Dibawah Hujan

322 20 4
                                        

Biarkan hujan menjadi saksi bisu pertemuan kita...

Saat itu, seisi kelas begitu menikmati pembelajaran yang mereka dapat. Ditambah lagi dengan cuaca yang sangat mendukung proses pembelajaran, langit yang mendung diiringi oleh angin yang menyejukkan tubuh. Sungguh cuaca yang sangat diidamkan oleh para pelajar.

Tampak dengan jelas olehku, mereka yang begitu antusias dalam proses pembelajaran. Tidak seperti ku yang hanya diam seperti patung pajangan. Aku tidak pernah berbicara apalagi aktif dalam proses pembelajaran. Tentu itu merupakan salah satu alasan kenapa teman-teman sekelas membenci ku. Siapa yang akan menyukai orang anti sosial dan pengecut seperti ku ini?

Sesekali, aku melirik kearah seorang gadis yang saat itu duduk disamping kananku. Aku memperhatikan nya diam-diam, dan aku juga menyadari bahwa ia sama seperti mereka. Dia terlihat begitu aktif, bahkan dia selalu menjawab pertanyaan sulit dari guru Bidang study yang bahkan teman yang lain pun tidak bisa menjawabnya. Aku melihat nya, senyuman yang selalu merekah dari wajahnya, tetapi semakin aku memperhatikan senyuman nya yang begitu cerah itu, aku sempat berfikir bahwa dia seperti menyembunyikan sesuatu.

"Akh! Sudahlah! Kenapa juga aku harus penasaran dengan anak seperti dia? " Bathin Haikal.

Tetapi, aku terus berusaha untuk tidak perduli dengan siswi baru itu. Rasanya hatiku saat itu masih menyimpan rasa takut, bagaimana kalau dia mengatakan semua yang ia lihat malam itu kesemua orang?

"Akh... Bagaimana ini? Dia memang terlihat polos... Tetapi bagaimana kalau ternyata dia sama saja dengan mereka?! "

Saat itu pikiran ku selalu diselimuti oleh kekhawatiran dan kegelisahan. Aku sama sekali tidak bisa tenang setelah melihat orang yang saat itu menyaksikan kejadian terburuk yang aku lakukan.

Aku takut... Tubuhku juga gemetar tidak karuan, keringat dingin keluar dengan derasnya membasahi wajahku. Bahkan kacamata yang aku kenakan saat itu menjadi rabun karna embun. Perasaan takut apa ini? Selama ini aku tidak pernah merasakan takut seperti ini.

"Bagaimana, kalau nantinya dia mengatakan hal-hal tentang ku?! Bagaimana kalau nantinya mereka akan semakin membenci ku?!!"

Saat itu aku mengepalkan kedua tanganku karna takut. Sesekali aku melirik kearah nya untuk memastikan gerak-gerik nya itu.

"... Kamu kenapa? Haikal? Apakah kamu sakit? "

Aku dikagetkan oleh pertanyaan dari siswi baru itu, aku melihat dari wajahnya yang terlihat sangat khawatir. Rasanya jantung ku berdetak sangat kencang. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama, pada akhirnya ada seseorang yang mengkhawatirkan diriku. Tetapi tetap saja, rasa takut ku lebih besar dari pada rasa bahagia yang aku rasakan. Dan karna ketakutan yang sudah menyelimutiku, membuat ku semakin  berburuk sangka padanya.

"Ck! Jangan sok baik kepada ku!! "

Saat itu aku mengatakan kalimat yang Sangat ketus kepada orang yang bertanya tentang keadaan ku. Tentu saja dia terlihat sangat shock dengan perkataan yang aku lontarkan. Aku melihat wajah nya yang terlihat sedih dan bersalah. Entah mengapa aku seperti menggali kuburan ku sendiri. Bukannya puas aku malah semakin merasa khawatir dan cemas. Bagaimana jika perkataan ku saat itu membuat nya marah dan akhirnya ia menyebarluaskan kejadian dimalam itu?

Aku takut. Sangat takut, hingga aku tidak menyadari bahwa ternyata pembelajaran telah usai. Selama dikelas aku hanya diam bungkam karena takut yang menyelimuti ku itu.

Guru bidang study sudah keluar dari kelas, dan pada akhirnya bel istirahat pun berbunyi.

(Deg!!)

Bagaimana perasaan kalian jika mendengar bel istirahat? Senang? Bahagia? Tentu saja kalian sangat bahagia dan kegirangan bukan? Karna akhirnya kalian akan beristirahat dan pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sudah kosong.

Kenangan Bersama muCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang