Sepanjang perjalanan dari tempatmya bekerja, aura penuh cinta menguar dari gadis yang sedang memejamkan mata di kursi penumpang dengan bibir tak lepas dari senyum manisnya.
"Apa ada hal menyenangkan yang membuatmu selalu tersenyum sepanjang jalan, Lea?" Steve sesekali menengok gadis di sebelahnya yang nampak tenang dengan imajinya.
Lea membuka mata. "Tidak juga. Bagaimana harimu? Menyenangkan?"
Steve mengangguk dan masih ada yang tak biasa pada ekspresi gadis yang disukainya sejak di bangku perkuliahan itu.
Tujuh tahun yang lalu
Seorang pemuda nampak sedang memerhatikan seorang gadis yang duduk berdua dengan sang sahabat di pinggir taman kampus yang tak jauh darinya. Di sebelah pria itu sendiri, duduk seorang gadis dengan mata sipit dan perawakan sedikit kurus, Sekar Ayu, sang kekasih.
"Steve, aku mau ke perpustakaan kota setelah ini. Apa kau bisa mengantarku?" tanya Sekar.
Steve masih dengan lamunannya tentang gadis berbaju abu yang sedang tertawa dengan riangnya, memperlihatkan lesung pipit yang menambah kecantikannya. Merasa tak ada jawaban dari sang kekasih, Sekar menoleh ke arah sebelahnya dan memerhatikan pandangan sang kekasih ke mana tujuannya. Saat dia tahu ada seorang gadis dengan baju abu sedang tersenyum kecil ke arah Steve. Sekar berdecak dan memutuskan lamunan Steve dengan mencubit tangan pria dengan buku di tangannya itu. "Apa kau mendengarku?" tanya Sekar dengan wajah sebal.
Steve sedikit terkejut mendapat cubitan dari gadis yang menjadi teman hatinya selama hampir 2 tahun itu. "Kenapa? Kau mau pulang sekarang?" tanya Steve polos.
Sekar yang sudah badmood langsung berdiri dan berlalu tanpa menjawab pertanyaan Steve. Sementara Steve mengernyit. "Ada apa dengannya?" gumamnya.
Steve mengabaikan Sekar dan memutuskan untuk berjalan ke arah 2 gadis itu. "Hei, kau si anak ayam, bukan?" tanya Steve menyapa kedua gadis yang sedang saling melempar candaan sebelumnya.
Lea mengernyit, mencoba mengingat wajah familiar di depannya dan beberapa detik kemudian seperti bola lampu yang menyala, dia mengangkat telunjuknya. "Ah, aku ingat. Kakak yang dulu pernah... Hmm, itulah pokoknya," jawab Lea sambil menutupi sedikit rasa malunya.
Saat OSPEC hari pertama Lea sudah terlambat dan mendapat hukuman dari kakak tingkatnya untuk merayu sosok yang sekarang sedang terkekeh geli di depannya itu.
"Bisa untuk memanggilku dengan Lea saja, Kak? Jangan ingatkan aku tentang panggilan aneh itu?"
Steve mengambil tempat duduk di sebelah Briana dan mengangguk. "Baiklah, Lea. Aku hanya ingin mengembalikan note-mu yang sempat jatuh saat OSPEC kemarin itu." Steve menyodorkan sebuah note berukuran sedang ke arah Lea. "Ini ...."
Sementara Briana hanya menunduk tak berani bergerak, menormalkan detak jantungnya yang terdengar nyaring karena duduk bersebelahan dengan kakak tingkat sahabatnya yang lumayan tampan. Briana memang tidak satu universitas dengan Ellea tapi mereka sama-sama memiliki waktu luang untuk saling bertemu seperti saat ini-di kampus Ellea.
Beberapa minggu kemudian-saat perjalanan pulang, Steve yang sedang fokus mengendarai mobil tiba-tiba menghentikan lajunya karena melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.
Di sebuah Cafe, seorang pemuda sedang memegang tangan sang kekasih kemudian mengecupnya. Sementara sang gadis tersenyum dan memandang penuh rasa pada pemuda di depannya. Tak ada yang salah untuk sekilas namun di sini yang jadi pemerannya adalah Sekar dan juga sahabat baiknya. Meski hatinya sudah terbagi dengan sosok yang sedang kesal di sebelahnya, Steve masih belum bisa terima jika sang kekasih mengkhianatinya dengan temannya sendiri. Dia memutuskan untuk turun dan menghampiri 2 sosok itu. "Jadi begini?" tanya Steve ketika sudah sampai di dekat meja Sekar dan Arya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masquerade
RomantikEllea Prisa menganggap seorang Jayden Park adalah lelaki berwajah datar tanpa ekspresi yang harus dijauhi. Bukan karena takut jatuh cinta, melainkan karena pria itu sama berbahayanya dengan dirinya. Baginya, makhluk hidup berjenis kelamin 'laki-laki...
