31. Mingyu bener

143 23 0
                                        

Awan gelap menyelimuti langit-langit yang juga mulai menghitam. Tanda malam sudah semakin gelap. Bulan yang harusnya bertugas menyinari malam, tertutupi oleh awan kelabu. Rintik-rintik air Tuhan sudah mulai berjatuhan. Membasahi seluruh daratan, menemani kesedihan perempuan yang sedang terduduk lesu di halte.

Sampai saat ini cewek itu masih setia menggunakan seragam sekolahnya. Air mata saling berjatuhan bersamaan dengan rintik hujan. Siapa lagi yang sedang dirundung kesedihan yang teramat dalam kalau bukan Y/N. Cewek itu bersedih sekaligus menyesali perbuatannya selama ini.

Mungkin ini semua juga balasan dari Tuhan atas sikapnya kepada Wonwoo. Tapi tidak seharusnya Wonwoo seperti itu. Apa semua harus dibalas secara impas? padahal dia janji akan menunggu sampai hati ini bisa berpaling.

"Kenapa Wonwoo bohongin gue?"

"Mungkin ini juga salah gue karena masih aja suka sama Mingyu, tapi apa harus gini caranya? di saat gue bener-bener pengen ngelupain Mingyu dan mulai percaya sama dia. Kenapa dia juga bohongin gue. Kenapa semua gak ada yang tulus sama gue hiks...."

Hari sudah mulai larut dan tidak ada niatan bagi YN untuk pulang. Hatinya masih kacau, jika dia pulang mungkin Wonwoo atau Mingyu akan menemukannya. Sejak kejadian di rooftop sore tadi, Y/N kabur begitu saja meninggalkan Mingyu.

Apa-apaan ini, baru saja ada masalah dengan Wonwoo tiba-tiba ada pengakuan konyol dari Mingyu yang dia tunggu selama ini. Memang benar ya, setiap kesulitan ada kemudahan.

Tapi semua orang akan menganggap Y/N cewek seperti apa? cewek plinplan? tukang main perasaan? bahkan murahan?? Entahlah hati Y/N memang mudah tergoyah.

Saat Y/N sedang menikmati semilir angin bersama percikan hujan yang mulai membasahi dirinya, ada seseorang yang duduk di samping Y/N sambil menyender ke bahu halte.

"Ternyata lo di sini." Y/N langsung menoleh kearah suara berat tersebut. Suara yang dia kenal selama ini.

"Sekarang udah jam segini dan lo masih pakai seragam. Lo belum pulang?" tanyanya. Pandangan Y/N kosong meski dia menghadap ke arah cowok itu.

"Muka lo sembab, pucet lagi, lo sakit?" Lagi-lagi Y/N hanya melamun.

"Emm..Maafin gue kalau selama ini gue belum bisa buat lo bahagia. G-gue gak bisa ngeyakinin lo. Maaf, gue emang brengsek."

Y/N semakin tertunduk. Air mata yang sudah ditahan tidak bisa di bendung lagi. Semuanya luruh begitu saja.

"K-kamu bener hiks.... Wonwoo itu brengsek, selama ini udah aku gak percaya sama kamu karena aku pikir kamu yang brengsek hiks..."

Mingyu bergeser, mendekatkan jarak dengan Y/N. Tangan besar Mingyu menyapu air mata yang ada di pipi Y/N. Ya seseorang yang duduk di sebelah Y/N adalah Mingyu.

Sejak Y/N meninggalkannya dalam keadaan kacau, Mingyu menjadi khawatir dan sejak tadi dia sudah  mengelilingi kota mencari Y/N hanya untuk memastikan bahwa Y/N tidak kenapa-kenapa.

"Gue juga brengsek Y/N, maafin gue." Ujar Mingyu kemudian memeluk Y/N. Entah atas dorongan apa Mingyu melakukan itu. Namun hatinya memberontak untuk memeluk Y/N. Yang dirasakan adalah nyaman.

Begitu juga dengan Y/N. Dia masih terkejut dengan Mingyu yang menghapus air matanya, sekarang Mingyu malah memeluknya. Rasanya begitu nyaman dan tenang. Merasa sudah tidak ada yang memperdulikannya, Y/N membalas pelukan Mingyu tak kalah erat. Menumpahkan semua kesedihannya kepada Mingyu.

"Kenapa gak dari dulu kamu gini, pasti aku gak akan ngerasain sakit dari kamu ditambah sakit dari Wonu hiks..." guman Y/N yang masih menyembunyikan kepalanya di dada Mingyu.

THE PERFECT BOY [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang