BF - 18

295 64 11
                                        

Sohyun tidak merubah isi naskahnya seperti apa yang Minah minta. Baginya, Minah tidak bisa menyuruhnya untuk merubah apa yang sudah ia tulis dengan benar. Namun di hari ketiga syuting, Sohyun terkejut karena Minah datang lebih dulu ke tempat syuting, dan membawa sebuah naskah yang baru.

"Kau merubah naskahnya, Minah?" tanya Taeil.

"Tentu saja."

Sohyun tertegun dari jauh saat mendengar perkataan Minah. Gadis itu kemudian dengan cepat berjalan menghampiri mereka dengan wajah yang marah.

"Kenapa kau mengubahnya?" tanya Sohyun tiba-tiba. Tentu saja orang-orang yang ada di sekitar sana terkejut karena Sohyun bicara dengan nada yang sangat marah.

Minah tersenyum tenang, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi, "Bukankah aku sudah bilang untuk merubahnya? Meskipun itu sudah bagus bagi yang lain, tapi bagiku itu masih kurang."

Tangan Sohyun terkepal saat mendengar apa yang Minah katakan. Lebih buruknya, Sohyun tidak bisa membantah ucapan gadis yang notabene masih atasannya itu.

"Ya sudah, jangan ribut lagi. Kita akan mengikuti naskah Minah," ujar Taeil. Pria itu bangkit dari duduknya dan berteriak kepada seluruh kru untuk mulai pengambilan adegan.

Minah pun bangkit dari duduknya, menghampiri Sohyun yang masih berdiri dengan tatapan marah. Gadis itu mendekati Sohyun kemudian berbisik perlahan.

"Kau takkan bisa menang melawanku ... karena aku adalah penulis utamanya. Tugasmu menulis seluruh cerita milikmu, dan aku akan mengubahnya sesuai yang kuinginkan. Bukankah lebih adil?"

Minah pun menjauh dari Sohyun, menikmati ekspresi kecewa gadis Kim itu, kemudian Minah melangkah pergi.

Pada akhirnya Sohyun selalu mengalah, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi Sohyun pekerjaan hari ini sungguh-sungguh buruk.

***

Udara di musim panas kali ini cukup panas. Banyak kru yang menggunakan pakaian pendek, begitu juga dengan aktris dan aktornya. Namun mereka terlihat ceria menjalankan proses pengambilan adegan walau suhu mungkin sudah mencapai tiga puluh lima derajat celcius.

Sohyun memutuskan untuk mencuci mukanya. Udara panas ini sangat tidak cocok dengan perasaan hatinya yang buruk. Yah. Sekali lagi Sohyun berusaha untuk bertahan. Ia tidak ingin menyerah begitu cepat. Tiba-tiba ia terkejut ketika mendengar sebuah panggilan untuknya.

"Kim Sohyun! Kenapa ada bagian naskah yang hilang?!"

Sohyun tergopoh-gopoh lari menuju Taeil yang menatap naskah baru yang dibuat Minah tadi.

"Ada apa, Sutradara Lee?" tanya Sohyun.

"Lihat ini!" seru Taeil sembari memberikan naskahnya, "kenapa bagian naskahnya hilang?"

Sontak Sohyun terkejut karena halaman tersebut kosong. Bagian itu adalah yang ditulis oleh Sohyun. Pikiran buruk akan Minah dengan cepat menyeruak di kepala gadis itu, karena ia yakin tidak ada bagian naskah yang kosong saat ia mencetaknya.

"I-ini ... aku sungguh sudah mencetaknya, Pak," kata Sohyun dengan wajah serius.

"Tapi kenapa ini hilang? Bagaimana kami melanjutkan proses pengambilan gambar hari ini?" tanya Taeil. Pria ini memiliki perubahan suasana yang cepat. Awalnya pria ini baik dan penuh pengertian. Namun jika ada satu kesalahan saja, ia akan marah kepada orang-orang di bawahnya. Berbeda jika ia memperlakukan orang-orang yang terkenal.

"Begini kau menjadi penulis?" ujar Minah dari belakang Sohyun. Gadis itu masih ada di sana.

Ingin rasanya Sohyun langsung melabrak Minah, namun ada sesuatu yang menahannya untuk melakukan hal itu.

Best Friend ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang