25 : Ea, Senyam-Senyum Anaknya

230 41 9
                                        

Selesai dengan semua ujian praktek, aku ke sekolah hanya untuk mendapatkan kisi-kisi dan mempersiapkan diri menghadapi UN dan SBMPTN nantinya. Sejak obrolanku dengan Renjun sewaktu di depan Lab, kami enggak saling menghubungi lagi. Waktu itu dia langsung mengantarku pulang dan kami sibuk dengan dunia masing-masing.

Seperti katanya, dia hanya minta waktu sampai menjelang UN.

Suhyun sudah memberiku pendapatnya soal apa yang harus aku lakukan, katanya, jika aku menyukainya ya aku harus berhenti bersikap keras kepala dan berlaku egois. Aku tinggal membicarakannya lagi dengan Renjun. Karena gimana bisa aku berkukuh bilang enggak mau pacaran dengannya tapi setelah obrolan kami saat itu, pikiranku enggak lepas dari Renjun?

Sampai waktu-waktu UN akhirnya tiba, hanya sekali aku dapati pesan dari Renjun. Dia berdo’a dan berharap agar aku bisa mengerjakan ujian dengan lancar. Aku membalasnya singkat berupa ucapan terima kasih, dan dia enggak membalasnya lagi.

Dia masih peduli padaku. Namun begitu, aku berusaha untuk berhenti sejenak mengurusi hubungan yang enggak jelas itu dan fokus pada Ujian Nasional.

“Ruangan dua, Yu?” tanya Mark melihat kertas di mana posisi bangku para peserta ujian terpampang di kaca kelas.

“Iya, kamu ruangan satu sama Lucas?” tanyaku yang dijawab anggukan olehnya dengan lemas. “Kenapa?”

Nope,” jawabnya lesu.

“Ehei … you can do it lah,” kataku menepuk pundaknya dua kali.

Di hari pertama ujian, mana dapat jam yang pertama, aku sempat menyibukkan diri membuka-buka ulang catatan. Kami belum boleh masuk ke dalam ruangan meskipun pintunya sudah dibuka, katanya nanti biar serentak saja.

Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya bel berbunyi dan kami masuk ke kelas masing-masing setelah saling melempar semangat. Aku duduk enggak jauh dari Suhyun, kami sempat mengobrol lalu mempersiapkan apa yang sekiranya enggak akan membuatku kerepotan nantinya.

Begitu merunduk ke kolong bangku, aku melihat sebuah kantung plastik hitam. Aku menariknya sambil mendecak, well, kenapa di saat ada ujian begini mejaku malah kotor coba?

Tapi menyadari kantung plastik itu berisi sesuatu, aku segera memeriksanya. Ada beberapa permen susu, permen mint, bahkan permen Yupi serta air mineral kecil di sana. Aku membaca sticky note yang tertempel di botolnya, barangkali punya orang yang tertinggal.

Tapi lebih daripada apapun, aku hanya penasaran sebenarnya.

[Semangat! Kalau pusing, diem-diem buka permennya dan makan wkwk. Kakak pasti bisa!^^ – Huang Renjun]

Aku memastikan kolong bangku sudah bersih dan hanya ini yang ada di sana, tapi ada satu cokelat Cadburry oreo dengan sticky note juga.

[Semangat!]

Karena ada beberapa coretan di sana, aku rasa Renjun sepertinya sempat salah menulis dan membuangnya asal. Senyumku terukir tipis, aku memasukkan cokelat tadi ke dalam kantung plastik sambil mengambil satu permen mint dari sana, memakannya.

“Terima kasih, Jun,” bisikku menarik napas yakin dan siap menghadapi ujian.

Banyak waktu kuhabiskan untuk berpikir bahwa Renjun enggak cocok sama aku, namun untuk kali ini, aku beneran berpikir kalau Renjun adalah orang yang istimewa. Seseorang yang enggak seharusnya aku sia-siakan.

Setelah ini, aku akan menyelesaikannya.




















CantikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang