"Ah, melelahkan!" seru Irene sembari mendudukkan dirinya di lantai berbahan kayu itu. Keringat mengucur deras dari wajah cantiknya, sementara Sehun masih menggerakan tubuhnya mengikuti alunan musik. Beberapa saat kemudian, Sehun pun ikut berhenti dari gerakannya dan mendudukkan diri sedikit jauh dari Irene.
"Aku salut padamu, Sehun! Bagaimana bisa kau mengikuti gerakan Nami Coach yang susah itu?!" ujar Irene.
Sehun mendengus sembari tersenyum, "Aku melakukannya hanya dengan melihat, lalu aku mengingatnya."
Mata Irene membesar, "Hanya dengan melihatnya, kau bisa menghafal itu semua?!"
Sehun tersenyum dan menganggukkan kepalanya lagi. Baik Irene dan Sehun pun sama-sama tersenyum kali ini. Jika ada orang yang melihat mereka sekarang, mungkin akan berpikir kalau Sehun dan Irene memiliki hubungan khusus.
"Menurutku Nami Coach itu harusnya jadi idol," ujar Irene, "Dia cantik, dan juga berbakat."
"Yah, selama dia tidak menyebalkan, mungkin tidak akan masalah jika ia jadi idol," jawab Sehun. Irene mengernyitkan dahinya usai mendengar ucapan Sehun.
"Memangnya kenapa kau mengatakan Nami Coach menyebalkan?"
"Ah, tidak apa."
"Pasti rasanya sulit menjadi penari terbaik, tetapi usahamu tidak dihargai," ujar Irene. Senyuman Sehun pudar sejenak, dan matanya menerawang jauh ke arah lantai.
"Aku tidak merasa seperti itu. Aku masih banyak kekurangan dan terus melatihnya, sampai ia mau mengakui kemampuanku," ujar Sehun, "Aku bahkan ingin berhenti karena rasanya mulai menjenuhkan."
"Aku mengakuimu, Sehun," ujar Irene, membuat Sehun menggerakan netranya ke arah gadis itu, "Aku mengakui kau adalah penari terbaik di antara kami. Kau bisa mengembangkan gerakanmu mungkin lebih dari ini. Jadi tetaplah semangat."
Sehun tersenyum lembut kepada Irene. Jantungnya berdebar sedikit cepat, namun ia menikmati iramanya. Irene adalah gadis istimewa baginya, dan tidak bisa dipungkiri betapa ia menyukai gadis ini.
"Hei, aku harus pulang duluan," ujar Irene kemudian bangkit dari duduknya dan membereskan tasnya, "Terima kasih untuk latihannya hari ini!"
"Irene-ssi," panggil Sehun.
"Ya?"
"Kau mau latihan lagi bersamaku minggu depan?"
Irene terdiam sejenak dan berpikir, kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Boleh. Aku juga ingin latihan denganmu lagi, itu sangat menyenangkan!" jawab Irene diiringi tawa yang renyah, "Aku duluan, ya. Terima kasih hari ini!"
Sehun menganggukkan kepalanya, "Eoh, sama-sama. Hati-hati..."
Kepergian Irene dari ruang latihan menyisakan kebahagiaan kecil untuk Sehun. Ia mendudukkan dirinya lagi dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Menikmati keheningan di ruang latihan yang besar ini. Rasa lelah itu memang masih ada, namun sekarang ia punya tiga orang wanita yang berharga dalam hidupnya, yang membuatnya berpikir untuk bertahan lebih lama di industri musik ini; Ibunya, Sohyun, dan juga wanita yang benar-benar berhasil mencuri hatinya—Bae Irene.
***
"Aku menunggu naskah untuk episode pertama. Kau tahu? Kita diberi jadwal untuk menjalankan naskah sekaligus saat proses syuting dilaksanakan," ujar Minah.
"Baiklah. Aku akan segera memberikannya padamu," jawab Sohyun datar.
Minah tersenyum, "Well, aku salut padamu. Tidak kusangka kau akan melakukan naskah ini untukku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Best Friend ✔️
RomanceTentang kehidupan dua orang sahabat dari segala perbedaan yang ada. Mereka saling mendukung dan terkadang saling membenci. Tapi mereka yang paling kompak dan paling solid dalam segala hal. Itulah yang membuat mereka jadi sahabat baik dari masa sekol...
