Dia merasa takut. Sangat takut. Ingin melawan pun percuma. Semua sudah terjadi, tak ada yang bisa dihindari lagi. Jelas sekali diwajahnya terlihat rasa kecewa yang amat mendalam. Kecewa pada dirinya sendiri. Hatinya hancur. Begitupun dengan masa depannya dan juga impian nya.
Ya! Ini semua karena lelaki brengsek itu. Lelaki yang telah menodai Jasmine. Lelaki yang merusak harga diri Jasmine. Lelaki yang meremehkan seorang perempuan. Lelaki bajingan!
"Jasmine,maaf." Rendi menghela napas pelan. Wajahnya menunjukkan penyesalan entahlah itu benar atau hanya drama saja.
Jasmine diam. Ia tak bergeming sama sekali. Rendi mendekatinya, menggengam tangan Jasmine. Dengan amarah yang sangat mendalam, Jasmine menghempaskan tangan Rendi. Ia menatap tajam Rendi, walau matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Jangan pegang gue cowok BRENGSEK!"
"Jasmine, maaf. Sumpah tadi tuh,gue khilaf. Dan itu juga karena lo, coba aja lo tadi nggak ngelawan. Mungkin nggak kaya gini." ujar Rendi. Jasmine tetap pada posisinya. Diam dan menahan sesak di dadanya.
"Gue minta maaf, Jasmine. Gue itu cinta sama lo. Tapi lo nggak pernah lihat gue,lo nggak pernah ngehargain perasaan gue. Lo nggak pernah ngertiin gue," Rendi menangis. Ya cowok itu menangis. Dan itu membuat benci di dalam hati Jasmine bertambah. Dendam. Amarah. Sudah tak bisa ditahan lagi oleh Jasmine.
"Lo cinta sama gue?LO CINTA SAMA GUE HAH?" teriak Jasmine tepat di depan wajah Rendi.
Rendi mengangguk.
"Nggak ada di dunia ini cowok yang ngerusak cewek. Dan alasan itu karna cinta. Kalopun ada, itu cuma COWOK BRENGSEK YANG NGGAK PERNAH NGEHARGAIN PEREMPUAN!"
"Gue minta maaf, Jasmine. Gue minta maaf, maafin gue." Rendi terus menatap wajah Jasmine.
Jasmine tersenyum pahit,"Kata maaf lo nggak bisa ngembaliin apa yang udah lo rebut dari gue."
Sunyi. Jasmine maupun Rendi terdiam. Keduanya masuk ke dalam dimensi pikiran mereka. Air mata yang sudah mengumpul di bawah pelupuk matanya pun sudah turun, menuruni pipi indah Jasmine. Ini adalah titik terendah dia. Ini adalah hal yang begitu menyedihkan, hal yang mampu membuat dia berpikir untuk mengakhiri dirinya, hidupnya, dan segalanya. Entah apa yang akan dikatakan orang nanti tentang dirinya. Ia tak begitu peduli. Namun satu hal yang ia takuti daripada hujat-hujatan orang lain adalah, papahya.
Pasti lelaki paruh baya itu sangat terluka nanti. Entah harus bagaimana bicara semua ini padanya, menatap wajahnya yang sudah mulai banyak kerutan di wajahnya saja membuat Jasmine bisa menangis terlebih dahulu. Rasanya memang menyakitkan.
"Apa gunanya gue hidup," lirih Jasmine sambil menghapus air matanya.
Rendi yang sedaritadi diam mulai memperhatikkan setiap pergerakan yang dilakukan Jasmine. Matanya membulat sempurna, saat Jasmine mengambil sebuah botol minum beling. Ia memecahkannya hingga berkeping-keping. Jasmine mengambil satu beling yang cukup tajam ujungnya. Ia memperhatikkannya, memejamkan matanya kemudian mengarahkan benda tersebut ke arah tangannya.
"Jasmine!" Rendi merebut beling tersebut hingga melukai tangannya. "Nggak kaya gini caranya!"
Rendi langsung menyingkirkan pecahan-pecahan beling tadi, lalu memastikan semua beling itu tidak ada lagi di kamarnya.
"Kenapa?KENAPA REN?" teriak Jasmine makin histeris.
"Udah gue bilangkan, gue pasti tanggung jawab. PASTI!" Rendi mendekat ke arah Jasmine. Tangannya meraih kedua tangan Jasmine yang sedang menjambak rambutnya sendiri.
"Maaf gue bikin lo kaya gini. Tapi cuma kaya gini biar lo bisa sama gue," Rendi menghela napasnya kasar saat Jasmine menghempaskan tangannya.
"Jangan sentuh gue lagi brengsek!" ujarnya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JASMINE✓
Tienerfictie[END] Sendiri. Satu kata yang menemani jasmine saat ini. Dalam kesehariannya tak pernah ada tawa,senyum ataupun bahagia semuanya hanya keajaiban yang tak mungkin terjadi. Hingga suatu hari nanti ia akan menemui seseorang yang akan membimbingnya me...
