Berbeda dengan malam sebelumnya, malam ini aku dibuat sibuk dan tak punya waktu banyak untuk bersantai.
Aku sedang menyiapkan bahan-bahan makanan ketika Renjun menghubungiku, video call di waktu yang enggak tepat. Aku langsung mematikannya begitu deringan terus berbunyi dan Suhyun menegurku. PMS apa-apa emang jadi masalah.
Tapi Renjun bandel, dia tetap berkukuh menghubungiku hingga aku segera beranjak dan pergi ke ruang tengah di rumah Suhyun ini sambil memakai earphone. Aku sengaja duduk di sofa yang paling pojok, agar teman-temanku enggak tahu dengan siapa aku menelpon.
"Hai," katanya tengil.
"Salamnya mana?"
"Eh, iya ... Assalamu'alaikum," katanya yang kubalas dengan pelan, "kenapa baru diangkat coba?"
"Kalau kamu lupa, aku lagi di rumah Suhyun buat menyiapkan ujian Kewirausahaan besok. Aku lagi sibuk, lagian ngapain telepon-telepon?" keluhku kemudian mendengus jengkel, kurapatkan jaketku karena hari ini tumben-tumbenan suhunya agak dingin.
Renjun mengedikkan bahu sambil berkata, "Lupa."
Ini bocah, ya...
Mark datang dari luar dan melihatku yang langsung menatapnya bingung, dia bertanya kenapa aku enggak di dapur di saat jelas-jelas yang lain ada di sana. Aku hanya menunjukkan ponsel sebagai jawaban, dia akhirnya mengangguk setelah sebelumnya malah menghampiriku dulu.
Dia bilang, "Woi lagi sibuk!"
"Kaget woi!" sahut Renjun membuatku terkekeh sambil mengusir Mark untuk menyerahkan apa yang dibelinya tadi. "Mark nginep juga?"
"Iyalah, masaknya gimana kalau yang cowok enggak nginep? Numpang nama doang, dong," kataku sewot membuatnya bergumam pelan sambil mengangguk. Aku yang memang merasa enggak ada keperluan sama dia hanya diam, sesekali membenarkan rambutku dan menyisirnya pelan.
Renjun juga anehnya hanya diam, enggak jelas banget setelah sejak tadi gangguin aku kerja, bahkan dia sempat bersenandung beberapa kali dan kuakui suaranya cukup bagus.
Aku kedistrak juga, 'kan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Suara kamu boleh juga," pujiku membuatnya tertawa.
"Keseringan diajak nyanyi sama Haechan kalau lagi jamkos, jadi keasah," katanya membuatku mengangguk kagum.
Kubilang, "Bener-bener jago di seni, ya. Di olahraga jago enggak? Kok badannya segitu-gitu aja? Beda sama Jeno, kalah sama Jisung malah."
"Waduhhh, mendadak ngebanding-bandingin gini," katanya menegapkan posisi duduk dan meregangkan tubuh selagi ponselnya seperti sengaja ia sandarkan pada sesuatu.
Iseng, aku menunjuk tubuhnya dengan ujung dagu. "Bahu kamu kecil, olahraga yang bener sana."
"Hah, jangan gitu," sahutnya sewot sambil merapikan kaos yang dipakainya, "on the way nih lagi work out setiap libur."