Author Pov
Deru angin berhembus menyentuh kulit dengan lembut. Langit yang tampak begitu gelap tanpa hadirnya bintang, bahkan suara gemuruh terdengar seakan ia tak ingin bersahabat dengan alam.
Seorang gadis dengan surai hitam legam nan panjang tampak duduk dipinggir ranjang disebuah kamar dengan nuansa serba putih. Tatapan matanya lurus ke depan. Ia hanya diam tidak bergeming, menikmati setiap angin yang masuk melalui jendela ruangan itu.
Sesekali ia memejamkan kedua matanya. Hingga Ia terhanyut dengan hawa dingin yang menyelimuti ruangan. Tak terelakkan jika ia mencium bau obat yang menyeruak. Menjadi ciri khas ruangan yang saat ini tengah ia tempati.
"Oh? Kamu belum tidur?" Gadis dengan surai hitam panjang itu tersentak. Menoleh kebelakang dan mendapati seorang wanita dengan jas putih kebanggaan nya tengah berdiri diambang pintu.
"Hm." Jawaban singkat dari pasien tetap nya itu membuat Dokter Risa menghela napas panjang.
Ia kembali menutup pintu ruangan dan berjalan mendekati seorang gadis yang tengah terduduk menatap luar jendela.
"Seharusnya kamu istirahat, Navya."
"Kenapa aku kembali kesini lagi, dokter?" Navya mengabaikan perkataan dokter Risa dan justru kembali bertanya.
Dokter Risa tampak menatap gadis di hadapannya ini dengan sendu. Ia dapat melihat wajah Navya yang sangat pucat.
"Kamu kembali drop, Navya. Kamu pasti tidak mengikuti instruksi ku, kan?" Navya hanya menatap Dokter muda yang bernama Risa itu dengan penuh arti.
Tanpa di jawab pun, dokter itu pasti tau jawabannya. Ini bukan pertama kalinya Navya melanggar aturan.
"Ikut atau tidak hasilnya sama saja kan? Aku tetap tak bisa melakukan apapun selain menunggu waktu." Kalimat Navya mampu mencubit perasaan dokter Risa.
Bagaimana tidak? Ia sudah cukup lama mengenal Navya, bahkan sebelum dirinya menjadi seorang dokter yang sukses seperti sekarang ini.
Sebelum ia menjadi dokter pribadi Navya, gadis itu lebih dulu mendapatkan perawatan di luar negeri. Namun hasilnya tetap saja nihil.
Ia tahu bagaimana perjuangan Navya untuk bertahan dari penyakit mematikan yang seakan terus memantau kehidupan nya. Oleh sebab itu, disinilah ia sekarang. Dokter Risa ingin membantu gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri untuk melewati kerasnya kehidupan.
Dokter Risa tampak menangkup wajah mungil Navya dengan kedua tangannya. Ia dapat melihat gurat wajah sedih dari gadis itu.
"Hei, jangan pernah mengatakan hal itu. Dimana Navya yang selama ini selalu kuat dan tersenyum, hm?"
Navya hanya tersenyum tipis. Ini bukan seperti dirinya yang biasa. Navya akan selalu ceria walau dalam situasi apapun. Namun sekarang, ia seakan terpuruk dalam lubang yang teramat dalam. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya.
Dadanya terasa sesak. Ia ingin sekali menangis. Mengingat setiap perjuangan yang selama ini ia lakukan ternyata tidak membuahkan hasil.
"Aku tidak ingin orang lain menderita karena diriku. Setidaknya sebelum aku pergi... Aku bisa mengisi hari-hari mereka dengan kenangan hangat yang tak akan terlupakan."
.
.
.
Pagi tiba, mentari kembali bersinar menyapa bumi. Suara kicauan burung terdengar sangat riang. Bau tanah yang basah karena hujan menyeruak ke penciuman hingga meninggalkan genangan air dimana-mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kenangan Bersama mu
Novela JuvenilAku hanyalah cowok biasa yang cupu dan pengecut. Aku sama sekali tidak memikirkan orang-orang yang selama ini mempermainkan ku. Disaat aku terpuruk, putus asa dan ingin mengakhiri semuanya. Dia datang mengulurkan tangannya kepada ku, hingga pada akh...
