"Angkasa! Athala! Bangun! Ngapain kalian disini?" Seorang wanita membangunkan Angkasa yang sedang tertidur lelap. Athala yang telihat menggeletakkan kepalanya diatas perut Angkasa pun terbangun dan bangkit berditi ketika melihat seorang penjaga UKS yang membangunkannya.
"Ngapain kamu disini?!" Tanyanya.
Athala tidak ingin penjaga UKS itu mengiranya melakukan hal yang diluar pikiran penjaga uks itu. "Ss-saya nemenin Angkasa mbak" ucap Athala dengan gugup. "Kita nggak ngapa ngapain kok mbak"
Perlahan, mata Angkasa mulai terbuka. Wajahnya telihat begitu pucat. Tangan dan seluruh anggota tubuhnya telihat tak berdaya. "Iya mbak, kita nggak ngapa ngapain kok!" Ucap Angkasa sambil berusaha membangunkan tubuhnya dan bersender didinding. "Tadi gue yang nyuruh Athala buat nemenin gue di UKS"
Penjaga UKS-Mbak Caca- merasa tak percaya dan segera memastikan kondisi dan keadaan tubuh Angkasa. Ia mengulurkan telapak tangnnya dan menempelkannya ke dahi Angkasa. Dan ternyata mereka sedang tak bergurau. Mbak Caca melepaskan telapak tangannya dari dahi Angkasa. "Yaudah, Angkasa, kamu bisa tidur dan saya akan memberimu obat"
"Dan kamu Athala, bisa kembali kekelas dan mengikuti pelajaran yang ada!"
Athala pun membalikkan badannya dan hendak keluar dari kelas. Tangan dingin Angkasa menghalangi kepergian Athala. "Mbak, gue mohon. Ijinin dia buat nemenin gue disini. Sekarang ini gue lagi butuh dia"
Mbak Caca memegangi dahinya lantas berbicara pada batinnya sendiri. "Anak anak jaman sekarang. Maunya diperhhatiin kayak di drakor drakor"
Athala terkekeh pelan mendengar gerutu mbak Caca.
"Yaudah! Kamu boleh temenin Angkasa disini! Tapi inget! Nggak ada yang boleh melakukan hal hal yang tidak diinginkan dan bersifat memalukan sekolah dan juga diri kamu sendiri" setelah beberapa menit berfikir, mbak Caca memberi ijin kepada Athala untuk menemani Angkasa diruang UKS.
Angkaaa mengacungkan ibu jarinya kepasa mbak Caca. "Mbak Caca ambiguan ih. Tapi sip deh!" Ucap Angkasa sambil memberikan senyumannya kepada mbak Caca. Pernjaga UKS itu lantas pergi dan meninggalkan mereka berdua diruang UKS.
"Lesung pipi lo, mengingatkan gue kepada seseorang yang dulu pernah gue cintai, Sa" ucap lirih Athala sambil memandangi kuku kukunya yang ia mainkan.
Angkasa kembali merebahkan tubuhnya "benarkah?" Tanyanya tang lalu mengeluarkan handphone dari sakunya. "Siapa?"
"Kenzie! Dia temen kecil gue!" Ucap Athala yang mampu membuat Angkasa menghentikan aktifitasnya. "Apa lo bilang? Kenzie?"
Athala mengangguk pelan kepada Athala. "Nama lo, Athala Fauzea? Gue itu Kenzie. Apa lo lupa sama gue"
Ucapan Angkasa mampu membuat Athala meneguk ludah, dan lalu tertawa tak percaya ucapan lelaki tersebut. "Ya mana mungkin. Kenzie itu dulunya culun, cupu, anak mama banget orangnya!"
Angkasa mengeluarkan sesuatu dari kantung sakunya. Iya, bungkus rokok. Ia membukannya, dan bukan sebatang rokok yang ia keluarkan dari bungkus rokok tersebut. Melainkan, sebatang pensil. "Apa lo inget pensil ini? Lo yang berikan ini kepada gue!"
Athala lantas merebut pebsil itu. Ia memandangi pensil milik Angkasa itu. Ternyata benar. Pensil itu kondisinya sudah tidak utuh lagi. Bagian atasnya terpotong dan hilang entah kemana. Lalu Athala mengeluarkan kalung yang ia pakai namun tertutup seragam. "Kenzie! Gue kangen sama lo!" Athala refleks memeluk badan Angkasa dengan erat. "Setelah bertahun tahun, akhirnya takdir mempertemukan kita kembali!"
Angkasa membalas pelukan itu dengan hangat. "Tak salah gue cerita sama lo Zea! Lo udah tau kedaan gue gimana kan?! Hidup gue juga udah hancur Zea!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa
HumorMencoba berteman dengan masa lalu itu susah dan rumit -Angkasa Angkasa Kenzie Dirgama, badboy sekolah yang sering dipuji ketampanannya. Karismtik wajah yang ia miliki memang tak ada yang mampu mengunggulinya. Namun, siapa sangka bahwa Angkasa memil...