Hari sudah mulai petang. Tugas matahari pun sudah selesai dan digantikan oleh sinar rembulan yang indah menenangkan. Dengan suhu yang cukup dingin turut menemani kesunyian malam.
Namun tidak dengan kota ini, kota yang tidak pernah tidur. Sejak pagi hingga bertemu pagi kembali jalanan tidak pernah sepi. Penghuni kota seperti tidak mengenal pagi maupun petang. Mereka selalu menyibukkan diri dengan urusan masing-masing.
Seperti Y/N yang melamun dalam kesendirian menemani malam sambil menyaksikan banyaknya manusia yang masih saja berlalu lalang melalui Jendela kamarnya.
"Apakah yang ada dipikirkan mereka itu cuma bekerja, Apakah kebahagiaan diukur dari banyaknya uang yang kita miliki? dasar aneh, buat apa kaya raya jika hidup menderita." batin Y/N.
Yang ia rasakan setiap harinya hanyalah kesepian. Orang tuanya tidak pernah di rumah, bahkan hanya sekedar berkumpul untuk makan saja mungkin seminggu sekali. Kedua orang tuanya selalu pulang larut malam saat Y/N sudah tidur dan pagi sudah pergi lagi. Dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Terkadang kita harus mengalah dengan keadaan, batin Y/N.
Dulu waktu Y/N SMP, Eomma nya selalu memarahi dia karena di sekolah kerjaan Y/N hanya tidur di kelas. Padahal Y/N seperti itu karena setiap malam dia menunggu orang tuanya pulang sampai larut. Tapi tetap saja saat yang di tunggu datang, mereka berlalu begitu saja.
Kedua orang tuanya sudah melarangnya untuk menunggu karena itu hanya buang-buang waktu tidurnya.
Bahkan dulu Y/N pernah berdoa supaya keluarganya miskin saja tidak apa-apa yang penting bisa berkumpul bahagia bersama. Namun saat SMA Y/N menempis ucapannya dulu, karena itu sama saja tidak bersyukur.
Selama SMA, waktu malam Y/N tidak pernah sepi lagi karena dia selalu menstalk akun Mingyu, nyepam pesan ke Mingyu walaupun di read saja, bahkan mengikuti kemana Mingyu pergi. Y/N sudah seperti sasaeng bagi Mingyu. Itu semua untuk mengisi kegabutan malamnya.Katanya sih itung-itung biar Mingyu peka.
Berbeda dengan situasi saat ini. Dia sudah jarang sekali melakukan hal gila itu lagi, sekarang dia sering pergi bersama Wonwoo, chat-an, dan video call walaupun yang bicara hanya Y/N karena Wonwoo menjawab dengan deheman saja Y/N sudah cukup.
Sedikit merasa aneh dengan Wonwoo sekarang, tapi ini yang dia mau. Dia ingin Wonwoo kembali menjadi seseorang yang hangat dan perhatian.
"Aneh sih, biasanya tiap hari dibentak-bentak sekarang disayang-sayang hehe." guman Y/N sambil tertawa sendiri membayangkan Wonwoo saat video call dengannya.
Wonwoo terlihat salah tingkah saat menjawab pertanyaan Y/N. Kayak hubungan doi sama author. Gak nyambung-nyambung.
"Makasih ya Won kamu udah mau berubah. Aku akan berusaha lebih keras lagi buat lupain Mingyu. Maaf kalau kadang masih khilaf." gumannya.
Lamunan Y/N pecah karena tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponselnya. Dengan cepat Y/N langsung menyambar ponselnya.
Hanya satu orang yang dia pikirkan. pasti itu Wonwoo. Saat membaca pesan itu, dia sedikit bingung.
Bukan Wonwoo yang mengiriminya pesan tapi Mingyu. Entah kenapa gak ada hujan gak ada petir gak ada lonsor Mingyu mengiriminya pesan terlebih dahulu. Hal langka itu tidak di sia-sia kan oleh Y/N.
Mingyu
balikin jaket gue
Buat aku aja yah jaketnya. Lumayan kan dapet lungsuran dari the most wanted sekolah.
Mingyu
Gak
Iya deh aku balikin
KAMU SEDANG MEMBACA
THE PERFECT BOY [END]
Fanfiction[PROSES REVISI] "Mencintai seorang the most wanted itu mudah kok, karena yang sulit itu mendapatkan hatinya." Kim Mingyu, siapa yang gak kenal sama the most wanted sopa yang satu ini? Ganteng? Oh udah pasti, terkenal? Gak mungkin gak, pinter? Dah la...
![THE PERFECT BOY [END]](https://img.wattpad.com/cover/175886146-64-k378059.jpg)