07 : Milo Kaleng dan Lemon Tea Botol

368 60 4
                                        

PORSENI tiba, hiruk pikuk tampak di lapangan. Meskipun rame dan menyenangkan, enggak ngerti lagi kenapa mereka mau aja capek-capek di sana mana enggak jelas pula kerjaannya. Mending yang ikut lomba, ini yang cuman bikin story buat Instagram?

Baksu untuk siswa zaman jigeum, guys.

Aku menghela napas sambil menompang dagu di tembok pembatas, memperhatikan keramaian di bawah sana yang tak surut dari pagi hingga siang kini. Lemon tea botolku udah habis setengahnya, entah kenapa jadi haus terus meskipun enggak ikutan lomba apa-apa.

“Kenapa enggak ikutan lomba, Yu?” tanya Mark menarik kursi dari kelas dan mendudukkan diri di sampingku, ikut memperhatikan lapang. “Story telling kamu tuh bagus padahal mah.”

“Gimana, Mark?” tanyaku tersinggung, padahal jelas-jelas dia mengajukan diri untuk yang satu itu, ck. Mark terkekeh sambil mengambil kantung plastik yang sempat disimpan di lantai, menyerahkan Milo kaleng dingin padaku. “Udah punya.”

Take it.

Aku mengambil Milo itu dengan ragu, bahkan ketika sudah menunjukkan botol lemon tea, tapi dia hanya mengangguk bak orang konyol di mataku.

Your welcome,” katanya membuatku terkekeh.

“Tapi by the way tahu darimana aku enggak ikut lomba?” tanyaku bingung sambil menyimpan Milo itu di samping botol lemon tea.

“Renjun,” jawabnya membuatku sontak menoleh dengan kerutan di kening. Sesaat Mark kedapatan menahan senyum kemudian tiba-tiba tertawa tanpa aku tahu sebabnya. Ugh, ngeri tahu enggak? “hahaha. Kalem aja Yu, aku tahu kalian lagi ada apa.”

“Apa coba?” tanyaku mengetesnya dengan mata memicing. Mark menggaruk tengkuknya sambil mengedikkan bahu, sepertinya kurang yakin apa yang barusan dia katakan. “Sok tahu, sih!”

“Dia minta data ke si Lucas buat ngecek kamu ikutan lomba apa, mau nonton katanya. Eh tahunya malah diem di sini,” jelas Mark yang disahuti gumaman malas olehku selagi meminum Milo yang dia bawa. Mumpung masih dingin, beda dengan lemon tea milikku yang suhunya sudah biasa.

“Hm.”

“Makanya dia beliin itu buat nemenin kamu.”

Uhuk uhuk! Ha—hah?” Mark tergelak melihatku yang tersedak karena terkejut. Emang dasar bukannya menjelaskan lebih rinci malah tertawa lagi.

“Dah ah, aku turun dulu nih bentar lagi si Lucas ada tanding bareng Woojin. Kamu—ayo mending turun aja!” ajaknya menarik tanganku yang kutepis pelan sambil berkata bahwa aku sudah sempat mendukung Yoreum—teman sekelas kami lomba tari. “Seenggaknya dukung yang lain, kek.”

Mark pergi begitu aku berkukuh menggeleng, enggak lupa memaksanya menjelaskan soal minuman ini. Tapi kayaknya dia males jawab jadi lebih milih kabur. Akhirnya kusimpan Milo tadi dan memandanginya dengan sedikit takut.

Begini maksudku, Renjun dan aku enggak saling kenal. Tapi entah kenapa sejak dia mengenalkan diri di chat, Renjun malah intens banget baik-baik sama aku. Senyumlah, ngajak ngobrol jugalah, bahkan ngasih minuman. Seganteng apapun Renjun di mata cewek dan sekeren apa dia dikenal orang, aku tetep takut dengan situasi dadakan ini.

I mean … what the hell is going on?!

Aku enggak benar-benar ingin menghindarinya karena toh dia enggak macem-macem, cuman—ya tetep aja!

Aku normal!

Aku bisa baper tapi ya serem juga!

Dia tuh kenapa coba?!

CantikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang