Happy reading!
😁
Musim panas berlalu dengan cepat, beriring dengan datangnya musim gugur. Sohyun terbangun dari tidurnya dengan wajah yang lesu. Bukan hanya lesu, matanya juga bengkak karena menangis seharian. Bukan hanya karena pergantian penulis kedua saja, tapi ia juga dipecat dari pekerjaannya dari tempat penerbitan buku.
Lebih buruknya, pemecatan dirinya diterima hanya melalui surat. Sohyun sudah tahu akan terjadi seperti ini. Minah tidak main-main dengan ucapannya untuk menghancurkan dirinya. Meskipun ia berusaha menerima keadaan itu, tapi tetap saja, rasanya menyakitkan. Ia tidak tahu harus cerita pada siapa lagi.
Sehun?
Ayolah, gadis itu tidak ingin membuat beban hidup sahabatnya bertambah. Pria itu kemarin hanya diam mendengarkannya menangis selama setengah jam di tangga darurat Gedung NBS.
Ia merasa akan menjadi sahabat yang buruk jika ia membebankan masalahnya juga kepada Sehun.
Sohyun tertegun ketika ia mendengar suara pintu apartemennya terbuka. Sontak gadis itu bangkit dari posisinya dan membuka pintu kamarnya, dan dilihatnya Seojun datang dengan membawa bahan makanan untuknya.
"Aigoo ... kau baru bangun?!" seru Seojun terkejut ketika melihat Sohyun dengan baju tidur dan rambut yang berantakan. Namun wajah pria itu berubah tiba-tiba ketika melihat wajah sembab adiknya.
"Yaa ... Kim Sohyun, ada apa denganmu?!" kata Seojun dengan cepat meletakkan bahan makanan di atas meja dapur dan berjalan cepat mendekati Sohyun.
"Oppa..." lirih Sohyun menahan tangisnya, tapi pada akhirnya gadis itu menangis lagi.
"Astaga, kau kenapa, eoh? Ayo, cerita padaku," kata Seojun.
Pria itu mengajak Sohyun untuk duduk, dan gadis itu akhirnya menceritakan permasalahannya kepada Seojun, mulai dari diberhentikannya jadi penulis kedua drama The Chaser, sampai akhirnya ia juga diberhentikan secara sepihak—dengan cara yang tidak baik pula—oleh tempatnya bekerja di penerbit buku.
Seojun tidak menunjukkan ekspresi yang banyak. Ia hanya lebih banyak diam mendengarkan, dan menganggukkan kepalanya. Pria itu juga sesekali mengusap pundak adiknya ketika Sohyun terbata-bata untuk bercerita karena masih merasa sangat sedih.
"Jadi," kata Seojun ketika Sohyun menyudahi ceritanya, "apa yang selanjutnya akan kau lakukan?"
Sohyun mengusap wajahnya yang basah lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Oppa," jawab Sohyun, "aku merasa karirku sudah hancur sekarang," ucap Sohyun.
Seojun menghela nafas berat dan menyandarkan tubuhnya ke sofa besar yang menjadi tempat duduk mereka sekarang.
"Aku tahu, masalahmu sangat sulit, Sohyun. Aku pun bahkan tidak bisa memberikan solusi yang baik untuk permasalahannya sekarang," kata Seojun, "tapi percayalah, pasti ada sebuah pelajaran yang bisa kau ambil dari masalah ini. Aku harap juga kau tidak pantang menyerah."
Sohyun mengusap wajahnya yang basah untuk kesekian kalinya dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Oppa," jawab Sohyun dengan suara serak.
Terdengar bel rumah sekarang berbunyi. Dengan langkah lesu, Sohyun bangkit dari duduknya dan membukanya. Sontak ia terkejut ketika melihat Yeonseok, Jiwon, dan juga Jeonu datang ke apartemennya.
"Oh, Yeonseok Oppa, Jiwon Eonnie," sapa Sohyun terkejut.
"Oh, Yeonseok! Sudah lama tidak bertemu!" ujar Seojun yang ikut berdiri menyambut keluarga itu datang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Best Friend ✔️
RomantizmTentang kehidupan dua orang sahabat dari segala perbedaan yang ada. Mereka saling mendukung dan terkadang saling membenci. Tapi mereka yang paling kompak dan paling solid dalam segala hal. Itulah yang membuat mereka jadi sahabat baik dari masa sekol...