16 : Dampak Curhat

218 42 3
                                        

Liburan semester telah habis, akhirnya aku masuk sekolah lagi dan menjadi lebih sibuk dari semester sebelumnya. Setelah obrolanku dengan Suhyun, aku akui kalau hubunganku dengan Renjun enggak sebaik beberapa waktu terakhir.

Aku selalu beralasan banyak tugas, ada latihan untuk ujian, les, mungkin juga belajar. Hampir sebagian besar chat Renjun enggak aku balas, teleponnya pun enggak aku angkat. Karena di balik alasan kesibukanku, memang ada niatan untuk menjauhinya sebelum dia benar-benar—aku rasa dia belum tentu suka dan nembak aku nantinya, tapi sebagai antisipasi aja aku putuskan untuk enggak meresponsnya.

Pernah sekali aku pulang dianterin dia, dan aku langsung bisa merasakannya saat itu juga. Banyak pasang mata dan lemparan dugaan tentang hubungan kami, sampai-sampai aku khawatir sendiri. Karena tanpa aku tahu sebelumnya, Renjun ini emang termasuk cowok yang ‘dilirik’ banyak orang. Setara dengan teman-temannya seperti Haechan dan yang lain.

Aku tahu Haechan dikenal di sekolah, tapi aku ‘kan enggak tahu temen-temennya juga demikian.

Berbeda dari mereka, Renjun ini sedikit lebih serius. Tapi justru karena karakter itulah yang membuatnya dikenal, khususnya perempuan. Katanya keren. Aku enggak yakin tapi pokoknya begitulah.

Oleh karena itu, aku merasa harus bertindak sekarang. Selain karena enggak mau membuat Renjun semakin dekat denganku, aku juga enggak mau semakin terkurung dalam perasaan suka itu. Perasaan yang awalnya aku kira wajar jika masih ada batasnya karena kami punya hubungan biasa layaknya adik dan kakak kelas.

“Yu, les hari ini pulang dulu atau langsung?” tanya Suhyun yang memang satu tempat les denganku.

“Langsung aja kayaknya, males banget pulang bentar terus ke tempat les. Enggak ada yang nganter juga, Kak Taeil pasti belum pulang,” jelasku selagi memasukkan buku-buku di sela-sela Pak Kyungsoo memberikan salam pamit.

“Ya udah, kita pesen mobil aja biar lebih murah,” kata Suhyun yang kuangguki sambil berjalan ke luar. Tapi ternyata di depan kelas ada seseorang yang enggak aku duga hari ini, berdiri, bersandar di dinding sambil mengotak-atik ponselnya dengan serius.

 Tapi ternyata di depan kelas ada seseorang yang enggak aku duga hari ini, berdiri, bersandar di dinding sambil mengotak-atik ponselnya dengan serius

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Melihatnya, aku spontan berhenti di ambang pintu begitu ia juga sadar akan keberadaanku dan menegapkan posisinya. Tangannya menarikku pelan dan ragu begitu beberapa temanku di kelas menyuruhku menyingkir dari sana.

Renjun. Dia tersenyum sambil menyapa sederhana pada Suhyun yang menaikkan alisnya padaku sambil menjauh beberapa langkah dari posisi kami. “Kalem aja, belum pesen mobil kok.”

Emm, ada apa?” tanyaku mendongak, iya, Renjun memang lebih tinggi dariku.

Lebih tinggi tapi tetep lebih muda, Yu.

“Pulang bareng Kak Suhyun?” tanyanya yang dijawab olehku dengan anggukan. “Oh, padahal tadinya aku mau nawarin pulang bareng.”

“Hari ini ada les,” kataku sambil mengetuk-ngetukkan sepatu ke lantai. Setelah cukup lama menghindar, hari ini aku merasakan lagi debaran-debaran menyenangkan ketika bertemu dengannya. Terbesit rasa rindu, namun segera kutepis buru-buru.

CantikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang