Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

BF - 16

297 58 10
                                        

Pernahkah kalian terjebak dalam situasi yang membuatmu mengalami dilema? Seperti itulah yang dialami Sehun sekarang.

Well, seharusnya hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya. Penampilannya lancar, usahanya terbayar dengan hasil yang memuaskan. Dan kini, seorang gadis yang tengah ia sukai, menyatakan perasaannya kepadanya. Ia juga menyesal karena malah Irene lebih dulu yang mengungkapkan perasaannya kepada Sehun.

Tapi yang terjadi adalah, Sehun tidak merasa fokus dengan situasi sekarang. Terutama bayang-bayang Sohyun menghantuinya. Ia takut ada apa-apa dengan sahabatnya itu karena tiba-tiba Sohyun menghilang.

"Irene, maaf ... aku—"

"Tidak apa, Sehun," jawab Irene. Sehun tahu ada rasa kecewa yang tertinggal pada senyum Irene, "aku tahu mungkin kau takkan menerimaku, atau kau tidak bisa menjawabnya. Aku tahu ini terjadi tiba-tiba, dan tentu ini mengejutkanmu. Tapi aku hanya ingin mengungkapkannya. Dan aku harap, kau mau menjawabku, walau aku tahu hasilnya akan mengecewakan."

Sehun merasa hatinya dihantam ribuan bantu besar saat itu juga, dan ia merasa menjadi orang yang paling bodoh sekarang.

Hei! Irene sedang mengutarakan perasaannya, tapi Sehun dengan teganya bicara seperti itu?!

Tahu kah betapa besar harga diri yang harus seorang gadis pertaruhkan ketika mengutarakan perasaan pada seorang pria yang ia sukai?

"Ayo, kita kembali. Mereka nanti akan mencari kita," ucap Irene kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan Sehun. Pria itu menggeram dengan tertahan karena kebodohannya sendiri. Ia benar-benar tidak bisa lepas dari bayang-bayang Sohyun yang akhirnya membuat Sehun bicara seperti itu. Kesannya, Sehun jadi merasa tidak nyaman atas ungkapan Irene kepadanya.

"Aish! Dasar bodoh! Aku harus bagaimana?!" seru Sehun pada dirinya sendiri. Pulang ini, ia berencana mencari Sohyun di rumahnya, apapun yang terjadi.

***

Malam ini, mungkin adalah malam yang cukup buruk untuk Sohyun. Seharusnya sekarang ia menemui Sehun untuk sekedar mengucapkan selamat kepada pria itu, atau memberikan hadiah kepadanya. Ya, Sohyun sudah menyiapkan sebuah hadiah kecil untuk Sehun—sebuah gantungan kunci. Namun ia tidak jadi memberikannya dan langsung pulang lebih dulu, bahkan sebelum acara berakhir. Ia memutuskan untuk pulang setelah melihat penampilan solo dari Sehun.

Usai mandi, Sohyun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menyalakan AC dengan suhu yang rendah, dan membenamkan tubuhnya di bawah selimut. Matanya bengkak, dan ia merasa lelah sekali hari ini. Ditambah juga ia merasa buruk karena tidak tahu harus cerita pada siapa.

Tidak ada yang bisa ia salahkan di sini, Sohyun tahu itu. Ia tidak bisa menyalahkan Yoongi yang sempat beragumen dengannya dalam konteks kecil, dan Sohyun tidak bisa menyalahkan Sehun atas pencapaian yang berhasil pria itu dapatkan.

Ia memilih diam, dan membuat perasaan itu melukai hatinya.

Handphone milik Sohyun bergetar lagi. Gadis itu hanya membiarkannya dalam mode getar, dan meletakkannya di atas nakas di dekat tempat tidurnya. Ia tahu itu pasti Sehun, dan gadis itu ingin menghindari sahabatnya, hanya untuk beberapa hari saja.

Sohyun lamat-lamat memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Rasa lelah dan nyaman di tempat tidurnya, membuat gadis itu mungkin akan ke dunia mimpi sebentar lagi. Namun suara bel rumah yang berbunyi dengan cepat membatalkan niat gadis itu.

Belum sempat Sohyun turun dari tempat tidurnya, terdengar suara pintu apartemennya di buka, membuat Sohyun terkejut bukan kepalang. Karena ia tahu, yang bisa mengakses rumahnya selain keluarganya adalah—

Best Friend ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang