Supermarket

1.7K 99 3
                                        

Mentari bersinar dengan cerahnya, menembus  celah-celah gorden untuk membangunkan umat yang masih terlelap dalam tidurnya.

Gavin mengerang, cahaya matahari sukses mengganggu tidur lelapnnya.
Hari ini hari libur, sekolah libur, dikantorpun tidak terlalu banyak pekerjaan. Karena itulah Gavin ingin menghabiskan waktunya untuk tidur lebih lama.

'Tokk... tokk... tokk'

Suara pintu kamar Gavin diketuk. Rasanya minggu dan matahari sedang berkompromi hari ini. Gavin hanya ingin beristirahat lebih lama, tapi matahari dan ketukan pintu itu tidak membiarkannya tenang dalam tidurnya. Dan itu membuat Gavin terpaksa harus bangun dari tidurnya.

Gavin berjalan lunglai menghampiri pintu.
"Apa?" Tanya Gavin dengan setengah kesadarannya. Matanya masih tertutup sebelah dan rambut yang masih acak-acakan bertanda dia baru saja bangun.

"Sa-sarapan sudah siap kak." Jawab Arin tergagap. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya Arin melihat Gavin bertelanjang dada. Entah kenapa aliran darahnya tiba-tiba berdesir hangat dan menjalar hingga wajahnya terasa memanas.

Setelah mengatakan itu, Arin segera kembali kemeja makan dengan terburu-buru. Melihat Gavin seperti itu membuat jantungnya berdetak tidak normal, Gavin benar-benar terlihat sangat engg- Sexy.

Bicara soal Arin dan Gavin, setelah kejadian dimana Gavin mulai terbuka pada Arin dengan menceritakan rahasianya, hubungan mereka sedikit-demi sedikit mulai membaik. Meskipun ya- Hidup Gavin benar-benar menjadi tidak tenang karena terbongkarnya hal itu seiring berjalannya waktu.

Setiap hari, kolong meja Gavin selalu tidak absen diisi dengan berbagai macam coklat dengan berbagai merek. Setangkai bungan sampai surat cintapun tidak lupa didalamnya. Gavin mulai jengah, inilah yang ia tidak suka. Identitasnya terbongkar, maka hidupnya akan  tidak nyaman.

Manusia memang selalu terobsesi dengan tahta. Sehingga harta menjadi tolak ukur kefamousan seseorang. Itu yang Gavin tidak suka, karena orang akan mendekatinya karena harta yang dimilikanya bukan karena ketulusan.

Meskipun disekolah mereka tetap menjadi orang asing, setidaknya jika sudah dirumah mereka cukup dekat sekarang. Makan bersama, nonton tv bersama, belajar bersama, bahkan menghabiskan waktu bersama. Itu cukup membuat Arin senang, meskipun terkadang Arin harus bersabar menunggu Gavin pulang jika ada jadwal dikantor. Belum ada kata Cinta yang terucap dari mulut keduanya, meskipun disatu pihak harus mati-matian menyembunyikannya, dan yang satunya yang entah masih merasakan apa. Hanya kebersamaan yang biasa-biasa saja yang mereka lakukan seperti hubungan tanpa status padahal pernikahan telah mengikat mereka.

Kini Gavin dan Arin keduanya tengah berada dimeja makan, makan dengan tenang menjadikan dentingan sendok sebagai penghalang rasa canggung.

"Emm kak?" Arin memecahkan keheningan setelah beberapa menit selesai menghabiskan sarapannya.

Gavin hanya mengangkat sebelah aslisnya seolah berkata 'Apa?'

"Persediaan makanan udah habis, mumpung hari minggu kita belanja ya." Sepertinya Arin sangat antusias sampai-sampai senyumnya begitu lebar.

Ada perasaan hangat mengalir dipembuluh darah Gavin, detak jantungnyapun berdetak tak karuan. Entah perasaan apa itu, hanya sebuah senyuman saja bisa membuat Gavin terpana dan merasa tidak karuan.

"Ekhemm.. Bo-boleh." Gavin merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia jadi gagap seperti itu? Ahh mungkin dia sudah gila hanya karena tersihir sebuah senyuman.

"Asyikkk, yaudah mandi dulu sana kak. Ntar agak siangan kita kesupermarket."

Entah ada apa dengan Gavin hari ini, melihat tingkah Arin yang kekanak-kanakan terlihat lucu dimatanya. Bahkan bukannya merespond dia malah terus memperhatikan Arin dengan lekat.

Silent Love (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang