Vivian, Kevin, Martha, dan Vero. Semua mencoba menghubunginya selama ini.
Emily, kau dimana? Aku khawatir padamu..
Itu bunyi pesan yang masuk dari Vivian. Emily tersenyum ketika menemukan pesan semacam itu tak hanya satu tapi hampir dua puluh ia dapatkan.
Emi... kau dimana sayang? Aku mencemaskanmu, aku minta maaf Emi... aku minta maaf..
Mata Emily mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus senang atau justru marah ketika menerima pesan itu. tapi ketika membayangkan saat pria itu sibuk mencarinya, mengirimkan pesan dengan ekspresi putus asa sedikit demi sedikit membuat Emily iba.
Emi... aku pulang, Maaf karena tidak bisa bertahan di sisimu, Ibuku lebih membutuhkanku, tapi aku janji, aku akan kembali padamu dan memastikan bahwa kamu menerima lamaranku. Aku mencintaimu..
Emily menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang ia baca. Itu pesan yang Vero kirim tadi malam sebelum pria itu kembali ke Jakarta. Emily terduduk lemah di atas ranjang. Bude yang melihat Emily terguncang merangkulnya. Menenangkannya dengan mengucapkan kata-kata yang bisa membuat keponakan yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri lebih tenang.
"Fikirkanlah baik-baik, Bude tahu kamu begitu mencintai Vero, kalau kamu tidak mencintai Vero bagaimana bisa kamu begitu marah dan sakit karena dia," ucapan Bude disambut anggukan dari Emily. Ia membenarkan ucapan Bude bahwa Emily memang mencintai Vero. Terlalu mencintai pria itu bahkan berusaha untuk membencinya pun Emily tak akan sanggup.
Air mata Emily tumpah ruah. Ia menangis dalam dekapan Bude sambil memikirkan Vero yang tengah berjuang di sisi Ibunya. Ia tahu pria itu pasti akan menepati janjinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The True Desire ( Jibran Series )
RomanceNote : Open Private Alvero Syah Jibran adalah pria perfeksionis yang mendadak hidupnya terasa hambar. ia bosan dan jenuh dengan kehidupannya setelah di tinggal adik dan Ibunya yang memilih menetap di luar negeri. tapi Vero mendapatkan sedikit hibura...