29 : Renjun, Kamu Juga ... [THE END]

310 45 8
                                        

Dalam keheningan setelah Renjun memanggilku, sempat terlintas sebuah lirik lagu yang semalam aku dengarkan berulang-ulang dengan maksud ingin membuatku tidur lebih cepat. Tapi setelah dipikir sekarang, mungkinkah itu sebuah pertanda?

Saramdeulgwaui eokjiseureon hanmadibodan,

Neowaui eoksaekhan chimmugi charai joha.

Lirik lagu Blackpink dengan judul Stay yang artinya, ‘Daripada terlibat percakapan penuh semangat dengan orang lain, aku lebih suka merasa canggung dalam diam bersamamu’ menjadi gambaran perasaanku saat ini.

Aku enggak bohong, sebenarnya antara aku dan Renjun enggak pernah benar-benar layaknya berinteraksi antar teman. Keseringan canggung dan kakunya entah kenapa, padahal aku selalu berusaha buat membuka jalan agar semua suasana itu menghilang dari kami berdua.

Tapi kalau boleh jujur, aku suka dengan kecanggungan kita. Rasa mendebarkan dan menggelitik itu senantiasa menjahiliku yang menganggap suasana menjadi lebih berkesan.

“Jun?”

Pada akhirnya aku menyerah, kasihan juga pada Renjun yang tampak berpikir keras di tempatnya. Kerutan di keningnya dan gerakkan jari-jarinya membuatku tak kuasa dengan rasa penasaran yang kian detik kian membuncah.

Aku enggak sabar entah kenapa.

“Mau ngomong apa?” tanyaku begitu dia menatapku dengan ekspresi yang aku duga dia kontrol sebisa yang ia mampu. Aku menoleh kepada Mark dan Lucas di lapangan sana tengah berbicara dengan beberapa temanku, sepertinya bersiap dan mendiskusikan acara foto kelas yang akan kami lakukan seusai acara. “Aku bentar lagi mau foto kelas, loh.”

Alasanku menjadi dorongan untuk Renjun, dia tampak mengembuskan napas dan memberanikan berdiri di hadapanku yang sekarang sudah berdiri menyamping ke arahnya. Kugenggam bunga di tanganku dengan kuat, mencoba sebiasa mungkin di hadapannya.

“Ini bukan pernyataan aku yang pertama, soal aku suka sama Kak Ayu,” katanya membagi debaran yang aku yakini sangat kencang sekarang. Renjun menunduk sebentar dan mendongak sambil berkata, “mau jadi pacar aku, enggak?”

“Kenapa?” tanyaku, menyuarakan ragu yang tertinggal sedikit meskipun sudah yakin ingin menerimanya.

“Masih harus punya alasan buat suka sama Kakak? Aku juga enggak tahu kenapa bisa gitu,” jawabnya terselip rasa frustrasi. Namun bukannya mempertanyakan, aku malah merasa dia lucu dengan jawabannya.

“Bisa aja kamu masih suka sama aku karena cantik, padahal banyak banget yang lebih cantik daripada aku,” jawabku jujur.

“Iya gimana, 'kan emang Kak Ayu cantik,” sahutnya kebingungan, “duhhhhh, harus gimana lagi emangnya? Aku suka sama Kakak, aku juga bingung karena apa ya—pokoknya suka aja!”

Responsku sepertinya terlalu cepat, karena Renjun langsung menatapku tak percaya karena malah tertawa di tempat. Mungkin dia merasa dipermainkan, makanya dia langsung berkacak pinggang dan menghela napas dengan berlebihan.

“Kak, yang bener aja? Jadi gimana?” tanyanya dengan tangan yang kupergoki agak bergetar.

Oke, sepertinya aku harus berhenti di sini. Aku harus buru-buru menjawabnya karena teman-temanku di bawah sana juga mulai tampak berkumpul dan pergi dari sekolah.




Aku menatap Renjun dengan senyum yang tertahan, kemudian mengangguk dengan disusul kalimat, “Iya, mau.”

Renjun menggigit bibir bawahnya, raut senang tercetak sangatttt jelas di wajahnya. Belum saja ia bersuara—entah untuk menyampaikan apa, bisa saja selebrasi karena terlalu bahagia, aku memotongnya sambil menunjuk tepat di depan wajah Renjun.

“Jangan godain aku dengan nanya-nanya mau apa, ya?” Renjun tergelak, ia meraih telunjukku dan beralih mengenggam tanganku dengan erat sambil terus tersenyum lebar. Kebahagiannya menular, aku ikut tersenyum dengan malu sampai kemudian dia mencubit pipi kiriku dengan cukup keras.

“Cantik.”

Hari itu, aku memang belum benar-benar mengatakan bahwa aku menyukainya juga. Tapi dengan menerima ajakan Renjun untuk menjadi kekasihnya, aku yakin dia tahu perasaanku yang sebenarnya bagaimana. Tanpa mengatakan apa-apa lagi setelah dia memujiku cantik seperti biasa, kami turun ke lapangan dengan status baru di hari kelulusanku.

Setelah sebelumnya Renjun bilang, “Aku mau perjuangin Kakak karena aku yakin, sekalipun Kak Ayu menolakku kemarin-kemarin, Kakak enggak bener-bener mau melakukan itu. Iya, ‘kan?”

“Nyebelin.”

“Hehehehe.”

















Tawanya, pegangan tangannya, dan kalimatnya menjadi yang berkesan di acara wisudaku. Terima kasih, karena kamu udah mau yakinin aku dari ragu, dan masih mau menerimaku yang sempat mengganggap diri ini lebih cocok jadi kakakmu.


Terima kasih juga…,

… untuk celetukan bermakna pujianmu yang selalu membuatku memikirkanmu tanpa sadar di hari di mana kita awal bertemu.






























Renjun,





































Kamu juga ganteng, kok. Eheheheheheee♡

















































Cantik is officially ends

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cantik is officially ends.

CantikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang