Sehabis melakukan banyak hal dalam beberapa bulan ini, tiba waktunya aku mencari kebaya untuk wisuda nanti. Kak Dahyun—saudaraku dengan senang hati membantu meskipun kita harus jalan kaki mengelilingi alun-alun. Motornya sedang servis, sedangkan aku enggak bisa dan enggak dikasih motor sama keluarga.
“Yu, jajan dulu ih lapar,” katanya merengek padaku setelah selesai menunaikan salat magrib di masjid terdekat. Aku enggak bisa siang karena Kak Dahyun juga sibuk kuliah, sedangkan teman-temanku hampir semuanya sudah dapat kebaya.
“Mau jajan apa?” tanyaku membuatnya senyam-senyum, memang aku mentraktirnya karena sudah mau membantu.
“Roti bakar, Yu!”
Kami pergi ke tenda roti bakar di sekitaran masjid dan memesan, tapi kemudian Kak Dahyun memekik sambil bilang kalau jamnya tertinggal. Dia berlari begitu aku menyuruhnya segera bergegas, apalagi jam itu hadiah dari kekasihnya.
Sambil menunggu pesanan datang, aku duduk sendirian sambil menunduk membalas chat teman-teman. Hingga ada cowok duduk di sampingku sambil terus bergeser mendekat ke posisiku. Maklum saja, kursinya itu memanjang.
Aku menemukan dua orang asing yang tiba-tiba tersenyum begitu kami bertukar pandang, aku langsung mengalihkan tatapan dan bergeser menjauhi mereka. Tapi menyebalkannya, mereka malah seakan sengaja pelan-pelan mendekatiku lagi.
Belum lama dari situ, di sampingku yang lain ada orang yang mendudukkan dirinya. Aku mendengus karena jadi terjebak di antara tiga cowok yang enggak aku kenal.
Ck, apa minta jalan aja ya buat pergi dari kursi ini? Emm—
“Pak, itu pesanan saya ditulis di kertas ya,” katanya tampak terdengar familier di telingaku. Segera saja aku mendongak lagi dan menemukannya tengah berbicara kepada penjual roti bakar.
“Iya, Kak. Kayak biasa ya banyak terus,” sahut penjual roti sambil terkekeh, Renjun—si orang yang duduk di sebelah kiriku enggak menyahut dan masih dengan ekspresi seriusnya. Kemudian dia melihat ke posisi di mana dua cowok asing di sebelahku duduk, alih-alih melihatku dulu.
Oh, aku baru sadar akhirnya mereka berhenti mendekat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Mau pindah duduk, enggak?” tanyanya tanpa melihatku.
“Emm, enggak usah,” jawabku pelan. Suasana awkward ini membuatku enggak nyaman, apalagi tadi adalah percakapan pertama kami setelah sekian lama berhenti saling menghubungi. Aku mengetuk-ngetukkan sepatu dengan canggung, ingin membuka obrolan tapi enggak satupun topik pembicaraan mampir di kepalaku.
Sampai akhirnya Kak Dahyun kembali dan Renjun bangkit dari posisinya, dia duduk di kursi lain sambil memutar-mutar kunci motor.
“Alhamdulillah ketemu, btw Yu temenku ngasih tahu ada toko kebaya bagus dan bersahabat harganya di sekitar sini. Mau coba?” tanya Kak Dahyun sibuk dengan ponselnya selagi aku membagi fokus antara dia dan Renjun yang masih tak acuh di tempatnya.