"ZEA, MAMA"
"KAMU DIMANA?"
"AKU KANGEN. JANGAN TINGGALIN AKU"
Kepala Angkasa seakan ingin pecah. Ia terus memegangi kepalanya dan duduk dipojok ruangan berwarna hitam itu. Dengan menyenderkan punggungnya di salah satu sisi tembok, Angkasa terus menjerit karena sakit dalam tubuhnya yang sudah tak mampu ia tahan. Namun, suara bisikan seorang wanita mampu mengusik ketidakkuatannya.
"Angkasa, kamu harus bertahan, nak. Ibu disini selalu mendo'akan yang terbaik untukmu" ucapnya.
Angkasa menoleh dan mencoba mencari sumber suara tersebut. Namun sakit yang ia rasakan selalu menghalangi langkahnya. "Bu, Ibu dimana? Tolong Angkasa, bu"
"Angkasa, ini gue, Zea. Lo harus kuat Angkasa. Gue yakin lo pasti bisa ngalahin rasa sakit lo"
Angkasa menyipitkan matanya pada seorang lelaki yang berdiri dengan wanita disebelahnya. Lalu dia berujar, "ngapain anda disini?!"
Lelaki itu tak membalas. Ia hanya tersenyum kepada Angkasa lalu melambaikan tangannya agar Angjasa mau mendekat padanya. Angkasa sudah terlalu sering dibuatnya menderita. Jelas saja ia tak mau menghampiri laki laki tersebut.
"Angkasa! Kamu harus inget kamu adalah anak dari Dirga. Pengusaha besar yang terkenal di mana mana. Kamu harus bisa gantiin posisi papa" ucap lelaki tersebut yang lalu menghilang entah kemana.
Sekarang Angkasa sendiri lagi di ruangan serba hitam itu. Ia kembali duduk di pojok dengan memegangi kepalanya yang terasa berat. Masa mudanya yang suram tentu saja tak lupt dari ingatannya. "DIMANA GUE! SIAPAPUN, TOLONG GUE!"
"Angkasa! Kenapa lo lemah bro! Lo harus kuat. Kalo lo emang nggak bisa inget gue siapa, dan semua yang ada dihidup lo gadjah di paksa" celetuk lelaki tersebut.
Angkasa memandang heran lelaki tersebut. Ia tak dapat mencerna ucapannya. Angkasa pasrah akan yanh terjadi padanya. Ia memilih untuk berdiri lalu berjalan menelusuri semua ruangan hitam ini.
♤♤♤
"Apakah ada tanda tanda Angkasa membaik, ndre?" Tanya Dirgantara pasrah kepada seorang dokter yang berdiri disebrangnya.
Dokter Andre melihat Angkasa dengan cemas. "Tidak. Justru keadaan Angkasa semakin memburuk. Ginjal Angkasa tak lama kemuadian akan mati. Kondisi ginjal Angkasa sangat buruk. Itu karena ia sering mengonsumsi narkoba!"
Dirgantara menggelengkan kepalanya menatap Angkasa yang terbaring lemah dihadapannya. "Kamu tahu sendiri Angkasa itu anak yang bisa dibilang brandalan. Mungkin itu karena aku. Aku terlalu sibuk mengurusi perusahaan sampai aku sendiri lupa soal Angkasa. Apalagi dengan adanya Yoga, kembaran Angkasa yang bisa dibilang psikopat itu"
"Sejak kapan Angkasa punya kembaran? Apa kamu bercanda?" Tanya dokter Andre memastikan.
Dirga menggelengkan kepalanya. Ia mencoba menghembuskan nafas untuk menghilangkan sesak di dadanya. "18 tahun yang lalu, rumah tanggaku berantakan. Itu karena aku merasakan yang namanya jatuh cinta sama Yunita. Pada saat itu, Elena mengandung Angkasa dan Yoga. Saat mereka lahir, seorang peramal mengatakan 'salah satu anakmu, akan menjadi seorang yang berbahaya. Perusahaan yang kamu jalanin selma ini akan hancur begitu saja' otomatis aku takut akan hal itu. Aku memutuskan untuk membuang Yoga di Bandung. Disana aku titipkan dia dengan mantan asisten rumah tanggaku. Aku tetap bertanggung jawab mengirimkan uang kepadanya"
Dokter Andre hanya menyimak sambil mengggelengkan kepalanya tak percaya.
"Tapi, setelah Yoga dewasa pengasuhnya tewas ditubuhnya. Sejak saat itu aku tau bahwa bener dia adalah anak psikopat. Sudah tahunan aku mencarinya dan akhirnya ketemu. Sepertinya mereka terjebak oleh rasa suka sama seorang gadis yang sama. Fauzea adalah teman kecil Angkasa. Dan sekarang mereka mengetahui semuanya. Semua hancur karena salah ku"
Dokter Andre menepuk bahu Dirga dengan perlahan. "Sabar Dirga. Kamu pasti bisa melewati semuanya. Banyaklah berdo'a agar semua kembali seperti semula.
"Dan sebenarnya Elena itu masih hidup. Aku menitipkannya di ruah sakit jiwa di jakarta ini. Apa kamu mau mengantarkan saya untuk menjemput Elena?"
Dokter Andre menganggukkan kepalanya. "Kebetulan aku ada waktu luang. Mari"
Dirgantara tersenyum lalu keluar dari ruang inap Angkasa. Dalam hatinya masih terlintas masa lalu yang pernah ia jalani. Sebuah rumah tangga bahagia yang pernah ia rusak dengan perbuatan nya sendiri. Dan sekarang ia mulai menyesali hal itu. Berharap semua akan kembali bahagia seperti semula. Sampailah mereka di tempat parkir rumah sakit, dimana ia memarkirkan mobilnya. Mobil berwarna putih itu kemudian melaju dengan sedang. Beberapa menit kemudian, mobil itu terhenti didepan rumah sakit jiwa besar dan megah. Ia pun keluar dari mobil tersebut dan mulai menginjakkan kakinya kedalam rumah sakit jiwa tersebut. Dokter Andre sedari tadi mengikuti Dirga dari belakang. Dirga kini menemukan seorang wanita bertubuh lusuh dan sudah berpenampilan seperti seorang gembel. Dirgantara hanya bisa melihatnya melalui jendela kaca yang ada didepannya. "Elena"
Dari balik jendela wanita bernama Elena itu menatap wajah Dirgantara dengan tetesan air mata di pipinya. "Mau apa kamu kesini?! Aku nggak mau liat muka kamu lagi!"
"Elena, maafin aku ya. Bentara lagi aku bakal keluarin kamu dari sini" ucapnya.
♤♤♤

KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa
HumorMencoba berteman dengan masa lalu itu susah dan rumit -Angkasa Angkasa Kenzie Dirgama, badboy sekolah yang sering dipuji ketampanannya. Karismtik wajah yang ia miliki memang tak ada yang mampu mengunggulinya. Namun, siapa sangka bahwa Angkasa memil...