Terkadang, menjadi dewasa itu melelahkan. Retorika kehidupan mengubah kemurnian, topeng dikenakan dan dialog mulai diperankan. Palsu.
- Ellea Prisa -
***
"Lea ...."
Suara itu. Ellea tidak pernah melupakannya. Hipotermia. Tubuhnya kaku, dingin dan tak bisa digerakkan. Hanya dengan satu panggilan, ia merasa berada di dunia fantasi. Tujuh tahun itu bukanlah waktu yang singkat untuk melupakan, tapi Ellea bahkan tak bisa benar-benar berhasil menghilangkan sosok itu dari ingatannya.
Kedua pasang mata itu masih tetap saling mengunci dalam keterkejutan. Pria itu berdehem canggung. "H-hai, apa kabar?"
Ellea tak tahu harus berekspresi seperti apa. Marah karena situasi mereka berdua sekarang menjadi canggung tidak jelas seperti saat ini atau bahagia, setidaknya pria itu masih mengingatnya dan berusaha menampilkan senyum dalam sapaannya.
"Baik."
Gestur pria itu terlihat lebih canggung dari pada Ellea. Melihat penampilan gadis masa lalunya yang nampak dewasa, juga aura yang memancing rasa tertariknya kembali, ia menutup mata sejenak untuk mengusir pikiran liar dalam kepalanya.
Ellea mengedarkan pandangan. Mencoba mencari oksigen yang terasa sulit ia dapatkan. Ia berdehem, "Baiklah, sepertinya aku menghalangi jalanmu. Permisi."
Ellea memilih pergi. Dalam kepalanya, dia belum pernah mempersiapkan kalimat apa yang akan ia ucapkan pada pria itu ketika bertemu kembali. Langkahnya membawanya dengan tergesa ke arah parking area. Kenangan kebersamaan mereka berputar dengan sendirinya. Ia menumpukan kepalanya di atas kemudi. Napasnya tersendat, naik turun mengikuti rasa aneh yang mulai menjalar dari pusat hatinya.
Sakit, rindu, kecewa atau cintakah? Ellea tidak bisa memilah rasa mana yang paling dominan pada dirinya saat ini. Ia menggeleng, mengusir apapun yang mencoba membawanya ke masa lalu. Bagaimana pun, semuanya sudah berakhir dan seperti prinsipnya yang sudah-sudah. Sesuatu yang sudah berakhir takkan bisa menjadi bagian dari dirinya kembali. Itu pasti dan memang harus seperti itu. Berlaku untuk siapapun, tak terkecuali ....
Menyalakan mesin mobil dan segera melesat dari tempat itu, Ellea mengendarai dengan sedikit cepat. Bohong jika pertemuan tak terduga itu tak memengaruhinya sama sekali. Ellea tidak percaya, setelah sekian lama mengapa ia harus bertemu dengan pria itu kembali? Hidupnya sudah normal tanpa kehadirannya. Meski ia tak bisa kembali menjadi Ellea seperti dulu, ia lebih memilih mengeraskan hatinya untuk apapun dan menikmati setiap permainan yang ia ciptakan bersama pria-pria itu. Namun, siapa yang bisa mencegah apa yang sudah diskenariokan oleh Tuhan? No one else.
***
Persahabatan dan cinta. Tak pernah ada dalam kamus Ellea selama ini. Berbeda dengan Briana. Gadis Hadiwijaya itu tak memiliki prinsip saklek tentang kehidupannya. Ia menjalani hidup dengan santai, mengikuti alur yang sudah diberikan Tuhan dengan patuh. Sesekali mengeluh, sesekali bersyukur. Keluhan yang ia gumamkan tak pernah lepas dari sikap Steve akan perasaannya. Itu dulu. Sekarang, harinya terasa sempurna. Jatuh cinta dan efeknya.
Memiliki sosok yang menjadi cinta pertamanya seperti mimpi baginya. Tidak mudah menunggu sosok tersebut selama bertahun-tahun dalam ikatan persahabatan. Namun, sekali lagi ... Tuhan yang memiliki kuasa. Briana bukan lagi seorang punguk yang merindukan bulannya. Ellea bahagia untuk itu. Jauh dari kisahnya. Glenn bukanlah cinta pertamanya. Lebih tepatnya pacar pertamanya. Cukup menggelikan tapi memang begitu. Masa remaja dan fokus belajar. Ia baru berani menjalin hubungan romantis itu pada tingkat dua masa kuliahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masquerade
RomanceEllea Prisa menganggap seorang Jayden Park adalah lelaki berwajah datar tanpa ekspresi yang harus dijauhi. Bukan karena takut jatuh cinta, melainkan karena pria itu sama berbahayanya dengan dirinya. Baginya, makhluk hidup berjenis kelamin 'laki-laki...
