'Dulu, memandangmu aku harus bersembenyi. Dan sekarang, masih sama saja.'
***
Tiga hari sudah Gavin dan Arin tidak sekolah, kemarin mereka baru sampai di Jakarta dan hari ini mereka akan kembali kerutinitas mereka sebagai pelajar.
Kini Arin akan menetap dirumah milik keluarga Gavin, dan soal Antony dan Ani mereka benar-benar pergi ke Prancis kemarin ketika keluarga Arin pulang kembali ke Jakarta. sedangkan Ani dan Antony pergi ke Prancis dan akan menetap disana. Gavin sempat keberatan karena orang tuanya sangat terburu-buru. Tapi Gavin bisa apa? mungkin pekerjaan lebih penting dari pada dirinya.
Sejak adzan subuh berkumandang Arin sudah bangun, setelah selesai menjalankan solat subuh Arin pergi kedapur untuk membuat sarapan.
Saat sarapan sudah siap dihidangkan di meja makan, Gavin turun dari kamarnya sudah lengkap dengan pakaian sekolah.
"Sarapannya sudah siap. Aku mau madi dulu, kalo mau kakak duluan, duluan aja." Ucap Arin ketika Gavin duduk dikursi meja makan.
Jangan berpikir jika didalam satu rumah mereka satu kamar. Karena kenyataannya Arin dan Gavin memilih tidak satu kamar. Mungkin jika orang tua mereka tau mereka akan ditegur habis-habisan karena setatus mereka yang sudah suami-istri.
Tidak butuh waktu lama, Arin sudah kembali dengan pakaian sekolahnya. Ada rasa senang ketika Arin melihat Gavin masih belum menyentuh makanannya, seulas senyum terbit di paras cantinya.
"Kakak belum makan?" Tanya Arin masih dengan senyumnya
"Ini juga gue mau makan." Jawab Gavin sambil mengambil nasi goreng kedalam piringnya.
Meskipun nada bicara Gavin masih dingin dan ketus, bisa melihat Gavin dari dekat beginipun Arin sudah senang meskipun harus tetap secara diam-diam.
Setelah sarapan selesai, Arin mengambil dua kotak bekal makanan. Satu untunya dan satu untuk Gavin. Harapannya cuma satu, Semoga Gavin mau membawanya.
"Kak, ini." Arin menyodorkan kotak berwarna biru kehadapan Gavin.
Gavin yang melihat itu mengernyit dan menaikan sebelah halisnya.
"Bekal." sahut Arin.
"Oh." Satu kata yang mampu menghabiskan kata-kata. Gavin mengambil bekal yang disodorkan Arin dan memasukkannya pada tas yang tersampir dipundaknya.
Mungkin mulai hari ini, Gavin akan membiasakan mambawa bekal kesekolahnya. Setidaknya ada rasa hangat ketika Gavin merasakan perhatian yang Arin berikan.
***
Arin meminta Gavin untuk menurunkannya di perempatan sebelum kesekolah. Arin tidak ingin jika Cila dan Pika melihatnya berangkat bareng Gavin. Mungkin jika itu terjadi, Arin akan habis diintrogasi oleh kedua sahabat cerewetnya.
"Beneran mau disini?" Tanya Gavin pada Arin yang sedang mencoba turun. Motor sport milik Gavin terlalu tinggi untuk ukuran Arin yang bertubuh mungil.
"Iya kak, disini aja." Sahut Arin yakin.
"Makasih." Lanjutnya.
Gavin hanya menganggukan kepalanya dan setelah itu kembali melajukan motornya menuju sekolah. Sebenarnya Gavinpun tidak yakin jika dia harus satu motor dengan Arin hingga parkiran. Dia sangat tidak suka menjadi pusat perhatian, oleh sebab itu Gavin menyembunyikan banyak hal dengan menjadi siswa yang biasa saja.
Arin melanjutkan langkahnya menuju sekolah yang tidal terlalu jauh dari perempatan.
'DORR!!'
"Astagfirulloh!" Kaget Arin ketika seseorang mengagetkannya.
"Cieee kaget cieee." Orang yang mengaggetkannya malah mengejek dan tertawa melihat Arin yang masih mengelus dada.
"Cila, Kebiasaan deh. Kalo aku mati jantungan gimana?" Tanya Arin yang langsung membuat Cila berhenti tertawa.
"Maaf deh maaf." Sahut Cila dengan cengirannya.
"Kemana aja tiga hari ngilang gak ada kabar?" Cila kembali bersuara.
"Emm, itu ada urusan keluarga." Bohong Arin. Dalam hatinya Arin terus meminta maaf karena sudah berbohong pada sahabatnya.
"Oh gitu, besok besok kalo gak masuk bilang jangan ngilang. Biar dede juga gak ngangen." Ucap Cila panjang lebar dengan gurauannya.
Arin sekali kali terkekeh dengan tingkah Cila sampai-sampai tidak terasa kalau mereka sudah ada didepan kelasnya.
***
Jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, Gavin tidak berniat pergi kekantin karena teringat bekal yang dibuatkan Arin untuknya.
"Vin, kuy kantin." Ajak Nathan yang sudah berdiri dengan Alvin. Sedangkan Gavin, dia masih bergeming tidak berniat untuk beranjak.
"Gue gak kekantin hari ini. Jawab Gavin yang membuat kedua sahabatnya saling menatap.
"Tumben." Sindir keduanya.
Gavin mengeluarkan bekalnya dari dalam tas. Lalu menyimpannya di atas meja. Kotak berwarna biru tak lupa dengan botol minum yang senada.
"Njirr sejak kapan lo bawa bekal?" Ucap Alvin heboh.
"Gileeee hayati kaget." Sahut Nathan dengan wajah sok terkejut.
Gavin tidak memperdulikan keduanya. Justru malah membuka bekalnya karena penasaran apa yang dibuat Arin untuknya.
Entahlah, senyum Gavin tiba-tiba terbit melihat isi kotak bekalnya, isinya memang hanya beberapa potong sendwich. Tapi Gavin tidak habis pikir bagai mana Arin menghias sendwichnya seperti untuk anak kecil. Sebuah mata dan bibir yang tengah tersenyum tergambar diatasnya dengan selai coklat.
"Kenapa deh lo malah senyum-senyum." Sindir Nathan yang ternyata masih ada disana. Sontak Gavin langsung kembali sadar dan kembali datar.
"Wahh tante Ani perhatian bet sama lo. Jadi pengen." Ucap Alvin sambil hendak mengambil satu sendwichnya.
Dengan sigap Gavin menghempaskan tangan Alvin agar tidak menyentuh bekalnya.
"Jangan minta. Gue gak bakal ngasih!" Sahut Gavin yang membuat Alvin dan Nathan mengernyit.
"Dihhh bang Gavin aneh deh! setelah tiga hari gak sekolah jadi aneh gini. Apa lo sakit." Alvin menempelkan tangannya di kening Gavin.
"Lepas. Sana kekantin." Gavin cukup jengah menghadapi sahabatnya yang bawel itu. Untung sahabat, kalau bukan udah di habis mereka.
"Kita diusir bang, dede sakit hati." Adu Alvin pada Nathan. Dia memang King drama, sampai-sampai terkadang Gavin dan Nathan malas mengakuinya sebagai sahabat.
"Najiss!" Nathan segera pergi dari sana dan diikuti Alvin yang semakin gencar menggodanya. Sedangkan Gavin hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tinggah absurd mereka.
'Sepertinya besok-besok kantin bakal kangen gue.' Kata Gavin dalam hati. Setelahnya dia tersenyum dan mulai memakan bekalnya sendiri.
***
Hollaaa ada yang nunggu? ok keanya enggak ada wkwkwk
Jan lupa vote dan komen ya😉 aku harap kalo masih ada yang baca jangan silent:) setidaknya aku butuh vote sama komen kalian buat penyemangat:'
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Love (Completed)
Teen FictionKALO MAMPIR JANGAN LUPA KASIH VOTE SAMA KOMENNYA YA, KARENA 1 VOTE DAN 1 KOMEN KALIAN SANGAT BERHARGA BAGI SAYA:) +LiBRARY + READING LIST KALIAN = SEMANGAT AKU BUAT NULIS❤ Arin mencintainya. Dua tahun sudah ia memendam perasaan pada kakak kelas yang...
