Seperti yang aku duga, kelasku kebanyakan orangnya belum pulang meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sebentar lagi panggungnya akan selesai, tadi kami sempat gladi bersih dan kata senior yang membantu, masih ada kekurangan di beberapa titik.
“Yu! Bagian sini belum!” teriak Yuqi menunjuk meja di backstage dengan ekspresi bingung. Aku yang semula sibuk mendata barang langsung berbalik dan menghampiri teman sekelasku, dia menunjukkan banyak make-up di sana. “Gue enggak paham ginian, tolong dong dicek.”
Aku yang notabenenya juga masuk tim rias segera mengecek dengan teliti.
“Pensil alis!” kataku membuat Yuqi mendongak dari lantai, dia sedang membereskan barang lain.
“Bukannya ada?”
“Yang ini tinggal dikit lagi, besok kita bakal bikin banyak kerutan jadi harus sedia satu,” kataku mencari seseorang yang bisa dimintai tolong. Kebetulan Mark baru saja melewatiku sambil membawa beberapa kardus kosong, “Mark! Free?”
“Why?” tanya Mark berhenti sebentar setelah menggeleng. Aku menggigit bibir bawah sambil berpikir, sebenarnya bingung kalau minta bantuan anak cewek yang tersisa di sini karena kebanyakan sudah pulang. Risiko rumah yang jauh dan sulit kendaraan, sore tadi aku jadi harus menanggung banyak tugas. Tapi anak cowok juga pada sibuk.
“Anter ke toko kosmetik yang deket alun-alun,” kataku ragu.
“Bentar, aku nyari orang yang bisa dimintai tolong ya,” katanya bergegas ke luar ruangan. Yuqi menghela napas di tempatnya, aku lantas menyerahkan botol minumanku yang tinggal sedikit lagi padanya karena kasihan.
“Makasihhhhh, heuheuuu capek banget!!!” keluhnya sambil menerima minumanku dan meneguknya hingga habis. “Ini bentar lagi kita pulang, ‘kan?”
“Iyaaa.”
Aku bergegas keluar dari backstage ketika Lucas mengatakan kalau aku dipanggil Mark di luar, aku berlari kecil ke arah lapang utama karena Mark ada di sana dengan seseorang. Lima langkah hampir mendekat, aku nyaris berbalik kalau saja mereka enggak sadar sama posisiku.
Helaan napas keluar begitu saja sambil aku berjalan lemas ke arah mereka, Mark dan Renjun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Capek?” tanya Mark sadar akan ekspresi dan helaan napasku barusan.
“Gitu deh,” jawabku enggak sepenuhnya membenarkan pertanyaan Mark, kemudian aku menaikkan alis sebagai bentuk tanya.
“Sama Renjun aja ke tokonya, aku benerin sound dulu sama si Hendery. Enggak apa-apa, ‘kan?” tanyanya membuatku meliriki Renjun yang menatapku dengan ekspresi datar. Aku enggak yakin kenapa, tapi tiba-tiba aja aku risi dan enggak mau deket-deket sama dia. “Kalau mau mending sekarang aja, biar anak cewek sisanya bisa langsung pada pulang.”