26. Berakhir, Tapi Bukan Terakhir

410 33 0
                                        

Pernikahanku tinggal satu bulan lagi. Waktu berjalan begitu cepat. Kegugupanku, dan kegelisahanku semakin menjadi. Saat kulihat Bara dikelas, laki-laki itu terlihat biasa saja. Tidak merasa terbebani. Bagaimana dia bisa terlihat santai saja sedangkan pernikahannya tinggal satu bulan lagi?

Katanya, jika kita memiliki sebuah rahasia di masa lalu harus diberitahukan ke calon suami atau istrinya sebelum menikah. Supaya saat berumah tangga nanti tidak ada yang disembunyikan dan dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan tentram, tidak ada masalah atau pertengkaran besar karena sebuah kebohongan.

Aku sih, percaya tidak percaya. Karena yang namanya masalah baik itu terjadi karena kebohongan atau hal lain akan sama saja, namanya juga hidup berumah tangga pasti ada saja masalah, ada pertengkaran. Kalau tidak ada pertengkaran meskipun pertengkaran kecil saja, rasanya bagaikan sayur tanpa garam. Hambar.

Oh iya, selama tiga bulan ini. Sejak Bara datang melamarku. Dia jarang mengajakku mengobrol atau mengirim pesan. Kecuali perihal tugas kuliah.

"Rahma," Aku menoleh ketika seseorang memanggilku. Aku terkejut melihat Bara yang sudah duduk dibangku yang ada di belakangku. Karena biasanya Bara duduk dibangku yang jauh denganku. Menjaga jarak.

"Hari ini, kita ke toko perhiasan ya? Beli cincin pernikahan," katanya. Aku mengangguk. "Kamu nggak ada acara atau jadwal lain kan hari ini?"

Aku menggeleng. "Enggak ada, Bara."

"Kok Bara, sih? Panggil 'mas Bara', dong. Kan bentar lagi jadi suami-istri," celetuk Sifa yang baru saja datang bersama Rafa.

Sudah dua minggu ini, Sifa datang ke kampus selalu bersama Rafa. Saat pulang pun juga begitu. Biasanua tidak. Selain itu, biasanya keduanya terutama Sifa selalu mencari keributan dan akhirnya terjadi pertengkaran kecil dengan Rafa. Tapi, sudah dua minggu ini mereka damai-damai saja. Malah Sifa bersikap manja dengan Rafa. Sepertinya ada sesuatu diantara keduanya.

"Kalian ada berdua ada 'something' yang tidak kalian ceritakan ke aku?" kataku tidak memedulikan celetukan Sifa.

Bukannya menjawab, Sifa malah memyengir. Dia memberikan aku kode dari cengiran dan sikap salah tingkahnya. Pasti ada sesuatu yang di luar dugaanku. Yaitu, keduanya pacaran.

"Kalian jadian?" tanyaku memastikan. Sifa malah tersenyum penuh makna. "Bukan aku mau menceramahi. Tapi, kamu tau kan Sif, kalau di dalam agama islam tidak ada yang namanya pacaran? Dan itu dilarang," kataku. Bukan ingin menjadi sosok yang paling benar dan sok alim atau semacamnya. Hanya saja, aku mengingatkan. Karena aku sebagai temannya tidak ingin melihat temanku masuk ke perangkap setan.

"Enggak kok, Rahma. Gue sama Rafa nggak pacaran." kata Sifa. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung dengan ucapanku.

"Terus?"

Sifa mendekatkan mulutnya ke bagian luar telingaku. Dia membisikkan sesuatu yang membuat diriku terkejut. "Serius?" tanyaku. Dia mengangguk.

Sifa sebentar lagi akan menikah dengan Rafa. Sifa bercerita, kalau kedua orang tuanya dengan kedua orang tuanya Rafa sudah saling kenal sejak SMA. Dan kedua orang tuanya pun menjodohkan kedua anaknya itu, Sifa dan Rafa. Rencana perjodohan diantara kedua orang tua baik kedua orang tua Sifa atau kedua orang tua Rafa, sudah lama. Rencana perjodohan itu sudah direncanakan saat kedua orang tua masing-masing masih duduk dibangku perkuliahan.

"Aku ikut senang mendengarnya. Kapan rencana kalian menikah?" tanyaku. Aku pun melupakan kalau awalnya aku sedang berbicara dengan Bara karena aku sudah terlalu asik mendengar cerita dari Sifa. Rafa hanya menyimak saja bersama Bara.

"Mungkin barengan sama kalian?" kata Sifa.

"Kalau tanggal pernikahan kalian sama denganku, berarti kamu tidak hadir ke acara pernikahanku dan aku juga tidak bisa hadir ke acara pernikahanmu?"

Bersanding DenganmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang