“Tapi dia enggak chat kamu lagi, ‘kan?” tanya Suhyun yang dijawab anggukan olehku, baru aja aku cerita soal interaksiku dengan Renjun akhir-akhir ini. Di hari pertama dia mengirim pesan, sampai sekarang dia enggak ngelakuin apa-apa lagi selain senyam-senyum dan kedapatan bergumam cantik terus. Aku enggak menghitung kejadian di kantin itu karena … ya emang belum tentu juga yang mereka maksud itu aku.
Coba pikir, kurang aneh apalagi orang yang namanya Renjun ini?
Kenal enggak, tijel iya.
“Apa dia cuma pengen bilang, ‘Iya halo ini aku Renjun dari MIA tiga hehe’ gitu? Tapi sebenarnya enggak penting juga aku tahu dia,” jelasku sambil menggeleng heran. Kembali mengerjakan laporan yang harus diserahkan ke Bu Sunny lusa nanti.
“Kayaknya niat dia emang gitu, Yu,” kata Suhyun menerka dengan raut aneh, “tapi ngapain juga, ya?”
Aku merotasikan bola mata sambil kembali fokus mengerjakan tugas, sampai kemudian ingat kalau baju kelas yang akan dipakai besok seharusnya sudah siap. Bahkan kupikir dari kemarin-kemarin, karena akan ada acara PORSENI atau Pekan Olahraga dan Seni.
“Eh, coba tanyain ke tukang jahit. Itu soal baju kelas kita udah beres apa belum,” kataku pada Suhyun yang kebetulan seorang Bendahara. Aku pribadi sebenarnya enggak punya jabatan apa-apa di kelas, tapi karena aku yang mengajukan ide, jadinya merasa bertanggung jawab juga. Apalagi tukang jahitnya kenalan orang tuaku.
“Udah kemarin ditanyain sama si Lucas, tinggal dibawa aja. Kayaknya hari ini biar besok langsung pake.”
Aku mengangguk lega, bersamaan dengan ponselku yang berdering tanda pesan masuk. Kusempatkan membukanya karena Suhyun pun sejak tadi enggak bener-bener kerja. Emang dasar tuh anak.
[Renjun katanya]
Renjun Assalamu’alaikum
Hng? Baru diomongin padahal?
Rahayu Wa’alaikumsalam
Renjun Boleh minta nomornya ketua kelas kamu, enggak?
Rahayu Buat apa?
Renjun Mau cek pendataan lomba
Rahayu [Sent Lucas number]
Renjun Makasih, hehe
Rahayu Yoo
Renjun Sibuk?
Rahayu Emm… lumayan
Renjun Ya udah, nanti lagi aja chat-nya Semangat hehe
Rahayu Makasih hehe
Renjun Sama-sama hehe
Rahayu Hehe
“Renjun anak OSIS?” tanyaku menoleh ke Suhyun, orang paling tahu Renjun setelah aku bilang dia tiba-tiba chat aku waktu itu.
“Bukan,” jawab Suhyun tampak tak acuh tapi melirikiku juga, “dia chat kamu?”
“Hmm,” gumamku mengangguk sambil menyimpan ponsel di atas meja belajar. Suhyun dengan semangat meraih ponselku dan membacanya dengan antusias, kemudian menyenggolku berkali-kali untuk menggoda.
Udah biasa tapi tetep ngeselin.
“Tapi kenapa dia minta data kelas kita, ya?” tanyaku heran.
“Mana kutahu, tanya aja!” Suhyun memberi saran yang enggak aku setujui, aku rebut ponselku karena takutnya dia iseng bajakin. Kemudian menjitaknya yang terus memaksaku menghubungi Renjun. “Kenapa, sih? Renjun tuh ganteng, Yu! Jangan disia-siain, udah jadian aja!”
Gini nih, Suhyun tuh luarnya aja kayak swag dan galak. Aslinya bikin aku dongkol mulu apalagi kalau udah bahas soal Renjun.
“Jadian jadian, chat doang apanya yang jadian?” tanyaku sewot.
“Ck! Enggak asik!”
Aku berhenti sejenak mengerjakan laporan, memikirkan perkataan Suhyun dalam diam dengan dada yang perlahan mulai berdebar. Enggak. Maksudku … oke akui dia ganteng jadi kayaknya wajar agak degdegan.
Ugh, apa sih?! Lupakan!
“Ngaco beneran kalau sampai aku terpengaruh omongan Suhyun,” gumamku menghela napas sambil bergidik. Akhirnya kembali mengerjakan tugas sambil sesekali mengomeli Suhyun yang cuman tiduran aja.
Tapi emang bener, ‘kan? Renjun cuman chat aku dan isinya juga enggak ‘aneh-aneh’, mana ada tiba-tiba kita jadian. Please dehhhh…
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.