24). MASA LALU YOGA

1.3K 41 3
                                    

"Hai, La! lo udah baikan?" tanya Angkasa disebelah banker yang ditempati Athala sekarang.

"Sa, lo kok kesini? Nanti kalo lo kenapa-napa lagi gimana? Mendingan lonistirahat aja, gue cuma panas doang kok!" balas Athala dengan nada cemasnya.

Angkasa terkekeh kecil sambil menatap wajah Athala yang begitu lucu saat sedang cemas begitu. "Gue udah sembuh kali, besok gue juga udah boleh pulang kok!"

"Oh ya, lo udah makan?" lanjut Angkasa dengan sebuah pertanyaan, yang lalu dibalas oleh sebuah gelengan kecil dari Athala. "Kenapa belom makan? Kalo perut lo nggak ada isinya, percuma lo minum obat!"

Sebuah mangkuk berisi bubur yang ada diatas meja mampu diraihnya. Angkasa mulai mengambil sedikit demi sedikit bubur tersebut lalu menjulurkannya ke mulut Athala. Namun saat itu, sebuah tangan merampas mangkuk bubur dari tangan Angkasa. Hal tersebut membuat Athala dan Angkasa menoleh dengan reflels kepada seorang yang merebut mangkuk bubur tersebut.

"Biar gue aja yang suapin" Ucapnya dengan senyum mengembang. Sebelum itu, ia menaruh sebucket bunga di atas meja yang tak jauh dari ranjang Athala. "Cepat sembuh, La!"

Gadis itu tak menyingkirkan sesendok bubur yang ada di drpan mulutnya. Ia hanya memandangi cowok itu dengan penuh heran dan rasa rindunya. Ia pun memeluk tubuh cowok tersebut dengan refleks. "Arga!! lo kemana aja? Gue kangen sama lo!"

Dengan perasaan yang bahagia, Arga memandang Angkasa dengan sengit dari balik punggung Athala. Sesekali, ia tampak memainkan alisnya dengan alasan yang tak mampu di mengerti oleh Angkasa. Setelah beberapa menit berpelukan, Athala melepas tubuh Arga. Ia berusaha menunjukkan senyum terbaiknya pada Athala. "Aku kan habis ada acara di keluarga besarku, sayang. Lagian kamu sibuk sama Angkasa sih, sampai kamu lupain aku! Kalo udah urusan Angkasa aja lupa sama aku. Okelah, aku bisa maklumin karena Angkasa itu sahabat kamu dari kecil!"

Aneh. Kenapa Arga berani berkata itu dengan Athala? Apa ada yang salah dengannya? Athala sangat bingung ketika Arga memanggilnya dengan ungkapan 'sayang'. Bibirnya seakan tertahan untuk berucap. "Ga---"

Sesendok bubur mampu masuk kedalam mulut Athala. Mau tak mau, Athala memproses bubur tersebut agar bisa di konsumsi oleh alat pencernaannya. Ia berusaha mengambil segelas teh hangat yang  dari atas meja, namun tangan Athala tak cukup. Saat Angkasa ingin membantunya, algi lagi tangan Arga menghalangi tangannya untuk mengambilkan segelas teh itu. "Biar gue aja, Angkasa. Mendingan lo balik deh, Lo masih sakit kan!"

Setelah meneguk sedikit teh hangat itu, Athala menganga melihat Arga yang begitu berani smenyuruh Angkasa keluar dari kamar inap Athala. Dengan perasaan bersalah, Athala menghentikan langkah kursi roda Angkasa dengan suaranya. "Sa, Maaf gue ma--"

"Nggak papa kok, La. Kalo lo mau pacaran, lanjutin aja!" ungkapnya dengan nada bergetar. Angakasa terus melajukan roda dengan bantuan tangannya. Hingga sampailah ia dikantin. Disitu, Ia bertemu Jovan, Arka, dan Galen yang tengah bercengkerama sambil menikmati kopinya masing masing. Ia pun memilih untuk bergabung dengan teman temannya itu.

"Hoi boy, lo kok kelihatan murung gitu? Ada masalah?" tanya Jovan yang baru saja membuang kulit kacang yang baru saja ia kelupas.

"Athala udah punya pacar?" Angkasa bertanya secara blak blakan yang lalu memandangi ketiga temannya itu secara bergantian.

Beberapa menit tak ada yang menjawab, hingga akhirnya Galen pun mengangkat suara bassnya, "Maksut lo siapa sih? Yoga? atau si Arga?"

Angkasa mencoba mengingat nama cowok tadi dengan teliti. "Arga, Kalian kenal?" tanyanya dengan menatap ketiga temannya secara bergantian.

"Bsst, hahahah! Sa, Arganya aja yang ngebet! lo nggak usah percaya sama tu cowok! Athala itu nggak bakalan suka kok sama Arga, kan sukanya sama lo!" cetus Arka yang lalu menyeruput kopi yang ada didepannya.

AngkasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang