27. It's Not Just A Threat

177 21 1
                                        

Tiba di apartemen, Ellea segera membersihkan diri lalu berencana tidur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tiba di apartemen, Ellea segera membersihkan diri lalu berencana tidur. Gadis itu baru memoles krim malam tapi suara bel menginterupsi rencananya. Dengan langkah malas, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Namun, tidak ada seorang pun. Padahal Ellea tidak lama membiarkan si pemencet bel itu menggantung. Ellea berdecak sebal dan akan menutup pintu ketika sebuah kotak ungu dengan glitter yang menghiasi sisi pita mencuri perhatiannya. Dia mengambil dan membawanya masuk. Tidak ada nama si pengirim, hanya ada nama Ellea saja.

Ukuran kotaknya sebesar kotak jam tangan. Elegan dan menggoda Ellea untuk segera membukanya. Dibukanya kotak itu dengan hati-hati. Bukan karena takut itu berisi bom atau hal konyol lainnya. Ellea hanya berjaga-jaga, baru kali ini dia mendapat paket tanpa nama.

Selamat tidur. Matilah dengan damai.

Pesan singkat yang menyambutnya sebelum Ellea berteriak kencang dan menjatuhkan kotak tersebut. Napasnya terengah. Tubuhnya gemetar dan jatuh terduduk di karpet bulu dekat kaki sofa. Sementara kotak itu tergeletak tak jauh darinya. Perutnya mual, masih dengan jantung bertalu, Ellea berjalan cepat ke arah toilet dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Rasanya dia ingin memuntahkan apa saja yang hari ini dia konsumsi. Bagaimana bisa ada orang iseng yang mengiriminya katak mati dengan isi perut berhamburan. Bahkan tulisan yang diyakini Ellea bukan dari tinta merah biasa membuatnya bergidik. Ini sudah keterlaluan.

Ellea menyesal tidak pulang ke rumahnya. Seharusnya tadi dia minta antarkan Jayden ke rumahnya jika tahu ada kejutan gila macam ini. Setelah membilas mulut dan mencuci tangan, Ellea berniat memanggil  sekuriti untuk meminta tolong membuang kotak tersebut tapi dering ponselnya menghentikan gerakan langkahnya. Tanpa melihat caller id, Ellea menerima panggilan itu.

"Halo." jawaban itu terlalu tergesa seperti orang yang baru sedang berlari, membuat orang yang berada di seberang panggilan heran.

"Ada apa dengan suaramu?"

Ellea baru melihat siapa si pemanggil dan berdehem sejenak. Dia tidak perlu berpikir panjang untuk menceritakan apa yang baru saja dia dapatkan. Tidak ada Steve. Kali ini Ellea benar-benar merealisasikan niatnya untuk memberi jarak pada sahabatnya itu. Jayden tidak seburuk itu, meski terkadang Ellea tak cukup mengerti akan dirinya. Namun, sejauh ini pria itu tidak pernah berbuat buruk atau mendekatinya seperti pria-pria mata keranjang lainnya. Jayden berbeda dan itu sudah cukup bagi Ellea, menempatkan pria itu ke dalam daftar orang yang sedikit bisa dipercaya.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Tetap tenang, sepuluh menit lagi aku akan berada di sana."

Jayden memutus sambungan itu. Segera beranjak dari bar tempatnya berdiam diri sejak mengantarkan Ellea. Jayden sadar ada yang salah dengan otaknya sejak malam itu. Semua terasa rumit dan tak bisa dijelaskan. Bersama dengan Ellea semakin membuat kewarasannya terkikis. Jayden pikir ini salah. Tak seharusnya dia merasakan perasaan aneh seperti itu pada gadis itu, tapi sungguh dia menikmatinya. Ellea dan sikap apatisnya. Menjadi hal utama yang menarik perhatiannya. Dia tidak berusaha mencuri perhatiannya dengan melakukan drama murahan seperti wanita-wanita yang mendekatinya. Sikap ketus dan tak acuhnya adalah cerminan dirinya sendiri. Jayden tidak menyangkal untuk itu. Ellea menyimpan sebuah luka masa lalu, sama seperti dirinya.

MasqueradeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang