BF - 23

375 74 10
                                        

Sehun menghela nafasnya ketika melihat naskah yang ada di tangannya. Sekarang ia sudah berada di dorm-nya lagi setelah pulang tadi pagi dari rumah Sohyun. Naskah dengan judul yang sama dengan karya Minah sebelumnya membuat Sehun heran. Kenapa naskah ini ada di rumah Sohyun merupakan pertanyaan pertama yang muncul di benak Sehun.

Dengan sigap ia membuka halaman demi halaman naskah tersebut, sembari mengingat bagian drama yang pernah tayang di televisi itu. Ah, dramanya belum lama berakhir, sehingga Sehun masih ingat seperti apa adegannya karena ia juga menonton drama itu.

Pria itu memperhatikan setiap kalimat perkalimat percakapan yang ada di naskah. Secara keseluruhan, naskahnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di televisi. Ia berpikir bahwa mungkin Sohyun ingin belajar bagaimana cara menulis naskah yang baik saat itu dengan bantuan naskah dari Minah. Namun ketika netranya berhenti pada halaman ke dua puluh empat, matanya menajam pada satu buah bait paragraf.

Park Hyungsik menarik tangan Hwani. Pria itu mengajaknya untuk pergi ke sebuah taman air yang besar. Ketika langit malam begitu indah, Hwani merasakan jari jemarinya digenggam erat. Hyungsik berkata padanya, bahwa hiduplah sesuai yang kau inginkan. Hidupmu adalah dirimu, dan dirimu adalah hidupmu. Lakukanlah semua yang kau inginkan tanpa perlu ada yang kau takutkan.

Obsidian milik Sehun bergerak ke sisi kanan bawah, mencoba mengingat sesuatu dari kalimat pada paragraf ini. Sangat tak asing baginya, namun ia tahu di dalam dramanya, kalimat tersebut diganti dengan kalimat yang lain.

"Ah..." gumam Sehun dengan matanya yang membesar. Ia ingat sekarang. Sohyun pernah berkata padanya tentang naskah ini. Gadis itu bilang, bagian ini adalah bagian favorit dari naskah yang sedang ia buat.

"Tunggu..." kata Sehun dengan kening berkerut, "ia pernah bilang padaku kalau ini bagian kesukaannya dalam naskah yang ia buat. Maksudnya apa?"

Bermacam spekulasi mulai bertengger di kepala Sehun. Ia membaca kembali naskah itu, kemudian mulai membandingkannya dengan naskah drama The Chaser. Dan detik berikutnya, Sehun merinding ketika menyadari terdapat banyak kesamaan gaya menulis antara naskah Dear My Love, dengan The Chaser—yang Sehun tahu ada campur tangan Sohyun dalam menulisnya.

Kalimat bahasa, tanda baca, dan segala aspek kepenulisan lainnya, naskah ini memiliki banyak kesamaan. Berbeda dengan naskah yang ditulis Minah. Gaya bahasanya berbeda, terkesan nyaris tak ada nilai estetikanya, dan terlalu buru-buru untuk sebuah naskah drama.

"Mungkinkah naskah drama Dear My Love selama ini ditulis oleh Sohyun dan bukan Minah?" gumam Sehun pada dirinya sendiri.

Tapi bukan Sehun namanya jika ia mengambil sebuah kesimpulan tanpa sebuah latar belakang dan analisa yang benar. Ia pun memutuskan untuk membereskan tasnya, dan berniat untuk menemui Minah di kantor penerbit hari ini.

***

Kantor penerbit tempat Sohyun bekerja sebelumnya masih terasa sama. Namun tidak adanya sosok sahabatnya di tempat ini membuat suasananya tampak berbeda. Ia mendapatkan informasi bahwa Minah hari ini berada di kantor penerbit untuk menemui atasan penerbit, Park Chanyeol.

Pria itu cukup jadi sorotan karena menggunakan pakaian santai, tanpa penutup identitas sama sekali seperti topi, masker atau apapun. Gadis-gadis yang ada di kantor itu pun hampir berniat untuk mendekati Sehun untuk diajak berbicara. Namun karena pengawasan dari Junmyeon yang turut menemaninya hari itu, maka tidak ada yang berani mendekati, sekedar hanya mengambil gambar saja.

"Oh Sehun?"

'Yang dicari muncul juga,' gumam Sehun dalam hati.

"Halo," sapa Sehun dan juga Junmyeon sembari membungkukkan tubuhnya sedikit.

Best Friend ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang