"Satu hal yang kupahami darinya; aku mendapati diriku sibuk menjadi kuat tanpa paham bagaimana cara untuk 'sembuh' terlebih dahulu. Itu kebohongan."
- Ellea Prisa -
🎑🎑🎑
"Morning, Alana bertanya, kau jadi ke rumah? Maaf, mengganggu waktumu."
Membayar janji. Itulah yang akan dilakukannya hari ini. Sepulang dari Bali kemarin sore, ia langsung mengecek pekerjaannya pada asistennya. Sejauh mana perkembangan dan kendala apa saja yang mungkin ada. Namun, seperti biasa, Jessie bisa diandalkan dengan baik.
Ellea tidak lupa jika memiliki sebuah janji. Pesan Justin hanya sebagai pengingat dan ia mengatakan jika satu jam lagi, ia akan sampai di rumah mereka.
Mengingat gadis mungil itu, Ellea tersenyum. Wajah berbinarnya saat disuguhi dessert kesukaannya, cara dia memohon dan berceloteh, semua terekam jelas di kepala Lea. Ia sudah bersiap dengan setelan kasualnya. Rambutnya sengaja ia ikat, memudahkan dirinya saat kemungkinan gadis lima tahun itu akan mengajaknya bermain.
Mobil sedan Ellea menyapu jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang. Jalanan di hari sabtu padat seperti biasa. Sebelum mencapai Boulvard, ia mampir di kedai ice cream, memilih rasa favoritnya yang juga menjadi rasa kesukaan Alana. Setelah selesai, ia melanjutkan perjalanannya. Bersenandung kecil dan melihat pemandangan muda mudi di trotoar yang sedang bergandengan tangan. Ia tersenyum kecil. Kebahagian yang pernah dirasakannya.
Kalimat cinta yang tak pernah absen dari mulut pria itu. Janji-janji manis dan harapan yang tak lebih dari sebuah debu. Ellea benar-benar naif. Mendoktrin diri sendiri jika pria baik seperti dia tidak akan mungkin berbuat hal yang akan menyakitinya. Ia tak tahu, orang yang paling dekat dengannya justru memiliki prosentase paling tinggi yang akan membuatnya terluka. Itu sudah menjadi permainan hati. Ketika kau meletakkan sebuah hati pada hati lainnya, konsekuensi sebuah rasa sakit adalah jaminan. Sesak. Rasa sakitnya tak bisa didefinisikan dengan benar. Sama seperti saat pertama kali mengenal rasa itu. Keduanya berjalan beriringan. Semakin tinggi rasa bahagia yang kita dapat, kadar rasa sakit itu pun akan sama tingginya.
Ellea menghapus kenangan yang melintas itu cepat-cepat. Kejadian itu sudah berlalu dan masa lalu tak harus berada di depan sebagai acuan. Biarlah ia tertinggal. Ellea sudah sejauh ini melangkah untuk lepas dari belenggu itu. Jadi, bukan saatnya untuk mengingat kembali peristiwa yang sudah berhasil membunuh karakternya itu.
"AUNTY!"
Seruan dari Alana membuat langkah Ellea lebih cepat. Gadis lima tahun itu bahkan sudah menunggu dirinya di luar rumah untuk menyambutnya. Bersama sang ayah di belakangnya yang hanya menggeleng kecil melihat tingkah putrinya.
"Hai, Sugar. Look this!"
Ellea memerlihatkan sesuatu di tangan kirinya setelah pelukan Alana terlepas. Gadis dengan dress biru muda itu melebarkan matanya. "Is this for me?"
Binar kebahagiaan Alana menjadi obat untuk Ellea. Setelah mengingat kejadian yang sudah lama tak ingin diingatnya, melihat Alana adalah sebuah obat. Ia tersenyum dan mencubit pelan hidung mungil Alana. "For me too. Apa Alana pikir bisa menghabiskan ini semua tanpa Aunty?"
Alana terkekeh. Justin menghampiri kedua perempuan itu lebih dekat. "Hai, maaf merepotkanmu. Pasti macet di weekend seperti ini." Justin memberi salam lewat tangannya. Ellea membalasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masquerade
RomansEllea Prisa menganggap seorang Jayden Park adalah lelaki berwajah datar tanpa ekspresi yang harus dijauhi. Bukan karena takut jatuh cinta, melainkan karena pria itu sama berbahayanya dengan dirinya. Baginya, makhluk hidup berjenis kelamin 'laki-laki...
