Hari wisuda, Kak Taeil sengaja mengambil cuti dan mengantarku memakai mobilnya. Awalnya aku menolak karena … please deh ini ‘kan bukan wisuda S1 kenapa dia repot begini?
But still … Kak Taeil emang selalu suka mengabadikan momen yang ada di keluarga. Apalagi aku adik satu-satunya yang dia miliki, aku akui, Kak Taeil emang abangable banget dan aku bersyukur karena hal itu.
Aku sesekali mencuri-curi pandang ke padanya yang duduk sendirian di kursi, tempat di mana para orang tua seharusnya di sana. Kasihan juga sih, soalnya Mamah dan Papahku kerja dulu. Katanya bakalan setengah hari dan nyusul ke sekolah.
Kenapa bukan Kak Taeil aja yang jadi Bapakku, coba?
Eh, hus!
Aku bisa mendapati banyak pasang mata tertuju padanya, terlebih ibu-ibu. Mungkin mereka aneh atau bingung karena mengira dia udah menjadi orang tua, dan lagi anaknya udah mau lulus SMA.
#Kasihan_KakTaeil
Ketika datang ke sekolah, acara sebenarnya sudah dimulai jadi aku langsung mencari barisan kelasku dan duduk di sana dengan Suhyun tentunya. Aku bahkan enggak sempat keliling sekolah buat lihat ada apa aja, penasaran karena katanya adek kelasku dikasih tugas-tugas sama guru mereka. Entah ada yang buka bazar, buka stan foto dan lain-lain.
Begitu susunan acara dilaksanakan, aku sempat mengedarkan pandangan dan tersenyum tipis. Enggak kerasa tiga tahun mengenyam ilmu di sini, banyak banget kenangan yang pastinya enggak akan mudah dilupakan suatu hari nanti. Aku mungkin enggak begitu aktif mengikuti kegiatan di sekolah, tapi layaknya siswa biasa, aku menikmati waktu sebagai pelajar.
“Padus noh padus,” bisik Yerim menyenggolku. Lantas aku mendongak dan melihat para adek kelas dari paduan suara tengah bersiap menyanyikan lagu, bisa kulihat Haechan ada di barisan belakang namun presensinya begitu mencolok dan mengundang banyak perhatian.
“Terus gimana?” tanyaku bingung.
“Itu Renjun juga di sana,” lanjutya membuatku kembali menoleh ke panggung dan menemukan Renjun yang berdiri di paling ujung dengan gestur yang sedikit kebingungan. Aku lantas menyembunyikan tubuh karena takut dia melihatku, untungnya Lucas duduk di tepat di depanku dan menutupi posisiku, “ngapain ngumpet, Yu?”
“Eh? Enggak tahu, sih.”
“Ahelah, udah banyak yang tahu juga kalian lagi deket. Biasa aja lagian,” katanya membuatku melirik Suhyun yang mengedikkan bahu karena enggak tahu apa-apa. Dia bahkan melakukan pembelaan tanpa aku minta, katanya dia enggak ngegosip apa-apa.
Melihat Renjun membuatku mulai berpikir kalau hari ini adalah hari terakhir kami akan bertemu di sekolah, sebenarnya sih enggak seekstrem itu karena mungkin aja aku masih bolak-balik ke sekolah buat ngurus beberapa hal, tapi tetep aja ini adalah waktu yang membuatku ngerasa bahwa ini bakalan jadi yang terakhir.
Setelah ngobrol bareng Kak Dahyun, aku sebenernya mulai yakin buat nerima Renjun. Tapi seperti normalnya perempuan kebanyakan, aku gengsi dan bingung banget gimana buat narik Renjun yang sekarang kayak ngulur-ngulur gitu. Dia sama sekali enggak menunjukkan ketertarikannya padaku.
Kalau kata Mark, “Renjun kadang enggak bisa ditebak.”
Menurunkan gengsi, aku mencoba mengiriminya pesan begitu paduan suara selesai dengan penampilannya. Balasan Renjun akan aku jadikan alasan untuk keputusanku selanjutnya.
[Renjun katanya]
Rahayu
Di mana?
KAMU SEDANG MEMBACA
Cantik
FanfictionRenjun hanya memujinya cantik. Tapi itu menjadi awal mula kenapa Rahayu Deviana terus memikirkan Renjun dan celetukannya.
