10. The Other Side of Park

225 22 0
                                        

"Kadang, apa yang kamu lihat tak lebih hanya sebuah ilusi. Karena pada kenyataannya, yang nyata itu tidaklah nyata. So, can you see me?"

-Jayden Park-

🎬🎬🎬

"Hai ...."

Sapaan dari pria bertelinga peri itu mengundang perhatian tiga orang yang sedang menikmati sarapannya. Briana seketika menjatuhkan sendoknya. Ini masih pagi dan ia sudah mendapat tamu tak terduga.

Berbeda dari reaksi terkejut sahabatnya, Ellea justru masih memiliki sisa rasa malu atas ketidaktahuannya beberapa waktu lalu. Lantas ia hanya tersenyum kecil lalu pura-pura fokus pada sarapannya kembali.

"Hai, kau sudah sarapan?" Steve satu-satunya yang masih bereaksi normal. Ia menggunakan kepalanya sebagai isyarat pada Chanyeol untuk duduk. "Bergabunglah."

Chanyeol mengangguk. "Terima kasih. Aku hanya ingin mengundang kalian untuk bergabung bersama kami nanti malam di depan, Barbeque."

"Kami akan kembal-"

"OK, kami pasti datang. Iya, kan, Lea?" Briana memotong kalimat Ellea tanpa permisi. Gadis itu memandang horor Briana. Seharusnya siang ini mereka sudah harus kembali ke Jakarta sesuai rencana awal, tapi apa yang sedang dilakukan oleh Briana? Mengubah rencana tanpa diskusi.

"Bri, ap-"

"Kupastikan semua pekerjaanmu tidak ada masalah. Serahkan semuanya padaku," sela Briana menggunakan bahasa indonesia.

Ellea mendesah panjang. Briana selalu punya cara untuk membuatnya menyerah. Sikapnya yang tak mau kalah dan pemaksa terbungkus rapi oleh wajah manisnya. Sejak awal mengenal Briana, Ellea tahu jika sikap keras kepalanya suatu saat akan merepotkannya. Berkali-kali ia mengabaikannya, Briana masih tetap mendekatinya, begitulah awal mula mereka bisa sampai sedekat ini.

"Why? Is there any problem?" Chanyeol memerhatikan helaan panjang Ellea, berpikir jika mungkin tawarannya itu bukan ide yang bagus sehingga membuat dua gadis yang duduk berseberangan itu sengaja menggunakan bahasa yang tak ia mengerti.

"No, we will come." Ellea menyerah. Mata bulat Briana dengan permohonannya membuat Ellea mengangguk. Ia mencoba mengerti, Briana hanya mencoba memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak akan terjadi lagi di masa depan, lebih dekat dengan idolanya hingga mendapat tawaran seperti ini. Siapa yang akan menolak? Mungkin jika itu Kevin, Ellea juga akan melakukannya tanpa pikir panjang.

"Good. Kami sedang bermain voli pantai. Kau mau ikut? Kami kurang satu orang sebenarnya," tawar Chanyeol sembari menaik turunkan kedua alisnya. "Jayden dan Jimmy sudah bergabung."

"Sepertinya bagus. Kami juga tidak ada rencana setelah ini. Bagaimana, Lea?" Steve meneguk orange juice miliknya hingga tersisa sedikit. "Aku tak perlu menanyakannya pada Briana, jawabannya sudah jelas di wajahnya."

Ellea mengumpat dalam hati. Kenapa spesies itu masih ada di sini? Dia harus bersikap bagaimana saat bertemu dengannya? Setelah kejadian malam itu, ia sangat berharap jika ia tak harus melihat Jayden dan pria itu kembali. Perkirannya salah, ia pikir Jayden sudah tak berada di sini lagi. Saat keluar tadi pagi, Lea bahkan tidak melihat kedua pria itu sama sekali. Jadi, di mana mereka bersembunyi? Apa mereka terganggu setelah ketahuan olehnya sedang melakukan itu? Jadi mungkin mereka menginap di tempat lain yang lebih privasi.

"Lea?" Steve membuyarkan lamunan Ellea. "Apa perutmu masih sakit?"

Ellea menggeleng. "Aku tak harus bermain, kan?" Ia tahu jika ada Jayden, ia tak akan bisa benar melakukan apapun. Ia juga yakin, permainan itu hanya khusus untuk para pria saja.

MasqueradeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang