Senja

55 7 0
                                        

"Ka-kalian?"

Lagi dan lagi, aku kembali terdiam. Mata ku tak lepas menatap wajah nya yang terlihat begitu pucat. Aku tahu bahwa saat ini ia terkejut dengan kehadiran kami yang memang tiba-tiba.

"Oh, ayo masuk. Kenapa masih berdiri di sana. Kemari lah."

Suara lembut dari wanita yang merupakan ibu dari Navya itu kami balas dengan anggukan dan senyuman. Mereka memang sangat ramah, dan aku tau betul hal itu.

Aku menatap ruangan yang ditempati oleh Navya yang begitu luas dan bersih. Hingga mata ini kembali melirik dirinya yang masih terduduk dengan berbagai jarum infus yang menancap di tangannya.

Melihat kondisinya yang begitu lemah, entah kenapa membuat dadaku semakin sesak. Aku tidak tau jika ia harus kembali berbaring di rumah sakit yang dipenuhi oleh bau obat-obatan.

"Maaf jika kedatangan kami tiba-tiba seperti ini tante, om." Ujar Edo sembari memberikan beberapa bingkisan yang kami bawa sebelum datang ke rumah sakit.

"Tidak apa-apa, nak. Justru kehadiran kalian pasti sangat ditunggu oleh Navya." Ayah Navya berujar lembut.

Kami melihat Ibu Navya yang telah menyiapkan cemilan dan minuman. Tentu saja hal ini membuat kami merasa tidak enak.

"Ta-tante... Tidak perlu repot begini. Kami---"

"Sudah, tidak apa-apa. Kalian sudah datang kemari jadi harus makan sesuatu kan." Ucap Ibu Navya yang langsung menyela kalimat Veera.

"Kalau begitu kami keluar dulu, ya? Kalian pasti punya banyak hal untuk dibicarakan."

Kami mengangguk dan tersenyum membalas ucapan ayah Navya. Setengah mereka pergi, kami pun melangkah lebih dekat menuju ranjang Navya.

Bahkan dilihat dari sedekat ini, wajah pucat nya semakin ketara. Namun ia mencoba untuk menutupi nya dengan selalu tersenyum.

Author Pov

"Navya? Bagaimana keadaan mu sekarang?" Veera menggenggam tangan temannya itu yang terasa begitu dingin. Ia benar-benar sedih melihat keadaan Navya yang begitu pucat.

"Aku sudah lebih baik, Veera. Terima kasih karena kalian sudah datang kesini.." Navya tersenyum.

Meskipun saat ini ia tengah menahan rasa sakit di kepalanya yang seakan dihantam oleh benda tumpul. Namun ia menutupi rasa sakit itu dengan selalu tersenyum.

Navya sangat senang karena teman-teman sekelas datang menjenguknya. Banyak sekali yang mereka bahas saat ini. Mulai dari pembelajaran, atau hiburan lain yang menyenangkan. Bahkan mereka juga sempat bermain game untuk menghilangkan rasa jenuh.

Sungguh, sangking bahagia nya rasa sakit yang sedari tadi menghujami kepala Navya seakan berkurang. Senyuman kebahagiaan tak luntur dari kedua sudut bibir mungilnya.

Navya menatap Haikal yang berdiri di samping kanan nya. Ia tidak terlalu antusias seperti teman-teman sekelasnya yang lain. Ia hanya memperhatikan tanpa mengikuti. Meski sesekali senyum tipis terukir di wajah Haikal yang membuat Navya ikut tersenyum.

"Sudah lama aku tidak bertemu dengannya..."

Benar, sudah cukup lama Navya tidak bertemu dengan Haikal. Hingga tatapan itu, tak pernah lepas menatap Haikal yang asyik memperhatikan game yang dimainkan oleh Edo dan Doni.

Hingga tanpa sengaja, tatapan mereka saling beradu. Membuat mereka salah tingkah dan memilih untuk membuang muka.

"A-ah, Nita kalah! Haha."

Teman-teman Navya tampak menatap nya dengan wajah kebingungan. Itu sudah jelas karena tiba-tiba saja Navya tertawa seperti dipaksakan.

"Aku malu..."

Kenangan Bersama muCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang