"Permisi! Om Dirga! Tante!"
Knop pintu berputar dengan cepat. Yunita yang baru saja membukakan pintu, kini panik ketika nelihat Angkasa yang memucat dan tak berdaya. "Astagfirullah, ayo cepet bawa ke kamar Angkasa"
Ferdi dan Galen menuruti kata Yunita. Saat itu, semua anggota yang mendengar keributan berkumpul diruang kamar Angkasa. Betapa terkejutnya saat Dirga melihat lelaki yang pernah menjadi masa lalu Elena itu. Matanya melotot tak main. Tangannya mengepal. Dengan keras ia berteriak, "BERANINYA KAMU KESINI! KAMU MAU HANCURIN KELUARGA SAYA LAGI!"
Ferdi membalikkan badannya. Ia menggelengkan kepalanya berkali kali. "Nggak, kamu salah Dirga. Aku kesini cuma mau nganterin Angkasa yang tiba tiba jatuh di resto"
"Mas Ferdi, ayo kita pergi dari sini, Mas. Aku nggak mau terus terusan bodoh seperti ini" Elena berlari lalu bersembunyi di belakang tubuh Ferdi.
Ferdi menarik Elena lalu memeluknya dengan erat. "Elena, kenapa kamu ketakutan kayak gini, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"
"Dirga udah membuat aku gila. Bertahun tahun aku dianggap gila oleh semua orang. Aku dikurung bersama orang orang gila. Dirga udah jahatin aku, mas" jelas Elena yang wajahnya kini sudah terbsahi air mata.
Sebuah tamparan mendarat kasar di pipi Elena. Ferdi yang tidak terima melihat perlakuan Dirga, kini memukul keras pipi kiri Dirga. Galen, Arka, dan Jovan kini mencoba untuk memisahkan Ferdi dan Dirga.
"Keterlaluan kamu Dirga! Gue udah relain lo rebut Elena dari gue selamanya, tapi kenapa lo sia siain Elena begitu saja!" cetus Ferdi dengan wajah yang memerah.
"Angkasa udah inget semuanya!"
Pandangan, tertuju pada Angkasa yang kini sudah terbangun dari pingsannya. Angkasa mencoba berdiri, dan berjalan menuju ke arah Dirga. "Jujur saja, Angkasa kecewa sama Ayah! Percuma juga Ayha nyembunyiin semua ini dari Angkasa. Asal Ayah tau, Ayah sudah buat semuanya hancur cuma gara gara wanita brengsek itu! Angkasa mau Ayah pilih buat ninggalin Ibu, atau wanita jahanam itu!"
Akibat ucapnnya, Angkasa bernasib sama dengan Elena. Tamparan yang cukup keras, kini membuat pipi Angkasa memerah tak main. Angkasa memegangi pipinya yang masih terasa memanas. Ia menatap tajam wajah Dirga dengan penuh amarah.
"Asal kalian tau, Yunita keguguran itu gara gara Elena. Sampai sekaran Yunita nggak bisa kasih anak untuk aku!" tegas Dirga.
"Hahah! Angkasa benar nggak nyangka. Seorang pengusaha kuliner terkenal nidurin asistennya, hingga hamil. Wanita mana yang nggak sakit melihat suaminya selingkuh sama asistennya yang nggak tau diri!" cetus Angkasa yang lalu menepuk tangannya beberapa kali untuk Dirga.
"Sa, Ayah nggak ngelakuin itu, Sa. Ayah cuma nggak tega liat Yunita hamil sama lelaki yang nggak tanggung jawab" jelas Dirga yang lalu merangkul tubuh Yunita. "Anak yang dikandung oleh Yunita itu, bukan keturunanku"
"So, Ayah nikahin wanita itu karena dasar kasihan? Sampai Ayah berusaha jauhin Angkasa sama Ibu biar Angkasa bisa nerima wanita itu jadi ibu tiri yang baik buat Angkasa?" tanya Angkasa yang membuat semua yang ada didalam ruangan membungkam. Tak ada yang berani menyahut ungkapan Angkasa. Yunita dan Elena kini hanya bisa menangis.
Hingga beberapa menit, knop pintu berputar, masuklah seorang Yoga. Yoga tersenyum sumringah lalu membuang batang rokok yang hampir habis ke tempat sampah di ruang kamar Angkasa. "Weh, apa lagi ini? Anda siapa?"
Tak ada yang berani menyahut pertanyaan Yoga. Arka, Jovan, Galen, dan Terre yang sedari tadi membungkam, kini melangkahkan kaki keluar dari ruang kamar Agkasa.
"Sa, ada apa lagi ini? Keknya hidup lo drama banget sih, bro!" tanya Yoga yang lalu nerjalan mendekati Angaksa.
Angkasa memutuskan untuk melangkah keluar dari ruangan itu. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hingga Angkasa sampai di apartemennya yang lama sekali tak ia datangi. Angkasa membanting semua barang barang yang ada. Ia mengacak rambutnya dengan kesal. "GUE UDAH CAPEK! KAPAN TAKDIR BERPIHAK SAMA GUE! KENAPA NGGAK ADA YANG PEDULI SAMA GUE!!"
♧♧♧
"secepatnya aku bakal ceraikan kamu!" Ucapan Dirga membuat hati Elena terasa sesak.
"Elena, ayo kita pergi dari sini" Ferdi langsung membawa Elena keluar dari rumah besar milik keluarga Dirga. Ferdi membawa Elena masuk kedalam mobilnya. Dengan perlahan, mobil berwarna hitam melaju dengan lambat. "Elena, apakah kamu tau? Sampai sekarang, aku belum juga berkeluarga"
Elena mengalihkan pandangannya ke arah Ferdi. Salah satu alisnya terangkat, "Memangnya kenapa?"
"Masa masa yang pernah kita lalui, Elena. Besok, aku janji bakal ngajak kamu kesebuah tempat yangpaling berkesan dimasa SMA kita dulu. Aku nyesel udah serahin kamu ke Dirga begitu saja. Aku janji, meskipun aku tak sesukses Dirga, aku akan membuatmu bahagia dengan cara apapun" ujar Ferdi dengan raut wajah yang bersungguh sungguh.
♤♤♤
"Athala, tunggu gue Athala"
Athala mempercepat langkahnya. Lalu, tangan yang melingkar dipergelangan tangan Athala membuatnya menghentikan langkahnya. "Gue udah inget semuanya, La. Gua minta maaf atas kejadian kemarin"
Athala menghempas tangan Angkasa yang memegangi pergelangannya. Ia membalikkan badan, menatap Angkasa dengan wajah datarnya. "Syukurlah. Lo nggak perlu khawatir, Sa. Gue udah ngurus surat keperluan buat pindah sekolah. Gue harap, lo bakal lebih bahagia tanpa gue. Gue minta maaf, disegala masalah lo beberapa ada yang dateng dari gue"
Angkasa menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Nggak, nggak. Lo nggak boleh pergi La. Gue udah kehilangan keluarga gue. Gue nggak punya apa apa lagi selain lo, La"
"Nggak bisa, Sa. Gue harus pindah. Makasih karena lo udah mau jaga gue saat gue disini" ucap Athala dengan nada bergetar. Sebenarnya, Athala sama sekali tak menginginkan kepergian ini. Hatinya masih saja tak bisa menjauh dari Angkasa.
"Athala, kamu kemana aja? kamu baik baik aja kan? Lebih baik kita pulang sekarang juga. Setelah pindah nanti, secepatnya pertunangan kita bakal diadain semeriah mungkin. Kamu jangan khawatir" ucap Arga yang baru datang. Tangan Arga terlihat tengah merangkul Athala. Arga melempar senyum kepada Angkasa dengan senyum kemenangan.
"La, gue nggak salah denger?" tanya Angkasa untuk memastikan kebenaran dari perkataan Arga barusan.
Athala menganggukkan kepalanya. Wajahnya tak terlihat bahagia sama sekali. Angkasa tak akan menyerah semudah ini. Angkasa hanya bisa memandangi tubuh Athala yang bersama Arga semakin menjauh. Angkasa memilih untuk kembali menyalakan mesin motornya dan pergi ke apartemennya.
♤♤♤
Halo halo!
Jangan lupa vote dan coment ya!

KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa
HumorMencoba berteman dengan masa lalu itu susah dan rumit -Angkasa Angkasa Kenzie Dirgama, badboy sekolah yang sering dipuji ketampanannya. Karismtik wajah yang ia miliki memang tak ada yang mampu mengunggulinya. Namun, siapa sangka bahwa Angkasa memil...