22 : Semangat, Kak!

196 37 6
                                        

Aku lagi jalan sama Suhyun di lorong menuju masjid untuk ujian praktek agama, dia masih menggodaku perihal story yang aku bikin kemarin lusa. Katanya aku sama dia malah kayak orang yang udah pacaran. Emang ya, Renjun tuh nyebelin banget malah bikin story foto aku dan menyahuti statusku. Apalagi akunya ditag segala.

Pas belokan tangga setelah turun ke bawah, aku sempat berpapasan dengan Shuhua yang berekspresi datar ketika kami bertukar tatapan. Sebenarnya enggak benar-benar jutek, dia masih tersenyum tapi terkesan dipaksakan.

“Kamu kenal sama dia?” tanya Suhyun.

“Disebut kenal sih enggak, cuman dulu pernah ada kejadian lucu gitu sampai aku tahu dia dan begitupun sebaliknya,” kataku yang direspons dengan pertanyaan penasaran dari Suhyun, “jadi dulu waktu angkatan dia MOS, aku sama Yeri kebetulan ke sekolah. Ada ‘kan sesi tanda tangan gitu, dia sama temennya panik-panik enggak jelas nyamperin kami sambil memperkenalkan diri setelah nanya nama aku sama si Yeri. Padahal ‘kan bukan OSIS, Hyun. Aku kasih tahu deh beberapa anak OSIS yang waktu itu name tag mereka ditutupin, malahan sengaja pada enggak pake seragam. Jadi gituuu.”

“Ohh, jadi hambatan ya anaknya? Temen si Renjun 'kan itu?”

“Suhyun ah, apaan sih?”

Setelahnya kami mengambil wudhu dan masuk ke dalam masjid, temanku yang lain sibuk mempersiapkan mannequin untuk kami menyolatkan jenazah. Ada juga yang sibuk menyiapkan tempat supaya ujian bisa nyaman dilakukan.

Selagi aku bergumam untuk menghapal bacaan, aku melihat Renjun di saf depan, tengah duduk bersila dengan kepala yang menunduk. Iseng-iseng, aku memperhatikannya sambil menduga apa yang ia lakukan.

Ya, ibadah sih. Masa debus kayak yang dia bilang sebelumnya?

“Rahayu, sini!” panggil Yoojung sampai Renjun menoleh ke belakang dan kami bertatapan. Dia tersenyum dan mengepalkan tangannya ke udara, berkata tanpa suara untuk menyemangatiku.

“Semangat, Kak!”

Aku mengangguk kemudian menghampiri Yoojung dan mengetes bacaan masing-masing. Tanpa sadar, aku malah senyam-senyum begitu Yoojung serius menghapal bacaannya.

Bukan tanpa alasan, sih. Baru saja setelah Renjun memergokiku melihatnya, dia mengirimi pesan bahwa katanya semoga nilaiku bagus. Aku tanya dia sedang apa di masjid, katanya ada jam kosong dan dia menunaikan salat dhuha.

Aduh, salut nih.

“Heh, senyam-senyum mulu! Dengerin aku, enggak?” tanya Yoojung yang kuangguki gugup dengan cepat.

“Saking bagusnya aku jadi senyum, bangga gituloh Jung.”

“Halah.”

Aku terkekeh, mencoba mengumpulkan fokus yang semula agak tercerai berai karena Renjun.














Pemain:

Choi Yoojung from Weki Meki







Bonus:

Oke

Baik setelah melihatmu ㅠㅠ9

CantikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang