Update
Friday, 08/10/2019
Kafe One n’ Tulip sudah mulai sepi, para pegawai kantoran kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedang Sejeong dan Yebin sibuk membersihkan meja dan merapihkan beberapa bangku yang sudah digunakan pelanggan. Ada juga yang menyapu, membuang sampah dan pergi ke pantry untuk sekedar beristirahat.
Pintu kaca berdecit, seseorang masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Sejeong dan Yebin melihat kedatangan Sehun untuk kedua kalinya.
“Aku pesan segelas ice lemon tea!” ucap Sehun dengan napas yang masih memburu.
Yebin tertunduk menutupi wajahnya dengan tangan, “Kenapa dia balik lagi,” gerutunya menghindari pandangan Sehun.
“Sejeong-ah kenapa kau tidak masuk sekolah kemarin, kelas rasanya hampa dan aku sempat kesal karena tidak bisa menemukanmu dimana pun,” kata Sehun posisinya semakin dekat dengan Sejeong, otomatis Yebin berjalan menjauh dan terus berusaha tidak terlihat oleh teman sekelasnya itu, sampai-sampai Sejeong membantu menghalanginya.
Penglihatan Sehun teralihkan pada wanita yang sejak tadi menutupi wajahnya dengan tangan, sambil berjalan bungkuk. Alih-alih menyingkir, Sejeong malah terus mengikuti arah kemana Yebin pergi. Tapi apa yang dilakukannya tidak begitu membantu karena Sehun tetap bisa mengenali Yebin.
“Baek Yebin,” panggil Sehun sedikit ragu.
Merasa sudah ketahuan dan tidak ada gunanya lagi menghindar, Yebin menegakan tubuhnya dan berjalan mengabaikan panggilan Sehun yang kembali terdengar untuk kedua kalinya, “Yebin, machi (iyakan)?” Sehun memperjelas dugaannya dengan menghadang jalan gadis itu.
Kali ini dengan yakin Yebin mengangkat kepalanya memperlihatkan wajah angkuh seperti biasanya, “Iya ini aku, apa ada masalah!” sewotnya terpaksa mengakui karena sudah ketahuan.
“Sebelum kau bertanya aku akan menjawabnya terlebih dulu, aku juga bekerja di sini dan aku adalah seniornya,” mata Yebin melirik Sejeong yang tersenyum kikuk.
“Lagi pula aku tidak akan menanyakan hal itu,” ucap pelan Sehun melengos menuju tempat duduk dekat jendela.
Selanjutnya Yebin menghela kesal sembari menatap nanar kepergian teman sekelasnya itu. Di sisi lain Sejeong berpura tak mendengar, karena itu dia memilih untuk menyiapkan minuman yang Sehun pesan.
~Ŵĩńďŷ Ďàŷ~
Tak butuh waktu lama Sejeong kembali datang menghampiri teman laki-lakinya yang kini tengah memandang keluar jendela. Rupanya di luar tengah hujan deras, tetesan air yang jatuh terdengar menyeruak namun terdapat irama khas. Sejeong sempat menghentikan langkahnya, ia terpesona dengan ekspresi Sehun yang tenang dan damai saat memperhatikan air langit yang membasahi bumi.
“Cepat kemarilah, aku haus!” tiba-tiba suara yang cukup dikenal Sejeong terdengar, menyadarkannya.
Sehun mengalihkan pandangannya pada Sejeong yang dia sadari kehadirannya sejak tadi. Senyum manis tersungging menyambut wanita yang kini tengah menaruh segelas lemon tea pesanannya,
“Jangan tersenyum seperti itu,” ucap Sejeong menghindari mata teman yang sekarang berlagak sebagai pelanggan.
“Memangnya kenapa?” heran Sehun semakin menggoda, tersenyum lebih lebar hingga gusinya terlihat.
Dengan masih berusaha menghindari tatap wajah, Sejeong berujar. “Aku tidak suka melihatnya!”
Seketika senyum Sehun memudar, dia meraih gelas dan menegaknya hingga meyisakan setengah, “Kalau begitu aku tidak akan tersenyum lagi padamu,” kesalnya menaruh gelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Windy Day
Fantasy[END] Oh Sehun memiliki kelebihan yang disebut Aerokinesis, merupakan kemampuan pikiran manusia untuk mempengaruhi pergerakan udara. Seorang pelajar SMA ditingkat akhir yang dua kali tinggal kelas, selalu membuat onar, hobi berkelahi dan jarang masu...
