Pagi ini mungkin sedikit mendung terlihat jelas sang surya yang enggan muncul, membuat siapa pun enggan beranjak dari tempat tidur
Namun tidak untuk keluarga al-fatih yang tetap bersemangat bergegas untuk keluar dari rumah melakukan kegiatan masing masing
Sang kepala keluarga hari ini berniat mengantarkan anak anaknya, saat di dalam mobil ada sedikit cekcok
"Dek kalau nggak kuat nggak usah ikut upacara dulu" ujar sang kepala keluarga
Gibran menatap ayahnya malas, ini sudah ke 12 kalinya ayahnya bilang seperti itu menbuatnya jengah saja"iya yah, ayah udah bilang 12 kali nggak mungkin aku lupa, palingan nanti kalau mendung nggak upacara"
"Kata siapa, nanti ada perkenalan kepsek baru, mendung itu belum tentu ujan"
"Hmmm"
Tidak lama kemudian mobil pajero hitam itu memasuki pekarangan sekolahnya
"Dek jangan..." belum selesai bicara hendra sudah dipotong gibran
"Iya yah ngerti" ucapnya membuka pintu mobil
"Asalamualaikum"salam gibran dan natan
"waalaikumsalam"hendra memutar balik mobil dan segera pergi dari situ
Kelas natan di lantai dua sedangkan gibran dilantai satu mereka berpisah di depan pintu kelas gibran
" gue duluan"gibran mengangguk memasuki kelasnya yang sudah ramai
"Selamat pagi semua"sapa gibran dengan penuh kepercayaan diri, semua mata langsung tertuju pada gibran.
"Belum mati ya ni orang" ujar gladis salah satu teman gibran
"Ya lu liat gue udah mati apa belum" gibran berjalan ke arah bangku nomer 2 dari depan
"Kirain lu absen terus mati keblabasan gitu"
Hati gibran sebenarnya sedikit sakit mendengarkan ucapan gadis itu" kalau bicara bisa disaring dulu?"bukan suara gibran melainkan suara andi yang baru datang
"Soalnya kelas tenang nggak ada pengusik"
"Lu itu cewek nggak pantes ngomong gitu"
"An ini masih pagi nggak usah ribut buang buang energi aja mending energinya di simpan untuk nanti upacara"
Tetttt...tettt...selamat hari senin, jangan lupa sarapan pagi agar semangat melaksanakan upacara hari ini.
Suara itu membuat semua penghuni kelas bergegas menuju lapangan utama untuk melaksanakan upacara pagi ini tak terkecuali gibran dkk mereka bersemangat untuk melaksanakan upacara padahal saat ini cuacanya sangat terik berbanding balik beberapa menit lalu yang seakan akan sang surya enggan muncul.
Hari ini natan sebagai pemimpin upacara karena petugas, sebab di bagian pemimpin upacara tidak masuk karena izin mendadak karna neneknya sakit dan harus keluar kota akhirnya natanlah yang harus menjadi pemimpin upacara.
Gibran dkk di bagian barisan tengah mereka setiap upacara selalu barisan tengah karna mereka tidak akan terlihat dari depan ataupun belakang kalau mereka buat ulah, memang kebiasaan mereka selalu mengusili teman yang kitmat mengikuti upacara dengan alasan bosen harus berdiri tegap dan diam
Tapi naasnya hari ini gibran tidak seberuntung upacara upacara kemarin baru 30 menit upacara di laksanakan tapi kepalanya sudah pening, nafasnya juga sudah agak sesak ia menyamangati dirinya sendiri agar lebih kuat
Gibran melupakan rasa sakitnya dengan menjahili teman di depanya yang sangat kitmat mendengarkan kepsek baru yang memperkenalkan diri yang tak kunjung usai.
KAMU SEDANG MEMBACA
my and your hopes
Teen FictionTentang kehidupan gibran dengan sejuta keindahan yang ia buat sendiri.. Seolah olah masalah gibran alami sejak kecil tak pernah ia alami itulah gibran dengan sejuta topeng untuk menutupinya
