12. Engagement; Pana Cota

196 24 0
                                        

"Tak harus memesona. Lakukan saja apa yang kau suka dan jangan pernah membuka telingamu untuk hal-hal yang bisa menjatuhkanmu."

- Ellea Prisa -

🎬🎬🎬

Ada tiga hal yang membuatnya bahagia; makanan manis, pantai dan pekerjaannya.

Ellea sedang berdiri di depan meja panjang, memilih dessert yang sejak tadi menggodanya. Berbagai menu manis berada di hadapannya. Ellea bingung mau memulainya dari mana. Gadis dengan balutan dress hitam selutut itu sibuk mengamati bentuk-bentuk lucu makanan manis di depannya hingga tak sadar ada seorang paruh baya yang sejak tadi mengulum senyum memerhatikan kelakuannya.

Acara pertunangan itu berlangsung di kediaman Briana. Para tamu undangan yang tak lebih dari 250 orang itu adalah saudara dan teman dari kedua belah pihak. Briana dan Steve sengaja membuat acara pertunangan mereka sederhana. Mereka hanya mengundang orang-orang terdekat saja.

"Sayang, kau berencana menggemukkan diri?" Felisia datang menyapa Ellea yang sedang sibuk mengunyah Pana Cota. Ia sedikit terbatuk karena terlalu asik menikmati makanan manis itu sendiri tanpa memerhatikan lingkungan sekitar. Ibu Briana mengambilkan air putih dan langsung diterima Ellea.

"Terima kasih, Tante." Ellea sudah mengenal dekat ibu Briana, jadi tidak ada rasa canggung sama sekali di antara mereka. "Itu salah Tante menyediakan makanan enak semua. Lea bingung harus mulai dari mana."

Felisia mendengus. "Sudah, stop dulu makannya. Dari tadi kau fokus makan terus. Tante mau mengenalkanmu dengan temen tante." Felisia menarik Ellea, berjalan ke luar ruangan menuju samping rumah. Beberapa tamu mengobrol dan yang lainnya sedang menikmati hidangan sambil berdiri di sekeliling kolam.

"Luke!" Felisia berseru, memanggil paruh baya yang masih gagah dengan setelan suit-nya. Badan tegap, kulit bersih dan sedikit uban yang memang sengaja dibiarkan. Menambah kesan kebapakan dengan kesan ramah.

Paruh baya tersebut menyunggingkan senyum dan memerhatikan Ellea sejenak. Ellea mengangguk dan tersenyum kecil.

"Ini sahabat putriku. Sudah kuanggap sebagai putri keduaku, meski usianya lebih tua dari Briana." Felisia terkekeh dan mendapat respon cubitan dari Ellea.

"Bagian tuanya tidak perlu disebutin jugalah, Tante."

Kedua paruh baya itu tertawa bersama. Lalu, pria asing itu mengangkat telapak tangannya. "Lucas Park."

Ellea menyambut salam perkenalan dari Lucas. "Ellea Prisa."

Lucas mengangguk. Jika melihat wajahnya, Ellea sepertinya tidak asing tapi dia yakin belum pernah bertemu dengan pria Park itu sebelumnya. Sepertinya hidupnya dikelilingi dengan pria bermarga Park belakangan ini.

"Kau suka makanan manis? Om perhatikan sejak tadi, kau asik sendiri dengan makanan-makanan itu." Saat berbincang dengan Felisia dan Hugo tadi, ia tak sengaja melihat gadis di depannya itu sedang mengamati desert di meja. Pandangannya seolah sedang bingung mau menjatuhkan pilihan yang mana. Padahal itu hanya makanan, pikir Lucas.

Ellea tersenyum kikuk tapi mengangguk mengiyakan. Dia tidak sadar jika ada yang memerhatikannya sejak tadi. Untuk itu, rasa malu baru menghinggapinya sekarang. Mereka berbincang-bincang sebentar. Ellea menyebutkan pekerjaannya dan hubungan pertemanannya dengan kedua pasangan baru tersebut pada Lucas. Sesekali Felisia mengejek Ellea dan menggodanya untuk segera menyusul Briana. Usia Ellea sudah lebih dari cukup untuk memiliki hubungan serius dengan lelaki. Jika saja Felisia memiliki seorang putra, ia pasti akan menjodohkannya dengan Ellea. Sementara Lucas mengangguk setuju. Gadis seperti Ellea tidak akan sulit jika menginginkan seorang pria di sisinya. Kepribadian yang ditunjukkan membuat orang lain mudah menyukainya, termasuk Lucas yang baru pertama kali bertemu. Ellea seorang yang terbuka dan sopan serta tidak memiliki sifat ambisius seperti kebanyakan wanita yang pernah dikenalnya.

MasqueradeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang