Hari libur tiba, sehabis salat zuhur aku langsung bergegas keluar kamar dan menemukan kakakku yang melemparkan tatapan bingung. Pasti dandananku menjadi sorotan paling utama, karena enggak biasanya aku agak nyentrik buat pergi ke luar.
Enggak centil kayak gimana, sih. Gayaku tetap simple tapi engak seasal kalau jalan sama temen biasa.
Emm... tapi bukan berarti Renjun temen istimewa, sih.
“Mau ke mana, Dek?” tanyanya—Kak Taeil yang sekarang sedang menonton televisi.
“Abang kenapa enggak ke luar?” tanyaku balik.
“Ditanya malah balik nanya,” katanya membuatku nyengir lebar dan duduk di sampingnya sambil memakai kaus kaki, “di luar mulu hari-hari biasa. Tadinya mau diem di rumah aja, ceritanya fams time tapi tahunya kamu malah ke luar. Ke mana, sih?”
“Anak SMA ngarepnya ke mana? Palingan mal atau bioskop, iya enggak?” tanya seseorang dari belakang—Kak Johnny sambil menenteng kantung plastik berisi makanan ringan. Saudaraku ini juga yang biasanya sibuk di luar tumben banget ada di rumah. “Jalan sama cowok, ya?”
“Hah? Apa?” tanya Kak Taeil membuatku mendengus ke arah Kak Johnny yang sibuk menertawakanku. “Berani kamu jalan sama cowok?”
“Kenapa musti enggak berani?” tanyaku membuatnya gelagapan. Aku sempatkan menendang betis Kak Johnny yang duduk di sofa lain, kemudian memelas ke Kak Taeil. “Nonton aja, Kak.”
“Jangan cowok-cowok dulu, Dek.” Kak Taeil berujar dengan nada yang sama sepertiku. Aku menggeleng dan menjelaskan bahwa enggak ada yang namanya ‘cowok-cowok’ seperti yang dia maksud.
Aku sempat membuka room chat di mana katanya Renjun akan menemuiku langsung di mal, jadi aku bergegas pergi sebelum Kak Taeil bawel dan cegah-cegah aku pergi. Hari-hari biasanya aja selalu sibuk sama kegiatannya dan terkesan enggak peduli, giliran di rumah berasa dikekang banget.
Ya gitu kalau punya Kakak agak over protektif.
Sesampainya di mal, aku langsung naik ke lantai tiga di mana bioskop berada dan menemukan Renjun tengah duduk di salah satu kursi sambil memainkan ponselnya. Aku mendekat dengan ragu dan berdiri di depannya, sampai Renjun mendongak dan tersenyum.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Mau langsung nonton?” tanyanya.
“Bebas,” jawabku sambil mengedikkan bahu.
“Langsung aja ya, biar selesai pas ashar. Udah itu kita makan—eh, udah makan?” tanyanya yang kuangguki dengan yakin. “Ya udah, aku beli tiketnya dulu.”
“Enggak—bentar! Tungguin aja dulu aku beli tiket!” katanya terkesan mencegahku, bahkan untuk beberapa detik aku malah terkesiap karena jawabannya yang cepat itu. Akhirnya aku duduk dan secara random memotret sepatu, sekadar iseng-iseng sambil menunggu.